***
Selamat membaca
****
Semua Benar, Dan dia pergi
Lagi dan lagi hujan turun deras. Luna berdiri mematung didepan pintu kelas yang sudah sepi.
Waktunya pulang Luna gagal total.
Ia menoleh ke jam yang melingkar ditanganya. Menunjukan pukul setengah enam.
"Pulang, yuk!" Suara Fandu sontak membuat Luna menoleh melihat cowok itu serius berjalan ke arahnya. Lagi lagi ia berhadapan dengan cowok yang cukup membuat ia merasa aneh sejak kemaren itu.
"Lo nggak lihat hujan. Jangan ngejek gue kenapa, sih?" ucapnya serius, sedikit kesal dengan ajakan Fandu baru saja. Fandu tersenyum samar. Ia menggeleng. Bukan itu maksudnya. Dan ia serius.
"Enggak. Gue serius," balasnya menunjukkan dua kantong plastik putih. Dan meraih tas Luna di pungung Luna tanpa menanyaka pemiliknya lebih dulu. Memasukan tas Luna kedalam kantong itu dan menjinjingnya.
"Buat apaan?" tanyanya Luna heran. Tak mengerti dengan aksi cowok setengah gila yang dikenalnya itu.
"Buat ujan-ujanan lah bareng lo." jawabnya tersenyum menarik tangan Luna dan mengenggamnya erat. Luna menatap cowok ini bingung. Tas Fandu juga sudah dibungkus plastik.
"Fan? Lo serius?" tanya Luna terbata. Fandu mengangguk tanpa ragu.
"Lo nggak mau kan ke fsikiater lagi dipaksa mama lo. Alhasil lo ketemu papa lo. Jadi gue coba paksa lo buat enggak benci lagi sama hujan." balasnya tersenyum menarik paksa tangan Luna menembus hujan yang turun cukup deras. Luna kehabisan kata kata. Kakinya gementaran. Cowok gila dan cukup aneh ini memaksa untuk menembus hujan sederas ini. Memang sudah gila bukan?
"Gue cuma mau buktiin sama lo kalau hujan itu nggak selalu buruk Lun. Hujan itu damai. Dan gue suka Banget tahu." ucapnya serius masih menarik Luna yang kini kehabisan energi. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Ia tak percaya. Fandu mengabaikan dirinya yang kini semakin gugup berjalan menembus hujan. Dan Fandu menghentikan langkahnya. Menghadap ke arah Luna yang kini menunduk. Tubuhnya mendadak kaku. Semua ingatan tentang masa lalu kelamnya muncul lagi. Luna menginggit bibirnya kuat. Air matanya sudah menetes. Ia melepaskan pegangan Fandu padanya. Tapi Fandu lebih kuat darinya. Tentu saja ia gagal.
"Fan, Pliss lepasin." ucap Luna dengan nada bergetar. Fandu menggeleng serius. Menahan tangan Luna kuat. Ia tidak ingin Luna pergi.
"Habis ini lo boleh marah kok sama gue," Luna masih berusaha melepaskan pegangan Fandu padanya.
"Tapi... Gue cuma bilang hujan itu enggak buruk Lun, hujan bikin gue tenang. Pas gue mau tidur. Mau teriak. Mau nangis. Gue selalu pengen hujan turun. Biar enggak ada yang denggarin gue. Gue tu sama kaya lo Luna. Coba deh cintai diri lo sendiri. Selamanya, hal yang lo benci nggak bisa lo benci. Ada saatnya lo melawan semuanya. Terima semua. Hujan nggak bakal hilang Lun. Dia abadi. Yang ada kita yang bakal hilang. Masa lo kalah sama hujan aja, sih?" jelas Fandu serius membuat Luna terdiam. Fandu benar. Selama ini ia terlalu lemah untuk menghadapi semuanya. Tapi ia tetap saja benci dengan ide Fandu yang cukup dadakan seperti ini. Setidaknya Fandu bicarakan dulu hal ini padanya. Dasar cowok gila.
"Gimana? Gue yakin habis ini lo demam." balas Fandu terkekeh. Mengabaikan semua ekspresi tak terbaca diwajah Luna.
"Ide lo nggak lucu Fan. " Balasnya dongkol memukul bahu Fandu kuat. Ia benar benar kesal. Fandu seenak jidatnya saja membuat ia kehujanan. Tapi. Semua ucapan Fandu benar. Hujan tidak selalu buruk. Luna terdiam. Melihat ke arah Fandu serius. Air hujan sudah membasahi tubuhnya dan Fandu. Cowok itu tersenyum samar. Ia menarik Luna dan memeluknya erat.
