34. Kamu akan ninggalin aku?

139 18 1
                                        

"Najis." Ana berjalan lebih dulu menuju ke bagian belakang sekolah, dekat gedung tempat mereka dulu terkurung.

"Kok ke sana, Na?" goda Vano. "Kelas lo ke arah sebaliknya, loh."

"Nggak usah berisik, Van!" geram Ana, yang akhirnya memutuskan membolos hari itu.

Vano tertawa. "Biar gimana pun, gue ini kakak kelas lo, Na. Sekali-sekali sopan dikit, napa."

Ana diam tak menanggapi ucapan mulut Vano yang terus menyerucus tak jelas. Sekarang ini di pikirannya dipenuhi tentang Alan.

🍀🍀🍀

Reina menatap bangku Ana yang hanya berisi tas gadis itu. Sejak pelajaran pertama, Ana menghilang hanya dengan sebuah pesan berisi 'aku dan Vano ada urusan mendadak, tolong bawakan pulang tasku, ya, Rein' dan pesan itu sukses membuat Reina badmood sepanjang hari itu. Urusan penting apa yang tidak mereka bicarakan dengannya? Apa urusannya hanya berdua saja?

Sepulang sekolah, Reina langsung membereskan buku-bukunya untuk dimasukkan dalam tas, gadis itu terlihat buru-buru untuk keluar dari kelas sambil membawa tas Ana. Tiba-tiba datang segerombolan anak gadis menghampiri mejanya, tepat sebelum ia berdiri dari kursinya.

"Eh Rein, bukannya elo itu deket sama Vano, tapi kenapa dia tadi malah narik tangan Ana? Jangan-jangan Vano juga suka sama Ana?" ucap gadis berkepang dua seakan mengejek.

"Iya ya, atau jangan-jangan, Vano berpaling dan lebih milih Ana. Oh iya, elo sama Ana sahabatan, kan? Wah bakal hancur dong persahabatan kalian nanti gara-gara cowok? hahaha..." sambung gadis di sebelahnya ikut menyulut.

"Malah mereka nggak balik lagi setelah tadi pagi. Uhuyy romantis banget sih bolos berdua..."

"Eh, eh, Ana, kan anaknya rajin ya, tapi demi Vano dia rela bolos. Uhh, sweet banget..."

Awalnya Reina diam tak menanggapi ucapan mereka, meski sebenarnya gadis itu sangat risih dengan anak lain yang juga berbisik sambil melihatnya. Memangnya apa hubungannya dengan mereka kalaupun dirinya dekat atau tidak dengan Vano?

"Kalau dipikir-pikir sih, Vano juga bener kok kalau milih Ana. Siapa sih yang nggak suka sama Ana, selain cantik, dia juga pinter."

"Ramah, lagi," timpal yang lain

"Eh, tapi, kan Ana deket sama Alan? Lo nggk tau ya, kejadian di lapangan basket kemarin?"

"Duh, ternyata Ana mainnya sama dua cowok, gila kali tuh cewek, dua cowok digebet, lo yang sabar ya Rein!" Ucapan gadis-gadis itu layaknya bumerang yang dipukul ke wajahnya sekali tebas. Satu waktu mereka memuji Ana, di lain waktu menghinanya. Di satu waktu menjelekkan Reina, di waktu lain sok bersimpati. Manusia memang begitu.

Reina berusaha menahan amarah mendengar ucapan mereka, apalagi membicarakan soal kedua sahabatnya.

"Rein, apa lo nggak kesel waktu Vano narik Ana tadi di kelas? Duh so sweet banget sumpah!" suara gelak tawa dari kedua gadis itu membuat suasana hati Reina semakin tersulut.

Tak ambil pikir, gadis itu langsung menenteng tasnya dan berjalan dengan cepat keluar dari kelas sebelum ucapan gadis lain bermunculan. Reina berjalan terburu-buru di sepanjang koridor kelas sambil dengan posisi menunduk tanpa memandang ke arah depan, ia bahkan tak segan menabrak siapapun yang dilewatinya.

"Hati-hati dong kalau jalan!" kesal orang yang tak sengaja ia tabrak.

Reina terus berjalan, bukan untuk pulang ke rumahnya, tapi ke alamat yang ada di kartu nama. Ia bahkan melupakan tas Ana yang masih tertinggal di kelas.

🍀🍀🍀

Hari itu, Reina memutuskan untuk mencari alamat yang tertera di kartu nama itu. Sendiri tanpa ada yang melindungi. Kalaupun ia nanti celaka, masa bodoh untuk semua itu—yang terpenting sekarang, ia harus menemukan kebenaran tentang kakaknya.

Secret Clover [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang