MANIK mata berwarna hazel itu secara refleks tertutup ketika seseorang memukul lengannya dengan cukup keras. Gadis ini terjatuh akibat pukulannya yang memang tidak asa-asa.
Ia meringis, kemudian menundukkan kepalanya ke arah lantai.
"Saya sudah bilang berapa kali, kalau kamu itu harus menuruti semua perintah saya! Makin besar kamu makin berani sama saya, ya!" teriak si Pemukul tepat di depan gadis yang tengah merunduk itu.
"Ak--aku ..."
BUKK
Wanita yang memukul gadis itu kembali melayangkan pukulannya pada punggung gadis ini. Sungguh malang.
"Masih mau ngejawab kamu?"
Dengan sedikit terisak, gadis ini menggeleng lemah. Usianya sudah menginjak 17 tahun, tetapi ia masih diperlakukan layaknya seekor hewan.
"Aku ... aku kemarin udah bilang sama Kak Aurel kalo aku mau kerja kelompok dulu, Bu," lirihnya, menjelaskan.
Bersamaan dengan itu, wajahnya dipaksa untuk mendongak hingga ia bisa bertatapan langsung dengan wanita yang tak lain adalah Ibunya itu.
"Kamu pikir saya peduli? Kamu itu bodoh! Gak ada gunanya kamu belajar sampai kerja kelompok begitu! Kamu ini cuma pembantu di sini! INGAT ITU!" teriaknya, tepat di depan wajah Bella.
Ya, gadis yang tengah di siksanya ini bernama Bella. Bella Adreena, yang tak lain adalah anak kandung dari wanita tersebut.
Dan kejadian seperti ini memang sudah tidak asing lagi untuk Bella. Halnya, dari sejak kecil Bella sudah sering diperlakukan seperti ini. Di siksa, dipaksa, dan segala hal yang membuat Bella mengalami mental illness.
Bella juga tidak mengerti kenapa Ibunya itu bisa setega ini kepadanya. Padahal Bella sendiri adalah anaknya. Apakah memang begini watak dari seorang Ibu yang sebenarnya?
"Ah!" Bella menjerit kecil ketika bahunya di dorong, hingga membuat tubuhnya terjatuh ke belakang.
"Lain kali kamu tidak usah kerja kelompok lagi! Pulang sekolah, harus langsung pulang ke rumah! Mengerti?"
Bella mengangguk pasrah. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Air mata yang sejak tadi ditahannya, tak bisa lagi ia bendung. Tangisan gadis ini sekarang pecah.
Bella merasa sesak luar biasa. Ia terisak, seraya menundukkan wajahnya ke arah lantai. Sementara tangannya yang di beberapa bagian sudah terlihat memar, kini jari-jemarinya mengepal.
"Kenapa sih, Bu ... Kenapa Ibu selalu jahat sama Bella?"
***
Pagi ini sepertinya akan turun hujan. Lihat saja, awan mendung sudah tertera jelas di langit sana.
Bella yang baru keluar dari rumahnya untuk bersekolah, tentu saja merasa resah. Apalagi dirinya tidak mempunyai payung satu pun, mengingat Ibunya tidak mau meminjamkannya benda itu. Nampaknya Ibunya itu seakan ingin selalu melihat Bella menderita seperti ini.
Dengan langkah ragu, akhirnya Bella memutuskan untuk tetap berangkat ke sekolah. Kaki jenjangnya ia bawa untuk melangkah menjauhi rumah. Walaupun tadi ada beberapa halangan kecil, tetapi Bella tidak membiarkan hal itu menghalangi niat semangat belajarnya.
Bella sadar, bahwa dirinya tidak sepintar Kakaknya--yaitu Aurel. Bahkan nilai Bella saja tidak cukup untuk masuk ke peringkat 10 besar di kelasnya. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu penyebab kenapa Ibunya itu selalu membeda-bedakannya dengan Aurel.
Drsss ...
Dan benar saja.
Belum sampai memasuki sepuluh langkah, hujan sudah turun dengan cukup deras. Bella yang kaget, langsung saja mencari tempat berteduh yang paling dekat. Gadis ini menggunakan tasnya untuk melindungi kepalanya.
Bella memilih untuk berteduh di sebuah pohon rindang di dekat danau. Sebenarnya ia bisa saja memesan taxi untuk sampai ke sekolah, tetapi uang sakunya itu hanya cukup untuk membeli roti saja. Alhasil, Bella hanya bisa pasrah.
Ya, hal yang bisa Bella lakukan semua ini hanyalah pasrah. Pasrah dan pasrah. Bella hanya membiarkan alur hidupnya mengalir bagaikan air. Bella bisa saja melawan, tetapi saat memikirkannya lagi, Bella tidak cukup nyali. Bella hanyalah sesosok gadis lemah yang hanya menjadi beban untuk ibunya sendiri.
"Hey!"
Sedang asyik melamun, Bella dikejutkan dengan sebuah suara yang tidak diketahui asalnya dari mana. Ia menoleh, dan mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara tersebut. Tetapi nihil. Bella tidak melihat siapapun di sekitarnya.
"Aku di sini!"
Perasaan Bella mulai tidak enak. Bella berasumsi bahwa sekarang ia sudah mengetahui sumber dari suara tersebut.
Dengan ragu, ia pun menengadahkan kepalanya kemudian tersentak ketika melihat seseorang tengah duduk di atas ranting pohon.
"AH!" Saking kagetnya, Bella sampai terjatuh ke belakang. Hal itu membuat sosok itu terkejut dan memilih untuk meloncat dari atas sana.
"Kau tidak apa-apa?"
Bella menarik tubuhnya untuk menjauh dari sosok itu. "Siapa kau!" pekiknya kemudian.
Mendengarnya, sosok itu hanya terdiam. Matanya lalu tertuju ke sebuah kalung yang terlihat keluar dari seragam yang dipakai oleh Bella.
Kemudian, ia tersenyum kecil dan berkata, "Kalung itu bagus. Boleh aku memintanya?"
_______________________________________
KAMU SEDANG MEMBACA
Mermaid Princess [END]
Fantasy[Fantasy-Romance] Kedatangan sesosok Pria tampan di kehidupannya, membuat semua pertanyaan yang selama ini terpendam di benak Bella, akhirnya satu demi satu mulai terungkap. Dari kejadian-kejadian gila yang diluar naluri, hingga kebenaran-kebenaran...
![Mermaid Princess [END]](https://img.wattpad.com/cover/180062420-64-k549177.jpg)