16. Saran dari Bara Mahaberata.

33 7 0
                                    

Aku melajukan motor dengan kecepatan rendah. Jarak antara rumahku dengan Tante Mirna itu tidak terlalu jauh sehingga dalam waktu limabelas menit aku sudah sampai ke tempat yang di tuju.

Tanpa di duga sebelumnya, ketika aku hendak memarkirkan motor di halaman rumah Tante Mirna, kulihat gadis manis tengah lewat di hadapanku sembari melemparkan senyum.

Masya Allah cantiknya, batinku setelah membalas senyumannya.

Gadis itu masuk ke dalam suatu rumah berwarna merah muda yang berada tepat di samping rumah Tante Mirna. Seketika itu juga aku berpikir; mungkin itu tempat tinggalnya.

Wait, barusan aku bilang apa? Tempat tinggalnya?

"Berarti ada alasan dong ya buat kenalan sama tuh cewek. Kapan-kapan aku nginep ah di rumahnya Tante Mirna biar bisa deketin gadis itu," ujarku mengembangkan senyum sebelum kemudian melakukan kembali aktivitas yang tadi sempat terhenti.

"Assalamualaikum, Tante," ucapku sopan saat sudah berada di depan pintu rumah Tante Mirna setelah memarkirkan motor di pekarangan.

Satu, dua, tiga. Pintu akhirnya terbuka menampilkan sesosok wanita paruh baya yang mengenakan baju berwarna biru muda dengan ukuran yang cukup panjang.

"Waalaikumsalam," jawabnya tampak senang saat melihatku, "Eh, Sufala, ayo masuk."

"Iya, Tan." Aku mengangguk kecil, lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya yang nyaris membuatku berdecak kagum. Dekorasi serta interior di dalam rumahnya tampak begitu indah, dan mengagumkan.

Baru kali ini aku menginjakkan kaki lagi di rumahnya Tante Mirna yang tampak sudah banyak sekali perubahan. Terakhir kali saat aku main ke sini itu kira-kira ketika usiaku masih 10 tahun. Maklumlah aku ini orang sibuk.

Sibuk mencari tambatan hati maksudnya.

"Silakan duduk, Sufala." Tante Mirna memandangku sebelum menepuk pelan kursi ruang tamu yang ada di sebelah kanan. "Tante mau ngambil minum dulu ya."

Aku mengangguk dengan tersenyum kecil. Setelah itu Tante Mirna pergi tanpa menoleh ke arahku lagi. Aku pun mengedarkan pandangan, dan kulihat ada foto keluarga yang cukup besar tertempel di dinding dekat pintu kamar yang ada di sebelahnya. Aku duduk di kursi dengan mata yang masih fokus pada foto itu.

Di foto itu terdapat dua orang tengah berdiri dengan senyuman, tak lupa anak kecil di tengahnya yang sedang memegang sebuah mainan sembari tertawa tampak bahagia. Kedua orang itu adalah Om Rudi dan Tante Mirna. Sementara anak kecil itu bernama Bara yang merupakan putra semata wayang mereka.

Pintu yang ada di sebelah foto itu tiba-tiba terbuka, menampakkan sesosok pria yang kira-kira baru berusia 12 tahun. Kini pria itu sedang menunduk merapikan pakaian dan jaket yang ia kenakan, kemudian menyisir rambutnya menggunakan telapak tangan.

"Bara," panggilku sedikit ragu karena sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan anak itu. Jadi wajarlah jika aku merasa sedikit ragu untuk menyapanya.

Pria yang baru saja kusebut namanya itu menoleh, dia tersenyum menghampiriku. Aku pun membalas senyumannya. Bara kemudian duduk di sebelahku, lalu ia menepuk pundakku pelan.

"Bang, apa kabar? Masih jomblo gak nih? Jangan bilang belum bisa move on dari dia ya, Bang," tanya Bara yang memanggil  namaku dengan sebutan Abang sebab sejak kecil dia selalu memanggilku seperti itu," Karena cewek di dunia ini masih banyak. Yang body-nya seksi, dan aduhai juga... Beuh, banyak banget, Bang!"

Dih, ini anak so tahu banget jadi orang. Aku udah move on kali. Lagi pula masa lalu itu bagiku tidak terlalu penting untuk di pikirkan, cukup jadikan hal itu sebagai pengalaman dan bahan pelajaran. True?

"Anak kecil sepertimu tahu apa tentang hal semacam itu, Bara?" tanyaku balik dengan cengengesan.

"Jangan salah, Bang! Gini-gini juga aku udah banyak pengalaman loh. Bang Sufala, mau cewek kayak gimana? Aku bantu pilihin, tinggal klik, gampang!"

"Apanya yang tinggal di klik?"

"Cewek lah."

"Caranya?"

Bara terdiam. Dia menatapku penuh tanya. Kedua tangannya ia lipat di depan dada sebelum berdeham singkat, lalu ia mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku celananya setelah mengembuskan napas. Entah apa yang sedang ada di pikirannya saat ini, yang jelas bocah itu sudah berhasil membuatku penasaran.

"Cewek itu banyak, Bang. Tinggal klik. Mereka udah ada di genggaman. Nih ya, contohnya itu ada di Facebook, Instagram, terus apa itu ya yang baru... Bentar aku ingat-ingat dulu." Bara terdiam sejenak tampak berpikir. "Oh ya, ada juga Tantan, Bang. Kayak biro jodoh gitu loh."

Dan saat itu juga aku menyunggingkan senyum, mulai tertarik. Namun, aku mengernyit setelahnya. Ada satu hal yang tidak kuketahui tentang apa yang barusan Bara katakan. Itu terdengar aneh di telingaku, dan tampak asing.

"Bara... Tantan itu apa?"

***

Bersambung,

Sukabumi, 14 Maret 2019.

Hallo, Sufala update lagi ❤

Jangan lupa vote + comment-nya biar aku tambah semangat lagi buat lanjutin ceritanya, kuy laksanakan! Hehe 😅

Ouhiya, hari ini aku sedang menghadapi USBNK. Mohon doanya ya teman-teman, semoga hasilnya memuaskan dan sesuai yang di harapkan. Aamiin Ya Allah 😇

Salam manis dariku,

Sri Azmi.

SufalaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang