11. Rezeki gak boleh di tolak. Betul?

43 6 1
                                    

"Hai, Tia. Apa kabar? Lama ya gak jumpa." Citrasena berjabat tangan dengan seorang gadis mengenakan baju berwarna merah maroon yang baru saja bangkit dari duduknya. "Maaf ya telat, tadi ada sedikit masalah di jalan." Citrasena melirik sekilas ke arahku. Aku cuman tersenyum, mengetahui apa arti dari tatapan itu.

Masalah? Itu maksudnya kejadian tadi saat aku melamun ketika sedang mengemudi. Jadi, tidak terlalu fokus memerhatikan jalan yang menyebabkan kami berdua terlambat datang.

Ceroboh? Enggak. Cuman sedikit melamun aja, sih. Menurutku, no problem. Tapi Citrasena-nya aja yang terlalu membesar-besarkan.

Dasar cewek. Masalah dikit, suka jadi bumerang.

"Oh ya, kenalin, Tia. Ini sahabatku, namanya Sufala. Dia cowok yang waktu itu aku ceritain sama kamu loh," kata Citrasena setelah selesai berjabat tangan dan berpelukan dengan gadis itu.

Bay the way, aku juga jadi pengen ngerasain gimana rasanya dipeluk oleh seorang gadis. Nyamankah?

"Dan Sufala, kenalin. Ini Tia yang aku ceritain saat itu. Cantik, kan?" Citrasena menyenggol lenganku dengan senyum jahilnya. Sementara aku cuman mengangguk untuk menanggapinya. Kuakui Septia memang cantik.

Aku tersenyum kepada Septia, lalu mengulurkan tangan untuk berkenalan. Aku sering lihat di film-film saat pertama bertemu, si tokoh pria selalu melakukan hal seperti ini terlebih dulu.

Tidak sia-sia aku menonton film. Ternyata ada manfaatnya juga.

Tak lama kemudian, Septia menerima uluran tanganku sambil menyunggingkan senyum. Dia tampak manis sekali.

Eh, tunggu, barusan aku bilang apa?

"Septia. Panggil aja Tia," katanya yang masih tersenyum. Dia terlihat salah tingkah.

Apakah dia sudah terpesona akan ketampananku ini?

"Sufala," kataku, lalu menatapnya lebih lama.

Mengenai Septia? Dia cantik, lumayan seksi. Bibirnya mungil berbentuk love kayak barbie. Buah dadanya tampak besar dan begitu menggiurkan.

Astaghfirullah. Barusan aku bilang apa? Menggiurkan? Sadarlah, Sufala. Sadar.

"Silakan duduk." Septia kembali duduk setelah melepaskan jabatan tangannya dariku dengan begitu saja. "Kalian mau pesan apa? Jangan sungkan, aku yang traktir." Dia tersenyum manis sekali.

Gadis itu gak cape apa, ya? Senyum mulu dari tadi, kayak yang udah dapat uang jatuh sekarung dari langit.

"Eh, gak usah repot-repot, Tia. Biar Sufala aja yang traktir kita. Iyakan, Sufala?" Citrasena menatapku dengan senyuman yang dibuat-buat. Terlihat menggelikan.

Tunggu, apa katanya? Biar aku yang traktir? Gak salah tuh? Aku meneguk ludah susah payah, meraba dompet yang ada di saku celanaku dengan penuh harapan di hati.

Pasalnya, uang yang kupunya sudah menipis. Sialan.

"Iya. Biar aku aja yang traktir," ucapku kemudian yang tak kuasa menolak agar tetap terlihat baik di depan gadis itu. Kalau Citrasena sih, aku tidak terlalu memikirkannya sebab bersamanya sudah menjadi hal biasa.

"Gak papa, biar aku aja." Septia kembali berkata dengan lembutnya. "Aku gak ngerasa keberatan kok."

Bagus. Sebenarnya aku juga gak mau bila harus mengeluarkan uang satu-satunya yang berwarna merah sedang ada di dompetku itu hanya untuk meneraktir mereka malam ini.

Bukannya pelit. Tapi bagaimana dengan nasibku besok di sekolah? Memangnya mereka mau tanggung jawab apa?

"Yaudah kalo kamu mau, aku gak bisa melarang, " kataku penuh sorak dalam hati. Karena dompetku masih bisa terselamatkan. Puji Tuhan Semesta Alam.

Citrasena melotot ke arahku seolah berkata; kamu ini gimana sih? Ini kencan pertamamu, kan? Seharusnya kamu dong yang traktir, bukan Tia.

Aku mengangkat kedua bahuku. Lagian bukan salahku juga, kan? Ini real dari kemauannya Septia sendiri.

Jadi, Yaudah lah. Kata Mama rezeki itu gak boleh ditolak. Gak baik.

Betul?

***

Bersambung,

Sukabumi, 24 Februari 2019.

Apa kesan kalian setelah membaca cerita Sufala dari awal sampai saat ini?

Salam manis dariku,

Sri Azmi.





SufalaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang