9. Help me, please.

33 7 1
                                    

"Ma, Pa, Sufala berangkat dulu ya." Aku pamit kepada kedua orang tuaku sembari menggenggam tangan Citrasena.

"Nana juga ya, Tan, Om, pamit pulang dulu. Lain kali main lagi ke sini deh." Citrasena tersenyum manis dengan tatapan mata tertuju kepada Papa dan Mama yang sedang duduk di ruang tamu bersama Sanjaya.

"Iya, Na. Jangan kapok-kapok main ke sini lagi ya." Mama menjawab sambil menyunggingkan senyum.

"Iya, Na. Hati-hati di jalan ya," kata Papa sembari membenarkan letak kacamatanya yang bengkok.

"Ajay ikut ya, Kak Sufala?" Sanjaya menangkupkan kedua tangannya seolah memohon. "Kakak baik deh."

Giliran ada maunya baru deh memberi pujian. Adik macam apa itu?

"Ajay jangan ikut. Ini urusan orang dewasa. Mereka mau dinner. Iyakan, Pa?" timpal Mama menoleh ke arah Papa berada. Sementara Papa hanya mengangguk mengiyakan.

Dinner itu apa?

Eh, tunggu. Apa katanya dinner? Bahasa dari pelanet mana itu? Mars? Venus? Yupiter? Aku baru mendengarnya.

Daripada pusing gak jelas, lebih baik aku segera pergi dari sini. "Kalo gitu, Sufala sama Nana pergi dulu ya," kataku kemudian sembari menarik lengan Citrasena dengan langkah tergesa-gesa.

"Pelan-pelan dong, Sufala. Kenapa mesti buru-buru sih?" protes Citrasena saat kami sudah berada di luar rumah.

Kutunjuk jam yang melingkar indah di pergelangan tanganku dengan mendesah berat. "Delapan menit lagi, Na. Kita bisa telat ini."

Citrasena menepuk jidatnya berulang kali. "Aduh, gawat! Maaf ya, aku lupa. Kalo gitu, ayo buruan kita masuk ke mobil." Dia menarik lenganku sampai ke depan dekat pagar di mana mobilku terparkir.

Setelah itu kami berdua masuk ke dalam mobil. Satpam rumah membukakan pintu pagar. Kulajukan kendaran beroda empat itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Membuat Citrasena menjerit histeris sembari memegangi dadanya.

Aku yang melihat kejadian itu pun, langsung mengatur kecepatan dengan sedikit rendah. Tak tega rasanya bila harus membuat gadis itu berteriak seperti orang ketakutan cuman demi perempuan yang belum kukenal. Kayaknya itu gak adil. Bagaimanapun juga, aku ini tetap makhluk Tuhan yang memiliki rasa berperikemanusiaan.

"Jadi, gimana ceritanya sampai kamu bisa kenal sama yang namanya Septia itu, Na?" tanyaku setelah sekilas melirik ke arahnya yang sudah tampak tenang kembali.

Citrasena berdeham singkat, lalu berkata, "Dulu aku tinggal di desa terpencil sebelum pindah ke sini saat umur enam tahun. Di sana aku punya teman namanya Rara, Fifit, dan Septia. Kami berempat teman akrab, sampai satu per satu di antara kami pindah rumah ke kota, termasuk aku."

Aku mengangguk, mengerti. Dan masih tetap mendengarkannya bercerita.

"Setelah itu aku gak tahu lagi kabar mereka. Sampai suatu ketika aku gabung ke salah satu group medsos yang udah mempertemukanku dengan Septia. Dari sana lah kami mulai dekat lagi hingga saat ini," lanjutnya penuh semangat.

"Oh gitu ya, ceritanya," kataku menanggapi, "Terus gimana sama Rara dan Fifit? Temanmu yang dua lagi."

"Aku gak tahu kabar mereka, tapi terakhir kudengar dari Mama, Rara udah tunangan, lulus sekolah mau langsung menikah. Sementara Fifit, dia udah kuliah di luar negeri. Kami berempat memang beda usia. Kamu tahu gak siapa yang paling muda di antara kami berempat?" tanyanya sembari menoleh menatapku meminta jawaban.

"Gak tahu. Siapa emang?" Aku balik bertanya padanya. Karena memang aku tidak mengetahuinya sama sekali.

"Ah, payah. Gitu aja gak tahu." Citrasena mengerucutkan bibirnya. "Yang paling muda? Ya, aku lah. Imut, tambah manis lagi."

Apa semua perempuan seperti itu?

"Oh ya. Kamu tahu gak aku lahir hari apa? Tanggal berapa? Bulan apa? Tahun berapa? Di lahirkan di mana? Terus waktu itu ibu aku ngidamnya apa? Kalo gak jawab, aku gak mau ngomong lagi sama kamu selama semenit."

Apa di sini ada yang bisa jawab pertanyaan aneh di atas?

Help me, please.

***

Bersambung,

Sukabumi, 23 Februari 2019.

Ayo, siapa yang bisa jawab dengan benar? Jago banget berarti, bisa nebak 😋😂

Salam manis dariku,

Sri Azmi.

SufalaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang