18. Terima kasih, Ajay.

36 10 0
                                    

"Assalamualaikum," kataku saat tiba di depan rumah. Kubuka pintu dengan hati-hati, lalu masuk ke dalamnya. Di ruang tamu kumelihat keluarga kecilku sedang menonton televisi bersama. Dari mulai Papa, Mama, dan Sanjaya. Kegiatan ini sudah menjadi rutinitas mereka sampai aku sendiri pun bosan melihatnya.

"Ma, Pa, Sufala pulang." Aku ikut duduk bersama mereka dengan tangan memegang satu plastik yang di dalamnya terdapat tiga bungkus berbentuk persegi berwarna merah di atasnya dan putih di bawahnya. Tadi saat di perjalanan menuju pulang, aku tak sengaja melihat penjual martabak mini di pinggir jalan sebelum kemudian membeli dagangannya karena ketika itu aku teringat kepada keluarga kecilku yang ada di rumah.

"Eh, Sufala, gimana kunjungannya? Tante Mirna sama Om Rudi baik-baik aja, 'kan?" tanya Mama kala melihatku duduk di sebelahnya, "Oh ya, gimana dengan Bara? Pasti dia udah besar ya? Duh.. Udah lama juga ya kita gak main ke sana."

Aku tidak langsung menjawab. Tanganku terulur untuk menyimpan plastik berisi bungkusan martabak mini itu ke atas meja. Lalu aku berdeham singkat, menatap Mama yang tengah memandang ke arahku.

"Biasa aja, Ma. Tadi Sufala gak melihat Om Rudi, mungkin beliau masih di tempat kerja. Dan mengenai Tante Mirna, dia baik-baik aja," jawabku santai sebelum mengacak rambut Sanjaya yang ada di depanku, anak itu tengah lesehan di lantai dengan mainannya, "Mengenai Bara, dia udah besar, Ma. Bahkan udah main cinta-cintaan. Sufala pun kalah sama dia, Ma. Ckckck.. Sulit untuk di percaya!"

"Apasih Kak? Jangan acak-acak lambut Ajay, Ajay gak cuka." Sanjaya menatapku garang, dia memarahiku dengan logat bahasanya yang masih cadel. "Ma, Kak Cufala jahilin Ajay. Centil, Ma, centil." Sanjaya merajuk pada Mama setelah menghampiri dan memeluknya. Sementara aku tertawa melihat tingkah laku anak itu yang membuatku gemas.

Bagiku mengerjai Sanjaya sampai dia marah itu sudah menjadi sebuah hobi baruku yang tak boleh untuk di lewatkan.

"Kamu ini Sufala, kebiasan! Jangan ngerjain Sanjaya lagi kalo kamu sendiri gak bisa bikin dia berhenti nangis nantinya." Papa memandangku cukup serius sebelum tertawa renyah. "Barusan Papa bercanda. Kerjain aja, tapi jangan keseringan. Papa juga suka bikin dia ngambek apa lagi sampai merajuk kayak begitu. Abisnya lucu sih."

Kirain tadi Papa marah, batinku yang tak bisa lagi untuk menahan tawa. Sementara Mama hanya menggeleng pelan.

"Ajay, jangan marah gitu lah. Gak baik buat kesehatan kalo keseringan marah. Nanti cepat tua loh. Memangnya Ajay mau jadi keriputan?" kataku membujuknya sembari menggelitik tubuhnya yang mungil itu, lalu membawanya ke dalam pangkuan sebelum meletakkan Sanjaya di atas kedua bahuku. Dan aku pun berlarian kecil, seperti mengajak anak itu terbang dengan mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Pa, Ma, itu ada martabak keju dan coklat di atas meja buat kalian," teriakku sambil tertawa karena merasakan hatiku yang menghangat kala Sanjaya menarik rambutku dengan diiringi tawa khasnya, "Nanti Sufala nyusul, mau ngajak main dulu Ajay keliling rumah."

Setelah mengatakan itu aku membawa Sanjaya berkeliling rumah lagi dengan posisi dia masih ada di bahuku seperti tadi. Sanjaya tertawa bahagia saat tangannya kembali kuangkat seolah membawanya terbang dengan berlarian kecil ke segala arah.

"Supelman segela datang untuk membasmi kejahatan. Tunggu kedatangan kami pala monstel. Kalian akan hancul dengan mantla pek-takoek-koek, ayey!"

Dan perkataan Sanjaya barusan telah berhasil membuatku tertawa lepas. Kini tidak ada lagi kesedihan, yang ada hanyalah kebahagiaan. Ternyata dengan hal sederhana seperti ini pun sudah cukup membuatku merasa menjadi orang paling bahagia sedunia. Keluarga itu memang segalanya.

Terima kasih, Ajay, sudah membuat kakakmu ini kembali merasakan apa itu bahagia.

***

Bersambung,

Sukabumi, 15 Maret 2019.

Hallo, Sufala update ❤

Menurut kalian, rasanya punya adik laki-laki itu gimana?

Dan ku persembahkan chapter ini untuk sabahatku yang sekarang lagi ulang tahun. Barakallah fii umriik, pokoknya doanya yang terbaik. Wish you all the best!

Salam manis dariku,

Sri Azmi.

SufalaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang