24. Bertahan

42.5K 4.7K 229
                                        

Maaf ya author lagi lelet update-nya. Alhamdulillah bulan puasa, pesanan banyak. Selain itu aku n keluarga juga lagi sibuk persiapan pindahan, kalau orang Jawa bilang "boyongan", jadi emang lagi sibuk ngurusin ini itu, beres-beres ini itu.

Happy reading....

Malam ini aku tidak bisa tidur. Isi pesan whatsapp yang entah dari siapa mengusik pikiranku. Bagaimana mungkin aku meninggalkan Axel. Dia butuh dukunganku, kami saling membutuhkan satu sama lain. Aku tak pernah memaksa Axel untuk memeluk agama Islam, ia yang memutuskan sendiri.

Satu pesan whatsapp kembali masuk. Kali ini Cherise yang mengirim pesan.

Adira, aku boleh mampir ke kontrakan sekarang? Kebetulan aku lewat situ.

Tumben sekali Cherise ke sini malam-malam. Kubalas pesannya.

Iya, mampir aja.

Lima belas menit kemudian, kudengar suara mobil berhenti di depan pintu pagar kontrakan. Aku melirik ke arah luar dari balik tirai. Cherise tidak keluar sendiri. Ia bersama seorang pria paruh baya. Aku sambar kerudung instanku yang kugantung di hanger.

Suara ketukan pintu terdengar membahana. Kudekati pintu dan kubuka pelan. Cherise tersenyum padaku, sedang pria di belakangnya menatapku datar, bahkan cenderung dingin. Siapa pria itu?

“Adira, maaf mengganggu. Aku datang bareng opa aku. Opa ini papanya Axel.”

Perkataan Cherise membuatku tersentak. Sungguh aku terkejut setengah mati. Aku tak pernah menyangka papa Axel akan menemuiku di kontrakan di saat Axel sedang bekerja. Aku mengangguk dan tersenyum padanya tapi papa Axel langsung membuang muka. Ini begitu menyakitkan. Aku bisa melihat bara amarah dan kebencian di matanya.

“Masuk dulu, Cherise, Om...” Aku ingin memanggilnya “Papa” karena pria itu sudah menjadi ayah mertuaku. Namun aku tahu diri, beliau belum mau menerimaku sebagai menantunya, makanya memanggilnya “Om”.

Cherise dan Papa Axel masuk ke dalam. Aku sungguh sungkan dan tak enak karena kami tidak punya kursi tamu. Apakah sopan jika aku mempersilakan ayah mertua duduk di karpet?

“Maaf, kami nggak punya kursi tamu, ada satu kursi di dalam, apa perlu saya ambilkan?” ucapku seraya menunduk.

“Nggak apa-apa, Dir. Aku suka duduk lesehan, kok.” Cherise tersenyum ramah. Ia duduk di karpet tanpa sungkan. Papa Axel ikut duduk tapi dari bahasa tubuhnya sudah terlihat bahwa beliau tampak keberatan duduk di bawah.

“Saya buatkan minum dulu, ya.”

“Tak perlu. Saya cuma ingin bicara sebentar,” sela Papa axel segera.

Aku pun mengangguk dan duduk di hadapan mereka. Rasanya nervous begini. Tidak ada seorang pun yang ingin hubungannya dan ayah mertuanya buruk, aku juga ingin selayaknya menantu yang diakui dan dianggap oleh mertua.

“Kamu sudah baca pesan whatsapp saya, kan?” tanya Papa Axel begitu tegas. Tatapan itu seolah menghunjam dan bara kebencian masih mendominasi.

Rupanya pesan dari nomor asing itu adalah pesan dari Papa Axel. Ia memintaku untuk menjauhi Axel. Kenapa bisa sampai seperti ini?

Aku mengangguk dan tak mampu berkata-kata lagi. Ancaman dalam pesannya begitu menyakitkan dan aku tak akan mundur.

“Saya ke sini untuk membicarakan hal itu. Sebagai orang tua Axel, apalagi setelah mamanya meninggal, saya punya tanggung jawab lebih. Saya ingin dia tetap berjalan di jalur yang benar, jalur yang memang sudah menjadi jalannya sejak ia lahir, bukan mengikuti sesuatu hanya karena menikah atau bahkan kamu yang memaksanya untuk mengikuti agamamu?”

Adira-Axel (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang