17. Tolong tabahkanlah hamba-Mu ini, Ya Rabb.

31 7 0
                                    

Aku memerhatikan Bara yang sedang mengotak-atik ponselku. Anak itu menambahkan aplikasi baru ke ponselku seperti Facebook, Instagram, dan tak lupa juga Tantan. Katanya aku ini kurang uptodate. Dan anak itu menjelaskan satu per satu kegunaan dari aplikasi-aplikasi itu. Aku pun mengangguk paham mendengarnya.

"Jadi gitu ya, Bang," ucap Bara mengakhiri pemaparannya setelah ia menyerahkan kembali ponselku yang barusan di pinjamnya, "Kalo masih gak ngerti, Bang Sufala bisa tanya-tanya lagi ke aku. Itu nomor ponselku udah di simpan di handphone Abang, jadi jangan ragu untuk bertanya. Oke?"

"Sip. Sip. Oke." Aku menjawab dengan mengacungkan kedua jempol tinggi-tinggi di depannya. "Kalo boleh tahu, kamu sekarang kelas berapa, Bar?"

"Ah siap!" Bara mengacungkan satu jempolnya, lalu mengedipkan satu mata nyaris mirip dengan gadis genit di club malam. "Bara masih kelas 6 SD, Bang. Kalo gitu Bara mau pergi dulu ya, Bang. Bye. Bye. Bang Sufala!" Kemudian anak itu bangkit dari duduknya sebelum melangkah pergi membuka pintu.

"Mau ke mana, Bar?" tanyaku penasaran.

Bara kembali menoleh ke arahku, dia berdiri di ambang pintu sambil mengulum senyum. "Biasa, Bang. Main. Jalan-jalan sore."

"Oh." Aku mengangguk. Jadi teringat waktu kecil, saat itu aku juga suka jalan-jalan sore bareng teman-teman. Mau itu nongkrong ataupun main layangan, yang jelas kumpul menjalin kebersamaan. "Hati-hati, Bar. Jangan lupa pulang, entar diculik nenek gombel tahu rasa."

Bara malah tertawa menatapku. Dan aku mengernyit, tidak mengerti. Memangnya ada yang lucu?

"Oke, Bang. Siaaap laksanakan!" Bara memberiku hormat seperti petugas upacara di lapangan. Setelah itu dia pergi dengan mengayuh sepeda yang bisa kulihat jelas dari luar jendela.

"Bara, mau ke mana kamu?!" teriak Tante Mirna sembari memegang sebuah nampan di tangannya.

Dan aku hanya diam menyimak pembicaraan dari keduanya.

"Main, Ma. Gak lama kok." Bara menjawab dari luar rumah dengan mengayuh sepedanya.

"Dasar anak itu, kerjaannya main mulu!" omel Tante Mirna setelah menyimpan minuman di atas meja, "Gak pernah belajar. Nilainya juga selalu anjlok. Kapan itu anak berubahnya? Mana bentar lagi dia mau ujian! Duh... Gusti, lieur ini teh lieur."

Sebenarnya Tante Mirna itu sedang berbicara sama siapa?

"Sabar, Tan. Nanti juga berubah dengan seiring berjalannya waktu. Karena untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya itu butuh proses, Tan. Gak bisa langsung berubah gitu aja, kecuali kalo si Bara itu power ranger, Tan!" kataku menanggapi omelannya barusan yang entah di tujukan kepada siapa. Karena kurang baik juga jika aku tidak mengeluarkan pendapat sebab perempuan itu selalu ingin di mengerti.

"Iya, Sufala. Maaf ya tadi Tante sedikit kesal jadinya ngomong gitu." Tante Mirna menunduk, tampak sedih.

"Gak usah terlalu di pikirin, Tan. Dulu juga Sufala kayak gitu." Setelah mengatakan itu, lalu aku memberikan bungkusan kue yang Mama berikan kepada Tante Mirna dengan diiringi senyuman. "Oh ya, Tan. Ini ada titipan dari Mama buat Tante katanya."

Seketika itu juga Tante Mirna mendongak. Wajahnya tampak berseri-seri kembali. Ia mengambil bungkusan itu dengan senang hati.

Apakah kaum hawa memang seperi itu? Yang mudah sekali berubah mood-nya, walau dalam waktu sekejap saja.

"Makasih banyak ya, Sufala." Tante Mirna menatapku sembari mengulum senyum. "Bilangin juga ke Mamamu, makasih banyak gitu dari Tante ya."

"Iya, Tan, pasti. Kalo gitu Sufala pamit pulang ya, Tan, " kataku yang kemudian bangkit dari duduk seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Tante Mirna biar tampak sopan kepada yang lebih tua.

"Loh, kenapa terburu-buru? Main aja dulu di sini. Bentar lagi juga Bara pulang."

"Lain kali aja ya, Tan. Soalnya ada yang harus Sufala kerjakan."

"Oh. Yaudah kalo gitu, gak papa. Jangan lupa sering-sering main lagi ya ke sini kayak dulu."

"Iya, Tan, In Syaa Allah kalo banyak waktu luang dan gak sibuk." Setelah itu aku menyalami Tante Mirna, lalu beranjak pergi dari tempat itu. Kulihat Tante Mirna tersenyum di ambang pintu sebelum kemudian menutupnya saat aku hendak memakai helm.

Namun, kegiatanku terhenti kala melihat sepeda yang tadi dipakai oleh Bara ada di depan rumah gadis yang tadi melempar senyum padaku. Kutautkan kedua alis, merasa heran.

Tak beberapa lama kemudian, terdengar pintu yang terbuka dari rumah itu. Menampakkan sesosok gadis yang mengenakan baju merah selutut bersama seorang pria di sampingnya.

Pria itu adalah Bara.

"Mungkin itu hanya tetangganya yang Bara ajak main," kataku meyakinkan diri sendiri walau mungkin sedikit tidak percaya sebab gadis itu berpostur tinggi dengan kulit putih yang mendominasi. Tak lupa juga wajahnya yang seperti bidadari. Sebelas, duabelas lah dengan Manda.

Bay the way, mengenai Manda, dia apa kabar ya?

"Bang Sufala!" Kulihat Bara tengah melambaikan tangan ke arahku, dan aku pun segera menghampirinya dengan menggunakan motor setelah memakai helm.

"Ada apa, Bar?" tanyaku setelah menghentikan motor tepat di depan matanya biar terlihat cool di hadapan gadis itu yang kini tengah menatapku dengan senyuman. Ah, manisnya.

Bara tidak langsung menjawab, dia malah menatapku dan gadis itu bergantian. Kemudian anak itu memperkenalkanku dengan gadis tersebut yang nyaris membuatku kejang-kejang saat mendengar kalimat yang Bara lontarkan.

"Bang, kenalin, ini namanya Mesya, dia pacarku. Di sekolah, kami juga berada di kelas yang sama," tutur Bara memandangku tampak bahagia, lalu ia beralih menatap Mesya, "Dan Mesya, kenalin, ini Bang Sufala. Dia udah aku anggap sebagai Abang sendiri. Baik loh orangnya, tapi kasian dia masih jomblo sampai sekarang."

Jadi, gadis itu masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6 semester akhir? Ah, aku nyaris gila karena mulai menyukai gadis yang masih di bawah umur.

Tunggu, apa barusan Bara bilang? Mesya pacarnya? Masih kecil udah pacaran aja, dasar akhir zaman.

Oh, Tuhan, haruskah aku terkalahkan oleh anak kecil seperti Bara dalam urusan percintaan?

"Bang Sufala, cepat punya pacar ya. Jangan sampai nenek gombel yang macarin, nanti aku ngeri lihatnya. Bahkan dunia dan seisinya mungkin akan ikut berduka cita." Setelah mengatakan itu Bara segera bergegas pergi dengan mengayuh sepeda bersama Mesya di depannya sembari cekikikkan. "Gimana, Bang? Masih betah ngejomblo aja nih?" teriaknya dari kejauhan sambil melambaikan satu tangan.

Dasar kampret!

Astaghfirullah, tolong tabahkanlah hamba-Mu ini, Ya Rabb.

***

Bersambung,

Sukabumi, 14 Maret 2019.

Hallo, Sufala update ❤

Kalau boleh tahu, apa yang membuat kalian tertarik untuk membaca cerita ini sampai sekarang?

Salam manis dariku,

Sri Azmi.

SufalaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang