17. Cook and Shock

286 36 7
                                        

Alan menapaki halaman rumahnya. Saat akan memegang handle pintu, hidungnya menangkap aroma masakan. Bukan hal baru jika ada wangi makanan yang membuat perutnya berbunyi seketika. Masalahnya, di petang seperti ini tidak ada pembantu yang biasa memasak.

Baunya menyeruak saat Alan masuk ke ballroom depan. Sepertinya memang ada masakan yang tengah dihidangkan. Alan langsung mengenali bau yang khas, mengingatkannya pada masakan istimewa yang selalu disiapkan seorang wanita untuk bekal makan siang saat dirinya kecil dulu.

Bayangan wanita bertubuh langsing sedang berada di dapur seketika terlintas di pikirannya. Alan begitu bersemangat berlari ke arah dapur. Dia tersenyum dan mempercepat langkah, bahkan lupa membuka sepatu.

"Mama?" teriaknya menggema memenuhi dapur sesaat setelah Alan masuk ke dalam.

"Mama kapan pulang?" teriaknya dengan senyum mengembang.

Seketika, senyum Alan menghilang saat melihat pria dengan apron bunga tengah berdiri di dekat kompor. Dengan wajah datar yang terkesan dingin, sang kepala sekolah membalik badannya dan kembali larut dalam kesibukan memasak.

Sebenarnya Alan bisa saja tertawa ngakak saat ini melihat kelakuan ayahnya, tapi harapan yang baru saja hancur menghalangi tawa itu keluar.

"Papa panggil aku untuk lihat adegan chef?" tanya Alan sembari duduk di meja makan.

Tidak ada sahutan dari lawan bicara Alan. Pria itu masih sibuk menggoreng ikan, lalu mengaduk sup di kompor sebelahnya. Ketika fokus mengaduk dan mencicipi masakan, dia lupa membalik ikan. Dengan tergopoh, tangannya menggeser ke arah penggorengan tadi dan tak sengaja menjatuhkan nampan berisi bawang dan cabai. Seketika itu juga dia mengumpat sambil mengangkat ikan yang sudah hitam menyaingi warna kulitnya, dan meletakkan dalam mangkuk. Hampir saja terjatuh.

Alan menahan tawa melihat pemandangan langka di depannya. Usai meletakkan asal tasnya ke lantai, dia langsung meraih apron biru yang tersampir di sebelah kulkas dan begabung dengan keseruan ayahnya sebagai chef dadakan. Dia mengambil alih sup. Dengan gaya berlebihan, Alan menabur garam ke atas sup, lalu menambahkan sedikit penyedap rasa. Kemudian langsung dia cicipi saat itu juga dengan sendok kecil. Ekpresinya mendadak jadi aneh. Sementara sang ayah dengan raut wajah seolah bertanya. Alan hanya berdeham dan mengeluarkan jempolnya.

🍀🍀🍀

Sepuluh menit berlalu, makanan yang ayah-anak itu masak sudah tersaji di depan meja makan. Dengan nada malas, Alan menaruh nasi dan sup.

"Papa panggil aku pulang untuk makan bersama? Tumben sekali?"

Ayah Alan menatap putranya datar. "Nggak boleh?"

Alan tidak menjawab. Dia memaksakan diri memakan sup asin itu. "Papa sudah bisa pensiun jadi kepala sekolah dan buka restoran. Ini sangat enak," kata Alan dengan nada mencibir yang jelas terdengar menghina.

Ayah Alan berdecak. Usai sesuap nasi masuk ke mulutnya, dia segera minum air banyak-banyak. "Kamu kangen Mama?"

Alan berhenti mengunyah nasi. Air mata lolos membasahi pipi. Segera dihapusnya dan melanjutkan makan nasi banyak-banyak.

"Pa?"

Ayah Alan mengerutkan kening. "Hem?"

"Ini sangat asin."

Ayah Alan tersenyum. "Kenapa terus memakannya kalau tahu asin?"

Alan tersenyum kecil menatap ayahnya. "Kasian kalau dikasih kucing. Nanti dia mati. Antibodi Alan, kan, lebih kuat."

Hening. Hanya suara sendok beradu yang terdengar.

"Pa?"

Ayah Alan mengangkat wajah dan menyandarkan badan usai menghabiskan nasi terakhir di piringnya.

Secret Clover [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang