Assalaamu 'alaikum Readers
Selamat membaca jodoh spesial
Semoga suka & semoga bermanfaat
❤❤❤
Hari ini pagi-pagi sekali keluarga Althafurrahman sudah harus berkumpul ditengah-tengah keramaian bandara Soekarno-Hatta. Tepat hari ini, pagi ini Rafka akan bersiap-siap untuk kembali mengendalikan burung besinya yang sudah bertengger di tempatnya dan sudah menunggunya. Hasna dan Ilyas hanya bisa tersenyum melihat sepasang suami istri yang sedang berpelukan sangat erat di hadapan mereka. Siapa lagi jika bukan Rafka dan Faysha.
Kini kehamilan Faysha sudah memasuki bulan terakhir atau bulan kesembilan. Dan tubuh Faysha sudah nampak membesar di bagian perut tetapi di bagian lainnya tidak menampakkan kebesaran alias ia hamil hanya perutnya saja terlihat buncit. Jika kemarin-kemarin Faysha yang nampak manja dan tidak mau ditinggal oleh Rafka. Kali ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami Rafka. Justru sekarang ini Rafka yang tidak mau bahkan berat meninggalkan istrinya yang tengah hamil besar. Tetapi mau bagaimana lagi ini adalah tuntutan pekerjaan dan Rafka harus bersikap profesional namun tetap saja Rafka belum bisa melepaskan tubuh sang istri dari pelukannya bahkan tanpa disadari air matanya sudah jatuh dari pelupuk matanya.
"Habiby, Habiby nggak usah khawatir ya, in syaa Allah aku akan baik-baik saja, Habiby yang fokus saja ya kerjanya, aku dan anak kita akan menunggu kepulangan Habiby."
Dengan berat hati Rafka melepaskan tubuh sang istri dari pelukannya, lalu menatap wajah sang istri yang terlihat lebih tenang dan tegar tidak seperti dirinya yang nampak sedih dan tidak dapat membendung air mata yang akhirnya jatuh tanpa aba-aba.
"Habity harus janji ya sama aku, Habity akan baik-baik saja, kalau bisa jangan lahiran dulu ya, tunggu aku pulang."
Ucapan Rafka yang nampak serius itu langsung mengundang tawa baik Hasna maupun Ilyas bahkan Faysha ikut menertawakannya.
"Habiby ada-ada saja deh, memangnya bisa waktu lahiran diatur?"
"Ya harus bisa Habity, pokoknya aku ingin banget bisa dampingi Habity saat lahiran."
"Aamiin, semoga Allah mengabulkan keinginan Habiby ya, ya sudah Habiby pergi sekarang sana, sudah banyak yang menunggu Habiby."
Faysha menyuruh suaminya untuk segera pergi karena pasti para penumpang sudah menunggu Rafka yang akan mengemudikan pesawat yang akan mereka tumpangi.
Rafka menggeleng cepat. Ia tidak ingin cepat-cepat pergi meninggalkan sang istri tercinta yang sedang hamil tua, "Nggak mau, aku masih mau di sini temani Habity."
Faysha menghela napas pelan, "Habiby harus pergi sekarang, nanti kalau Habiby dipecat bagaimana karena Habiby terlambat datang."
Rafka memikirkan ucapan istrinya yang ada benarnya. Tetapi disisi lain Rafka teramat berat untuk meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua.
"Aka sudah sana pergi, kamu nggak usah mengkhawatirkan istri sama anak kamu, kan ada Mama sama Papa, iya kan Pa?"
Hasna angkat bicara sebab sang putra semata mayang belum kunjung pergi meninggalkan mereka.
Ilyas menganggukkan kepalanya, "Iya Raf, in syaa Allah istri sama anak kamu aman di tangan Papa," sambung Ilyas mencoba untuk menyingkirkan rasa khawatir yang bersarang di benak Rafka.
Dan benar saja perlahan rasa khawatir di benak Rafka akhirnya memudar, ia pun segera bersiap-siap untuk pergi, Namun sebelum itu ia tidak lupa untuk berpamitan kepada istri dan kedua orang tuanya sekaligus kepada sang anak dengan sambil mengelus-elus lembut perut buncit sang istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Spesial
Romance{Tamat} Bagaimana rasanya jika menikah dengan laki-laki yang belum pernah dikenal?, bahkan belum pernah melihatnya, benar-benar seperti membeli kucing dalam karung. Begitulah yang dirasakan Faysha, perempuan cantik dengan sifat petakilannya, dan kar...
