"Tia itu udah kelas XII SMA." Citrasena kembali berbicara memecahkan keheningan di antara kami. "Dia juga pindah rumah ke daerah sekitaran sini loh. Makanya dia ngajak ketemuan di cafe terdekat yang ada di kota ini."
Apa katanya kelas XII SMA? Itu berarti aku termasuk adik kelasnya dong. Bay the way, aku baru kelas XI SMA loh, masih imut-imut ganteng gitu.
Oke, lupakan. Pasti kalian gak percaya.
"Cafe mana?" tanyaku yang masih fokus mengemudi.
"Tempat biasa yang kita kunjungi selepas pulang sekolah itu loh. Kamu masih ingatkan, Sufala?"
Aku mengangguk mengiyakan. Bagaimana mungkin aku melupakannya? Itu merupakan tempat yang selalu aku kunjungi ketika rasa penat menghampiri. Dan terlalu banyak kenangan yang tersimpan di sana.
Ah, aku tidak ingin lagi mengingat kembali masa lalu yang memilukan itu. Sudah saatnya aku membuka lembaran baru.
Kata orang, tahun baru, lembaran baru, dan pacar pun mesti baru. Namun, untuk opsi yang ketiga jangan di tanya lagi. Kalian pasti sudah tahu jawabannya, kan?
Kalau aku itu jomblo akut.
Apa? Apa? Kalian mau ngetawain aku?
Ketawain aja sana. Gak papa kok, mumpung masih gratis. Soalnya kalau udah berbayar, gak tahu deh nasib kalian nanti gimana.
Udah jadi gelandangan. Mungkin.
Maka dari itu, aku juga ingin tertawa. Ya, menertawakan diri sendiri yang masih saja betah menjadi jomblo karatan hingga saat ini.
HAHAHAHAHAHAHAHAHA!
Miris memang.
Entah sudah berapa kali, aku di ejek sebagai pria tampan, tapi jomblo oleh teman-teman di sekolahan. Mungkin sudah tidak terhitung lagi kali ya? Soalnya itu sudah menjadi rutinitas mereka sehari-hari. Kampret memang!
"Sufala, kamu masih jomblo ya? Ganteng-ganteng kok jomblo sih, bro?! Haha."
Daripada kamu jelek. Pacaran aja sama nenek-nenek, kok bangga sih?
"Sufala, kamu cantik banget sih kayak barbie. Pantes aja masih jomblo sampai sekarang, orang mukanya aja kayak cewek."
Apa fans? Saking tampannya sampai aku di kira perempuan. Padahalkan dia tahu sendiri kalau aku ini berjenis kelamin laki-laki. Dasar manusia.
"Cieee.. Masih betah aja sendiri. Udah berapa lama kamu ngejomblo, Sufala? Oh iya, hampir lupa. Kan kamu itu udah jomblo dari bayi. Ups keceplosan! Haha."
Daripada kamu baru pacaran, udah main gerepe-gerepe aja. Mendingan aku lah yang jomblo, masih suci dan tak ternodai. Right?
"Sendiri aja nih, kapan berduanya? Truk aja udah gandengan tuh. Masa kamu nggak, Sufala?"
Matahari aja masih tetap bersinar meski sendiri. Apa lagi aku, true?
"Sufala, cafe-nya kelewatan. Eh.. Eh.. Berhenti! Kamu kenapa sih melamun terus dari tadi, hah?! Seharusnya kita udah sampai dan masuk ke dalam sana."
Oh ya? Kenapa sedari tadi aku tidak menyadarinya? Ah, betapa begonya diriku.
Dasar, gara-gara status jomblo sialan. Aku jadi kena batunya.
***
Bersambung,
Sukabumi, 24 Februari 2019.
Hayooo siapa di sini yang masih jomblo kayak Sufala?
Coba acungkan tangan! Pintar 😂
Jangan sedih, guys!
Jomblo itu makhluk Tuhan yang paling indah.
Salam manis dariku,
Sri Azmi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sufala
Short StoryBAGIKU MENJADI PRIA TAMPAN ITU MASALAH. Namun, bagi kebanyakan orang di anugerahi wajah yang super tampan itu sangat menguntungkan. Mereka dapat berekspresi apa pun dan di mana pun dengan tanpa harus merasa malu. Kebanyakan kamu hawa di dunia ini pa...