"Merasa Bahagia"
***
Kelas les yang diikuti Luna baru saja usai.
Luna mengikuti Fandu keluar dari kelas mereka. Ia sejak tadi ingin berbicara pada Fandu soal idenya sudah menyatukan ia dan temannya lagi
"Ide lo boleh juga." ucapnya sontak membuat Fandu menoleh, lalu detik berikutnya ia tersenyum. Mengerti maksud ucapan Luna apa.
"Oh, iya. Gue malas lo berantem, diam-diaman sama mereka. Jadi yah gitu." sahutnya sambil mengangguk sedikit. Luna menganguk pelan. Ia sebenarnya juga tidak mau bertengkar, hanya saja ia tidak mau berbaikan lebih dulu sama orang yang membuat masalah padanya. Buktinya. Ririn. Teman SMP-nya dulu. Teman satu-satunya milik Luna. Mereka sampat bertengkar hebat, gara-gara Rio mendekati Luna dan Ririn juga menyukai Rio. Ririn marah padanya dan menganggap Luna merebut Rio. Luna merasa dirinya tak bersalah, tentu saja ia tidak mau meminta maaf lebih dulu. Begitu juga Ririn. Satu diantara mereka tidak ada yang mau berbaikan lebih dulu. Hingga keduanya tidak pernah berkomunikasi lagi hingga lulus. Ririn melanjutkan di SMA Negeri. Walau bisa dibilang rumah mereka cukup dekat tapi mereka tak pernah bertemu lagi.
"Yah sih. Lo bisa aja." ucapnya serius.
"Lo tahu aja gue nggak bisa berbaikan duluan sama orang." ucapnya spontan membuat Fandu menoleh. Lalu detik berikutnya ia terkekeh.
"Yah, gue enggak kenal lo kemaren sore Lun. Dari semua teman gue, gue paling paham dan lebih dulu kenal sama lo. Lo lupa, gue dulu sahabatnya Rio." sontak Luna menoleh serius. Ia menatap Fandu yang kini tersenyum ke arahnya.
"Yah seperti itu. Pas SMA gue juga dekat sama Irwan, tapi enggak sedekat gue sama Rio. Dulu. Jadi sama siapapun cowok yang dekat sama lo gue paham, lo berantem sama Ririn karena Rio. Dan akhirnya lo jauhin Rio. Dan kemaren lo dekat sama Irwan, trus jauhin juga karena Lika. dari semuanya gue simpulin lo orang yang mudah mengalah demi orang lain."
"Fan satu lagi, lo enggak mau minta maaf lebih dulu, nggak mau negur lebih dulu. Dan dari semuanya gue simpulin lo juga cukup sombong." Tambah Fandu. Luna terdiam, lalu detik berikutnya ia tersenyum. Fandu benar adanya. Dia memang seperti itu.
"Iya Fan. Lo bener. Kan gua nggak salah, ngapain gue minta maaf lebih dulu." jujurnya membuat Fandu menghentikan langkahnya, melihat Luna tersenyum lagi. Luna benar adanya.
"Fan satu lagi yang mau gue sampaikan. Satu hal yang mau gue pastiin." tambah Fandu. Raut muka Luna berubah, ia menatap Fandu serius. Apalagi.
"Enggak usah serius gitu Lun." ucapnya sontak membuat Luna tersenyum samar, Fandu ikut tersenyum lagi.
"Iya, apalagi emang?" balasnya lirih, menunggu kelanjutan Fandu. Fandu diam sejenak. Entah kenapa Fandu merasa ia dan Luna harus lebih dekat lagi.
"Ah. males. Besok gue kasih tahu." balasnya tersenyum. Luna sontak saja manyun.
"Kunci motor lo mana? Antar gue pulang, ntar gue beliin bensin, sayang uang gue buat bayar taxi. Mobil gue rusak. Nabrak tiang listrik pas pulang tadi." ucapnya asal meminta kunci motor Luna. Alis luna terangkat.
"Serius, lo enggak apa?" tanya Luna sambil menatap wajah Fandu. Jika ada yang terluka pada cowok itu.
Merasa tidak ada Luna meraba saku celananya, mengeluarkan kunci itu, dan tanpa basa basi dirampas Fandu.
"Serius," Fandu beranjak pergi.
"Gampang banget dibohongi." sahutnya terkekeh. Berjalan menjauh, Luna memajukan mulutnya manyun, mengejarnya dan memukul bahu Fandu kuat.
"Nyebelin banget sih lo."
"Emang." sahutnya singkat, padat, dan cukup kembali membuat Luna kesal. Fandu meraih helm milik Luna, dan menyodorkan pada cewek itu.
