8

1.7K 214 6
                                        

Paginya Wendy terbangun dengan keadaan tertidur di atas ranjang. Gadis itu beberapa kali mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya sinar matahari yang samar samar masuk melalui sela gorden kamar. Mata Wendy melebar saat menangkap sosok tak asing di sebelahnya. Dengan cepat Wendy menyibakkan selimut dari tubuhnya yang entah sejak kapan sudah berada di atas ranjang bersama dengan selimut tebal yang menutupinya. Gadis itu menghela napas lega saat apa yang ada dipikirannya sama sekali tidak terjadi.

Syukurlah

Wendy melirik Chanyeol. Menatap pria itu yang masih terpejam. Tubuh pria itu terlentang jadi Wendy dapat melihat dengan jelas wajah polos Chanyeol. Sangat polos. Pria itu terlihat seperti bayi mungil yang terlelap dengan pulas. Wendy menggeleng cepat, apa yang ia pikirkan. Dengan cepat Wendy turun dari ranjang mengucir rambutnya asal dan berjalan dengan cepat keluar dari kamar.

Membuat sarapan pagi adalah kegiatan pertama wendy di pagi ini. Setidaknya wendy masih memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Wendy membuka kulkas, mendapati beberapa bahan makanan yang tinggal sedikit. Hanya terdapat beberapa Ramyun praktis dan susu segar juga beberapa potongan roti dan sebotol Soju? Entahlah Wendy tidak ingin tau apa yang diminum Chanyeol.

Gadis itu menggeleng kecil, Manarik napas pelan dan meraih beberapa potongan roti dan juga sebotol susu di dalam kulkas. Setidaknya masih ada makanan untuk sarapan pagi ini. Menyajikan beberapa potongan roti dan menuangkan susu untuk Chanyeol. Siapa tau pria itu kelaparan saat bangun tidur nanti. Wendy tentu saja tidak ingin mengurus Chanyeol jika nanti pria itu pingsan karena kelaparan.

Wendy memakan sarapannya dengan tenang, tidak ada sosok Chanyeol yang sering mengusiknya akhir akhir ini membuat Wendy merasa tenang, Chanyeol tidur dan itu cukup untuk pagi ini. Wendy pikir ia harus kepasar setelah sarapan, tidak mungkin bukan jika nanti siang mereka akan memakan Ramyun untuk makan siang, itu sangat tidak baik untuk kesehatan.

***

Chanyeol mengerutkan keningnya mengerang kecil di atas ranjang. Cahaya matahari yang masuk melalui sela sela jendela begitu mengganggunya. Pria itu mengerjapkan matanya berkali-kali menyesuaikan cahaya sinar matahari yang sengaja membangunkannya pagi ini.

Chanyeol menoleh ke samping. Rasanya ada yang ia lupakan, tapi apa itu Chanyeol sendiri tidak tahu. Chanyeol menggeleng sepertinya hanya perasaanya saja. Pria itu kembali menarik selimutnya menutup seluruh tubuh bahkan menenggelamkan tubuhnya di dalam kehangatan selimut tebal itu.

Tidak sampai 15 menit, pria itu sontak terbangun dengan mata membulat 'Son Wendy!' satu nama itu yang tiba-tiba terlintas di otak Chanyeol.

Chanyeol lupa kemarin ia baru saja melangsungkan pernikahan mereka, ya pernikahannya dengan Wendy. Chanyeol menoleh ke samping, menelusuri setiap sudut kamar mencari sosok gadis Son itu. Sayangnya bahkan tanda tanda kehidupan Wendy di kamar tidak ada. Jangan jangan gadis itu kabur karena tidak ingin menikah dengannya. Pikir Chanyeol. Chanyeol tidak ingin menjadi dude di hari pernikahan pertamanya sungguh. Dengan cepat pria itu menyibak selimutnya dan berlari keluar kamar. Mencari sosok Wendy di seluruh sudut rumah.

Mata Chanyeol kemudian tertarik pada sebuah kertas note yang di tempelkan di kulkas. Sudut bibir pria itu terangkat tanpa sadar saat matanya membaca satu persatu kalimat yang di tempelkan di kulkas.

Aku pergi ke pasar. Makanan di kulkasmu memang tidak ada yang bergizi yang benar saja. Aku sudah menyiapkan sarapan di meja, setidaknya untuk mengatasi kelaparan. Ah dan satu lagi, aku benar benar benci bau alkohol jadi bisakah kau membuangnya itu sangat menggangu sungguh.

Wendy

Entah mengapa tapi membaca surat kecil itu membuat Chanyeol terkekeh kecil. Chanyeol lalu melirik meja makan yang tidak jauh dari tempatnya berpijak. Dan benar apa yang dikatakan Wendy, segelas susu dan beberapa potongan roti panggang sudah tersaji di atas meja. Chanyeol melangkah mendekat, mendudukkan tubuhnya di atas kursi  dan meraih sepotong roti mengunyahnya pelan. Tidak buruk.

Stay With MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang