Axel duduk di sebelahku setelah sebelumnya ke kamar mandi. Aku tersenyum padanya dan kuserahkan ponselnya.
“Tadi ada WA dari Egi...”
Axel membaca pesan whatsapp itu. Dia menatapku.
“Egi ini satu komunitas agnostik. Dulu dia seorang muslim. Sekarang antipati sama Islam. Sebenarnya aku kasihan juga sih. Dia dapat nikmat Islam sejak kecil, terlahir dari keluarga muslim yang taat, tapi memutuskan murtad saat remaja. Pernah aku ngajak dia buat kembali ke Islam, tapi tak mudah untuk mengetuk hatinya lagi. Aku masih berusaha untuk meyakinkannya, sama kayak usaha dia yang selalu memprovokasiku untuk meninggalkan Islam.”
Aku speechless mendengarnya. Bahkan ketika kita terlahir dari keluarga muslim yang taat sekalipun, belum tentu nikmat Islam itu akan dirasakan hingga akhir hayat. Pondasi agama yang kuat menjadi salah satu langkah untuk tetap Istiqomah. Dan hidayah itu bukan hanya untuk dijemput oleh orang yang jauh dari agama. Untuk orang-orang yang menjalankan kewajibannya sebagai muslim pun harus mengusahakan untuk selalu menjemputnya agar tetap istiqomah dan terus memperbaiki diri.
“Mudah-mudahan suatu saat dia kembali pada Islam,” ucapku sembari melempar senyum padanya.
“Aamiin.”
Aku ingin menanyakan perihal pesan whatsapp yang dikirimkan papa Axel, tapi rasanya agak sungkan. Namun aku berhak untuk menanyakannya karena aku sudah menjadi istri Axel. Urusan keluarga Axel dan papanya, menjadi urusanku juga.
“Oya, Pah, tadi aku baca pesan whatsapp papamu. Maaf kalau aku lancang bacanya. Aku salut dengan keistiqomahanmu.”
Axel menaikkan alisnya. Dia menganga sekian detik. Mungkin dia tak menyangka jika aku membaca pesan itu.
“Aku butuh dukunganmu untuk terus istqomah, Mah. Hingga detik ini papa belum bisa menerimaku.”
Kuanggukan kepalaku, “Tentu aku akan selalu mendukungmu. Tetap berdoa untuk papa. Meski berbeda agama, kamu harus tetap menghormati papa dan memperlakukannya dengan baik. Islam mengajarkan kita untuk berbuat baik pada orang tua.”
Axel mengangguk, “Ya, aku selalu mengusahakan untuk memperbaiki hubungan kami. Aku yakin suatu saat papa pasti bisa menerimaku.”
“Aamiin. Oya, Pah, karena ini puasa pertama distro tutup. Katanya sih biar karyawan bisa menjalani puasa pertama bareng keluarga. Udah gitu distro bakal buka cuma pagi sampai sore aja. Biar karyawan bisa fokus ibadah. Malamnya kan bisa fokus tarawih. Nanti aku bakal ngatur jadwal sama Vida, kita akan gantian jaga distro disesuaikan jadwal kuliah. Alhamdulillah Mas Revan pengertian banget. Sebenarnya dia bisa aja nyari karyawan lain yang benar-benar bebas, bukan mahasiswa. Tapi Mas Revan udah percaya sama aku dan Vida, jadi nggak akan ganti karyawan.”
Axel mengangguk, “Bagus, Mah. Coffee shop selama bulan Ramadhan juga bukanya malam setelah tarawih. Jadi aku punya kesempatan buat buka puasa bareng Mamah dan tarawih juga. Alhamdulillah owner coffee shop orangnya taat juga ibadahnya. Jadi dia lebih mementingkan untuk fokus ibadah. Soal rezeki, dia nggak takut rezekinya akan terpangkas karena dipotong waktu jualannya buat ibadah. Dia nggak mau kehilangan Ramadhan begitu saja. Sibuk ngejar uang tapi ibadah dikesampingkan. Apalagi Ramadhan cuma datang setahun sekali.”
“Alhamdulillah banget ya, Pah, kita punya atasan-atasan yang pengertian dan mementingkan ibadah. Jarang-jarang atasan seperti itu. Punya atasan yang baik itu juga rezeki. Rezeki nggak cuma melulu soal materi.”
“Papah... Mamah....”
Aku dan Axel sedikit kaget mendengar panggilan lantang dari teman-teman.
Syifa, Luna, Dito, dan Devano berjalan ke arah kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adira-Axel (Completed)
Genel KurguRank #1 muslimah-26/11/2019 Rank #1 religi-16/04/2019 Rank #1 kehidupan-14/07/2019 Rank #2 lifestory-29/06/2019 Rank #2 kehidupan-07/07/2019 Rank #2 hijab-02/01/2020 "Kerudungnya lebar amat, apa nggak gerah? Pakaianmu itu kuno, kayak emak-emak. Sese...
