Part 15 (Sunset)

537 40 8
                                        

Selayaknya matahari terbenam 

Kisah indah itu hanya sekejap mata

Mungkin langit pun tak ingin membuat aku bahagia 

Karena ia menyegerakan malam untukku

-Alyssa-


Pagi itu , setelah Alyssa meninggalkan apartement Sivia, saat matahari mulai meninggi , dan burung gereja mulai ramai , saat penghuni apartement tetangga Sivia memulai aktivitasnya seperti biasa. Begitupun dengan Sivia , gadis berpipi tembam itupun melangkah pergi meninggalkan apartementnya , berjalan melalui lorong apartement yang mulai ramai , beberapa dari mereka menyapa gadis itu yang tentu saja dibalas dengan senyuman hangat dan sapaan yang tak kalah ramah , oh rasanya cukup baik untuk mendapat aura positif hari ini.

Langkah kaki Sivia tertuju pada sebuah supermarket yang tak jauh dari gedung apartemen yang ia tempati , mungkin membeli beberapa pasokan makanan dan minuman yang mulai habis didalam kulkasnya, senyuman hangat terus mengembang dari bibirnya , seakan hari ini adalah waktu yang membahagiakan , yaa ia tak salah tentang menyambut hari dengan bahagia , karena nyatanya matahari mendukungnya dengan penuh , hari ini nampak sangat cerah dengan langit biru berhias serabutan awan putih bersih seperti kapas yang rapuh, tak ada sedikitpun awan abu tanda hujan akan turun.

"Marilah kita mensyukuri semua berkat Tuhan hidup ini
Kita bahagia kita bahagia
Bersama hangatnya mentari nikmati dan lukiskan memori
Kita bahagia kita bahagia
Ba ha gia iya
Ba ha gia iyaiya
Ba ha gia hoyee"

Beberapa bait dari lagu Bahagia-GAC terdengar merdu dari  bibir Sivia ,  gadis ini rupanya tengah mendengarkan lagu dari ponselnya melalui headset yang terpasang pada kedua telinganya , oh sungguh pengawalan hari yang baik dari Sivia . Jangan lupakan troli yang ia dorong untuk menampung bahan makanan yang terdaftar pada kertas putih yang ia genggam. Beberapa orang yang berlalu lalang seketika tersenyum melihat kelakuan Sivia ,dan sungguh Sivia tak peduli pada mereka.

"Buah sudah , telur , daging ayam , tuna kaleng , cream soup , silky pudding , hot cocoa, jasmine tea , creamer , minuman segar , camilan sudah , alat mandi , pengharum ruangan , yaps sudah semuaaa" Tutur Sivia sembari menyocokkan belanjaan yang barusaja ia ambil dan daftar kebutuhan yang ia tulis.

"Yay , Good job sivia" Seru Sivia pada dirinya sendiri , memuji diri sendiri bukan sebuah dosa kan ? ia hanya mengapresiasi kemampuan dirinya dalam menghabiskan uang bulanannya.

Sivia pun mendorong troli berisikan belanjaan tersebut menuju casher dengan antrian paling sedikit , oh siapakah yang bertahan dengan antrian yang panjang ?

"Hai Sivia , kau belanja sendiri?" Tanya penjaga kasir yang terbaca namanya Ami pada saku sebelah kirinya.

"Ya , tentu saja , memang aku harus pergi dengan siapa ?" Balas Sivia seraya menyimpan belanjaannya kehadapan Ami. Sepertinya keduanya saling mengenal.


"Kemana pemuda berkulit putih dengan mata sipit yang biasa menemanimu?" Tanya Ami sembari menghitung belanjaan Sivia.

"Oh , jonathan , dia sedang sibuk sepertinya " Jawab Sivia yang ditutup dengan senyuman ramahnya . Yaa sudah terlalu sering mungkin Jonathan menemani Sivia , sampai beberapa orang akan merasa janggal pada ketidakhadiran Jonathan disisi gadis itu , memang tidak jarang bahkan setiap belanja Sivia selalu ditemani Jonathan , entah pemuda oriental itu yang menawarkan diri atau Sivia yang merajuk untuk ditemani.

" Oh sibuk ya , sayang sekali , padahal aku merindukannya"  Ujar Ami yang langsung mendapat tatapan kesal dari Sivia.

"Hey , aku masih cantik untuk membuat dia berpaling" Balas Sivia dengan membanggakan dirinya.

Precious TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang