Selamat Membaca
****
Luna masuk kedalam kamar Lika dengan langkah cepat. Ia takut cewek itu pergi lagi dan benar saja. Ia sudah bersiap. Dan Luna tidak tahu Lika mau kemana. Selalu keluar malam.
"Eh Luna." Dia sedikit kaget dengan kedatangan Luna yang tiba-tiba kedalam kamarnya.
"Lo belum ngasih tahu kalau gue tinggal disini sama Fandu, kan?" tanyanya serius tanpa basa basi. Lika berpikir sejenak, lalu menggeleng.
"Belum. Dan malam ini rencana mau ku kasih tahu." balasnya mantap.
Luna mengeleng cepat.
"Nggak usah. Gue sama Fandu nggak ada apa-apa kok. Gue mau sama dia karena mau balas dendam sama Irwan aja kemaren. Dan sekarang gue sama dia nggak ada hubungan apa-apa lagi." ucapnya serius. Lika mengangguk sedikit. Melihat Luna beranjak keluar kamarnya. Cewek itu hanya mengatakan hal itu saja. Lalu pergi begitu saja.
Tapi Lika, ia tak peduli. Akan tetap memberitahu cowok itu nantinya.
Luna hendak kembali ke kamarnya. Satu panggilan dari bunda Lika membuat Luna menghentikan langkahnya.
"Lun. Sebentar, Kesini." Bunda Lika sontak membuat Luna menoleh serius. Tangannya ditarik cepat keluar oleh Bunda Lika. Menuju parkiran mobil.
"Taraaaaaaa. Ini buat Luna." ucapnya membuat Luna bingung. Sebuah mobil berwarna merah terparkir disana. Baru.
Disamping mobil Lika. Lika ikut keluar.
"Wah. Bun. Aku yang mau kok Luna yang dapat duluan sih." Lika menyerocos di belakang membuat Luna menoleh serius.
"Ya udah buat lo aja. Gue udah biasa naik motor. Makasih Bun." ucapnya menyodorkan kunci mobil itu ke tangan Lika. Sontak Lika mengeleng.
"Ih kagak Lun." jawabnya tersenyum kembali meletakkan kunci itu kembali ke tangan Luna. Alis Luna terangkat ia menatap dua orang itu bergantian. Tak ada yang bisa ia jelaskan.
"Minggu depan Bunda beliin. Jangan pulang malem anak bandel." Ucapnya sedikit berteriak ke Lika yang kini melambaikan tanganya pada Luna dan Bunda.
"Dasar anak nakal." ulang Bunda Lika kembali tersenyum ke Luna.
"Bunda tahu Lika kemana?" tanya Luna serius. Bunda Lika mengangguk.
"Main ke cafe kan sama temannya." balasnya tersenyum. Mata luna membulat. Ia sudah bisa menebak Lika tidak diurus sama sekali oleh bundanya. Luna hanya mengangguk sedikit. Ia tidak mau memperpanjang masalah ini. Toh urusannya saja belum usai. Mamanya, papanya masih berantakan.
Tidak mungkin ikut juga masalah Lika yang ia sudah bisa melihatnya. Berantakan juga sama sepertinya.
Tiba tiba ia jadi ingin lebih tahu tentang gadis itu. Tentang Fandu yang juga kenapa seperti itu.
***
Sepi. Dan Luna selalu heran
Saat malam tiba rumah papanya itu sepi. Lika dan bundanya juga pergi. Luna terdiam di depan pintu kamar Lika. Tiba tiba ia jadi tergerak membuka pintu itu dan masuk kembali. Ia menoleh sekelilingnya. Kamar itu berukuran sama dengan kamarnya. Hanya saja bernuansa biru. Luna mendekat ke rak buku Lika. Ada banyak tempelan foto foto disana, mata Luna mengitari semua foto foto itu. Cafe. Klub. Fandu. . Irwan, Oliv, Luna bisa menebaknya kalo gadis itu seperti yang diceritakan Lika dan seorang cowok berfostur tubuh tinggi yang tidak pernah Luna lihat juga. Luna tersenyum sedikit. Ia bisa menebak pasti cowok ini yang jadi lawan Fandu. Dari cara berfoto mereka Fandu memang tampak dekat dengan Oliv. Luna mengangguk paham. Ia rasa tidak ada gunanya cemburu. Toh
Ia hanya sebatas menyukai Fandu. Dan tak ingin dekat dengan siapapun saat ini. Ia lebih memilih fokus ke sekolahnya saja.
"Lun, Kok disini?" suara Yuli membuat Luna menoleh serius. Mengangguk.
Melihat Yuli berjalan cepat ke arahnya.
"Mama ada nelpon nggak mbak?" tanyanya serius. Yuli berpikir sejenak lalu menggeleng.
"Nggak ada Lun. Tadi juga udah mbak coba. Tetap nggak aktif." ucapnya dengan nada kecewa. Luna menghembuskan napasnya. Ia juga bingung. Sejak kemarin. Mamanya sulit dihubungi. Padahal Luna ingin sekali bertemu.
"Lika pergi lagi?" ucap Yuli membuyarkan pikiran Luna. Luna mengangguk cepat.
"Iya mbak. Aku juga baru tahu Lika selalu kelayapan. Bunda keknya juga nggak peduli." terdengar nada sedih dari ucapan Luna. Yuli mengangguk sedikit. Ia juga berpikir seperti itu.
"Mbak dengar dari Santi, Lika anak angkat," Sontak Luna membulatkan matanya tak percaya.
Santi Salah satu pengurus rumah papanya. Ia bekerja didapur.
"Mbak. Jangan becanda deh?" Luna tidak terima. Yuli mengangguk sedikit. Meyakinkan.
"Mbak nggak becanda. Semua yang disini tahu Lun. Dan Santi juga bilang makanya Bunda mau kamu disini. Buat lanjutin perusahaan papa sama Bunda. Biar nggak jatuh ke Lika yang udah berantakan nggak tahu arah gitu." jelasnya serius.
"Dan Bunda juga tahu Lika berusaha mencari orang tuanya. Mungkin jika ketemu Lika akan pergi." jelasnya serius. Luna diam. Ia menatap lurus ke bingkai Foto Lika yang sedang tersenyum diatas meja belajar itu.
"Bunda nggak melarangnya?" tanya Luna serius. Yuli menggeleng.
"Bunda bilang itu pilihan Lika." balas Yuli pelan.
"Gimana sama aku?" tanya Luna heran. Ia juga tidak ingin melanjutkan perusahaan siapapun. Dia hanya ingin cita cita nya. Yuli menatapnya tak mengerti.
"Maksudnya?" tanya Yuli tak mengerti. Luna membulatkan matanya, Yuli tak mengerti maksudnya. Luna menggeleng. Ia sedang tidak ingin membahas ini.
"Tidak apa mbak. Yuk keluar." ucapnya mengalihkan pembicaraan. Beranjak keluar dengan raut muka kecewa. Bagaimana ia disini dengan rencana papa nya yang tak ingin ia lakukan.
D
an ia makin membencinya.
****
