Selamat membaca
***
"Kita kemana?" tanya Lika saat keduanya sudah sampai di stasiun kereta api. Luna berjalan lebih dulu, tidak berbicara sedikitpun pada Lika sejak kereta berjalan dan mereka sampai. Luna malah menikmati tidur siang nya disana.
Lika mendadak kesal. Ia menghentikan langkah Luna cepat.
"Kita kemana? Lo jangan diam aja." kata Lika makin kesal. Luna menarik napas berat dan menghembuskan perlahan. Melihat Lika datar.
"Kerumah mama gue. Dan kita mampir dulu ke suatu tempat." katanya serius kembali berjalan. Lika menggaruk kepalanya, dan ikut berjalan. Luna menyetop sebuah taxi lalu menyodorkan sebuah alamat yang sudah Luna tulis di kertas baru. Sang sopir taxi mengangguk sedikit mengerti, lalu menjalankan mobil nya.
Sekitar dua puluh menit dari stasiun. Taxi berhenti didepan sebuah gang kecil. Luna menoleh kiri kanannya. Ia harap ia tidak salah alamat.
"Maaf neng, nggak bisa masuk gang, cuma sampai sini." kata sang bapak pada Luna yang kini terpaksa mengangguk.
"Oke pak, nggak apa. Yuk Lik, turun." kata Luna sembari menyodorkan beberapa lembar uang yang setara dengan ongkos taxi pada sopir itu. Lalu beranjak turun diikuti Lika yang masih bingung. Masuk ke gang dan menyelusuri setiap rumah disana. Sesuai dengan alamat yang bik Tini berikan pada Luna. Lika mengikut dengan mulut manyun. Belum lagi cuaca panas. Keringat sudah bercucuran di muka Lika. Walaupun sudah sore tapi cuaca masih cukup panas.
Dan Luna masih tetap berjalan jauh didepan nya. Luna tersenyum samar saat melihat seorang bapak-bapak berdiri di depan pagar rumahnya. Sedikit berlari kecil menuju bapak itu.
"Sore pak, boleh tanya?" kata Luna ramah. Bapak berumur kurang lebih lima puluh tahun itu mengangguk sedikit tersenyum.
"Boleh nak, ada apa yah?" tanyanya serius. Luna dengan sigap menyodorkan alamat di tangan nya pada bapak itu. Bapak itu membacanya serius. Lalu seperti memikirkan sesuatu.
"Oh, jalan lurus aja dulu dari sini sebentar. Nanti setelahnya ada belokan, ambil belokan kiri, lalu masuk gang kecil. Namanya gang jambu. Dan ada rumah bercat biru disana. Rumahnya kecil. Kalau kurang jelas bisa ditanya disana sama tetangga disana." katanya serius.
"Baik pak, terimakasih." kata Luna tersenyum, menoleh pada Lika yang kini menatap nya malam.
"Sama-sama. Hati-hati. Semoga ketemu." kata bapak itu beranjak masuk kerumahnya.
Luna mengangguk tersenyum.
"Ayo Lik, semangat dong." katanya menarik Lika untuk segera pergi dari situ.
"Emang sesulit itu nyari alamatnya?" katanya kesal. Luna mengangguk sedikit.
"Lumayan Lik."
"Gue haus. Minum lo tadi masih ada nggak?" tanya Luna menyeka keringat didahinya. Lika membuka tas selempang yang dia pakai lalu meraih botol air putih yang tadi dibelinya.
Luna dengan cepat meraih botol itu, membukanya lalu menyeruput nya hingga kandas. Lika menghentakkan kakinya kesal. Tak terima air minumnya dihabiskan oleh Luna.
"Yah, kenapa lo habisin. Gue juga haus. Sialan lo." katanya kesal. Luna tersenyum samar.
"Ntar kalo ada warung, gue ganti." kata Luna kembali berjalan, menoleh pada tong sampah ditepi jalan, lalu melempar nya tepat sasaran. Lika masih kesal terpaksa menurut.
"Cewek sialan. Panas banget lagi." gerutu Lika dengan suara kecil.
"Disini nggk ada ojol apa, gue capek." kata Lika mencoba menghidupkan ponselnya.
"Ojol apaan, orang udah dekat." kata Luna kesal.
Lika terpaksa menurunkan ponsel nya, mengikuti Luna yang kini kembali berjalan di depan nya. Lika juga heran kenapa ia malah mau saja menuruti Luna yang tiba-tiba mengajaknya pergi. Dan tahu-tahu ia sudah sampai disini.
