Aku menyisir rambutku dan mematut diri di cermin. Hari ini ada jadwal kuliah jam sepuluh pagi. Tapi aku tetap mandi pagi. Rasanya risih kalau mandi terlalu siang.
“Mbak, ada pulpen yang masih bagus, nggak?”
Tiba-tiba saja Adika nyelonong masuk ke kamar. Kebiasaan, kadang ia lupa mengetuk pintu.
“Memangnya pulpen kamu ke mana? Selalu aja ngrecokin punya Mbak.” Kubuka tempat pensil yang kuletakkan di meja. Aku ambil satu buah.
“Pulpenku dipinjem Juned, eh malah ilang. Emang tuh anak kalau minjem ujung-ujungnya diilangin.” Adika mengerucutkan bibirnya. Wajahnya terlihat menggemaskan kalau sedang begini. Bisa dibilang wajah adikku kombinasi yang sempurna dari ayah dan bunda. Ia memiliki wajah tampan ayah dengan rahang yang tegas, tapi juga memiliki mata dan bulu mata yang indah seperti bunda. Dia manis dan cute saat tersenyum.
“Nih, pulpennya.” Kuserahkan satu pulpen padanya.
Ia tersenyum cerah, “Kesuwun, Mbak. Aku mangkat sekolah disit, ya. Assalamu’alaikum.” (Makasih, Mbak. Aku berangkat sekolah dulu, ya).
“Wa’alaikumussalam,, sing rajin sekolahe. Aja dolan bae.” (yang rajin sekolahnya. Jangan main mulu).
Terkadang aku dan Dika menggunakan bahasa ngapak dalam berkomunikasi. Bahasa ngapak ini adalah ciri khas dari daerahku, kabupaten Banyumas. Purwokerto adalah salah satu kecamatan di kabupaten Banyumas. Selain Banyumas, kabupaten lain di sekitarnya juga banyak menggunakan bahasa ngapak, seperti Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Gombong, dan lain-lain.
Sesaat ada nada mengalun dari ponselku. Ada satu pesan whatsapp masuk dari nomor asing.
Assalamu’alaikum, Adira. Maaf mengganggu, saya Revan, pemilik distro Be Yourself. Saya mohon maaf untuk sikap Deni yang sudah memberhentikan Adira. Jika Adira berkenan, Adira dapat kembali bekerja di distro. Tidak mudah mendapat karyawan yang jujur. Saya masih ingin Adira bekerja di sini. Jika Adira bersedia bekerja lagi di sini dan sekiranya Adira ada waktu, Adira bisa datang ke sini untuk membicarakan lebih lanjut. Nanti saya akan beri tahu kapan Adira mulai bekerja.
Kukerjapkan mataku berkali-kali. Aku membacanya ulang. Rasanya senang sekali, aku diizinkan untuk bekerja lagi. Segera, aku keluar kamar. Ayah tengah menyiapkan bahan-bahan jualan, sedang bunda melipat pakaian.
“Ayah... Bunda....”
Aku duduk di karpet, di sebelah bunda. Derap langkah ayah terdengar teratur, seperti senandung yang membentuk satu irama.
“Ada apa, Dir?” bunda menatapku dengan dahi berkerut.
Ayah duduk di sebelah bunda. Dari raut wajahnya, terlihat jelas ayah begitu penasaran.
“Ada apa, Dira? Kamu kelihatan seneng banget.” Ayah dan Bunda saling menatap.
“Owner distro kirim pesan whatsapp. Katanya Dira boleh kerja lagi di sana. Menurut Ayah dan Bunda, Dira ambil tawaran itu lagi, nggak? Dira sih mau bekerja di sana. Gajinya lumayan. Kerjanya juga nggak berat.” Kutatap ayah dan bunda bergantian. Besar harapanku, mereka mau memberi izin.
“Ehmm... Ayah nggak melarang kalau kamu ingin bekerja lagi di sana. Meski sebenarnya, ayah ingin kamu fokus kuliah saja. Tapi ayah juga mikir, kamu bisa cari pengalaman dan belajar dari pekerjaan kamu. Yang penting, pulangnya ayah yang jemput. Jangan sekali-kali mau diantar laki-laki. Apalagi kamu kerjanya masuknya sore dan baru pulang malam.”
Aku mengangguk pelan, “Iya, Ayah. Dira bakal mematuhi nasihat Ayah. Makasih untuk izinnya.” Aku beralih menatap bunda.
“Kalau menurut bunda gimana?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Adira-Axel (Completed)
General FictionRank #1 muslimah-26/11/2019 Rank #1 religi-16/04/2019 Rank #1 kehidupan-14/07/2019 Rank #2 lifestory-29/06/2019 Rank #2 kehidupan-07/07/2019 Rank #2 hijab-02/01/2020 "Kerudungnya lebar amat, apa nggak gerah? Pakaianmu itu kuno, kayak emak-emak. Sese...
