KEESOKAN harinya, Bella terlihat mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur. Kadang ke kiri, kadang juga ke kanan. Dan sialnya ia harus menyadari kenyataan bahwa---dirinya belum bisa tertidur sama sekali!
Sial.
Ini semua gara-gara Justin!
Bisa-bisanya lelaki itu melenggang pergi dengan santainya saat telah membuat jantung Bella ingin meledak tadi malam.
Bella mendengkus kesal lalu merubah posisinya menjadi duduk. Ia yakin, bahwa kini mata pandanya telah tercetak jelas.
"Sial. Aku tidak bisa tidur sama sekali," gerutunya.
Sekarang Bella memilih untuk bangkit dan berenang keluar dari ruangan. Rasanya masih asing saja tempat-tempat di istana ini walaupun Bella sudah tinggal di sini selama beberapa hari.
Bella berenang tak tentu arah. Niatnya hanya ingin menghibur diri karna tidak bisa tidur sama sekali.
Kini pandangan Bella tertuju ke arah beberapa prajurit yang tengah berlatih. Mereka terlihat bermain pedang, menarik panah, dan kegiatan lainnya yang melibatkan aksi.
Tepat di tengah mereka, Bella juga melihat Justin yang nampak sedang mengayunkan pedangnya. Sudah bisa disimpulkan bahwa merman tampan itu tengah berlatih juga. Dan tak lama, pandangan mereka bertemu. Justin sedikit terkejut ketika melihat Bella mematung--memperhatikannya dari kejauhan.
Kemudian Justin tersenyum kecil. Ia lalu berenang mendekati Bella sebelum memberikan isyarat kepada semua pengawal untuk segera meninggalkan tempat itu.
Bella yang terheran ketika melihat para pengawal pergi, sontak ikut membalikkan badan dan hendak menjauh dari sana sebelum sebuah tangan menahan pergerakannya.
"Kau mau ke mana?"
Bella menoleh ke arah Justin lalu mengernyit. "Sepertinya latihannya sudah selesai. Jadi aku pergi saja," jawabnya kemudian. Jujur saja ia sedikit gugup ketika berhadapan dengan Justin seperti ini. Apalagi mengingat kejadian semalam membuat Bella--argh! Lupakan.
"Latihannya baru dimulai, Bella," jawab Justin seraya menarik salah satu tangan Bella dan menaruh sebilah pedang panjang di atasnya.
Tentu saja Bella terkejut. Ia hendak mengembalikan pedang tersebut sebelum Justin mencegahnya.
"Aku ingin berlatih pedang denganmu."
"Aku tidak bisa!" jawab Bella cepat.
"Kan belajar," balas Justin, tersenyum geli.
"Aku tidak mau!"
"Harus mau."
"Tidak! Memangnya kau siapa, berani memerintahku?" tukas Bella kesal.
Mendengarnya, Justin semakin menarik kedua sudut bibirnya. Lelaki ini mendekat lalu menyempilkan beberapa helai rambut Bella ke belakang telinganya. Bella yang tiba-tiba diperlakukan seperti itu sukses tertegun.
"Aku? Aku calon suamimu."
Mata Bella melebar mendengarnya. Pipinya sekarang sudah benar-benar memanas. "Ak--aku baru berusia 17 tahun kau tau! Aku tidak mau menikah muda dan aku tidak mau menikah denganmu! Dasar om-om pedofil!"
Justin tertohok ketika Bella mengatainya seperti itu. Apa ia terlihat sangat tua sehingga gadis ini memanggilnya dengan sebutan om-om?
Justin berusaha lebih tenang. Ia sadar bahwa gadis ini cukup keras kepala. Lantas, Justin mengulum senyum dan menjawab, "Aku tidak bilang bahwa kita akan menikah sekarang, Bella. Dan ... apa aku terlihat setua itu di matamu?"
Bella refleks memalingkan wajahnya. Dan realitanya tentu saja jauh berbeda dengan apa yang diucapkannya. Karna, dengan paras setampan itu, Justin tidak terlihat ada tua-tuanya sama sekali. Bella sempat berasumsi bahwa umur Justin sekitar 20 tahunan. Tapi ... tetap saja. Ah, entahlah. Justin memang menyebalkan!
"Apa ... kau akan benar-benar menikahiku?" cicit Bella, masih tak ingin memandang Justin.
Justin tertawa kecil. Ia mengusap rambut Bella dengan sayang lalu mendekatkan wajahnya. "Tentu saja. Kenapa tidak?"
Damn.
Wajah Bella sepertinya sudah memerah menyerupai tomat! Bella tidak tahan lagi!
Dengan cepat Bella memundurkan tubuhnya dan berusaha untuk menahan kontak agar tidak bertatapan dengan lelaki itu.
"Aku ... aku tidak mau menikah denganmu!"
"Kenapa?"
Bella terdiam sesaat. "Aku hanya ingin menikah dengan orang yang kucintai."
"Dan akulah yang akan menjadi orang tersebut," sambung Justin, semakin membuat Bella tersudutkan.
"Tapi aku tidak mencintaimu!" jawab Bella cepat. Ia kembali bertatapan dengan Justin.
"Sekarang, kan? Tidak tau nanti," balas Justin yang terlihat masih tenang.
Bella tidak bisa menjawab lagi. Ia hanya bisa menatap Justin yang masih tersenyum manis di tempatnya. Entah sudah keberapa kali Bella terlena dengan senyuman itu. Yang pastinya, Bella tidak bisa melihat ada senyuman yang dipaksakan di sana. Bella merasa Justin tersenyum kepadanya dengan tulus.
Saat Bella hendak berbicara lagi, tiba-tiba sesosok pengawal datang menghampiri mereka berdua dan berkata, "Maafkan hamba karna telah mengganggu, Yang mulia. Pangeran Alex dari kerajaan Aera telah datang menyerang di gerbang utama."
Walaupun terlihat masih dalam keadaan tenang, Bella bisa memastikan bahwa Justin cukup terkejut mendengar berita tersebut.
"Siapkan para pengawal untuk melawan mereka. Jangan biarkan Alex berhasil masuk ke dalam sini!" perintahnya kemudian.
Bella yang mendengarkan hanya bisa menautkan kedua alisnya dengan ekspresi bingung. Jauh di lubuk hatinya, ia sempat berpikir,
" ... apakah itu--Alex?"
_______________________________
KAMU SEDANG MEMBACA
Mermaid Princess [END]
Fantasia[Fantasy-Romance] Kedatangan sesosok Pria tampan di kehidupannya, membuat semua pertanyaan yang selama ini terpendam di benak Bella, akhirnya satu demi satu mulai terungkap. Dari kejadian-kejadian gila yang diluar naluri, hingga kebenaran-kebenaran...
![Mermaid Princess [END]](https://img.wattpad.com/cover/180062420-64-k549177.jpg)