Adira dan Axel berjalan beriringan menuju kelas. Perut Adira sudah terlihat semakin buncit. Ia bersyukur terbiasa membeli gamis dengan ukuran lebih besar jadi meski perutnya sudah terlihat besar, gamis-gamis itu masih muat di badannya.
Ketika sudah tiba di kelas, suasana kelas sudah cukup ramai karena sudah banyak yang datang.
“Mah, Pah, udah ngerjain tugas yang kemarin belum?” tanya Luna menatap sepasang suami istri itu bergantian.
“Udah. Mamah udah ngerjain malam, aku baru ngerjain pagi buta sebelum Subuh, baru sempat.” Axel mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tasnya.
“Keren kalian, meski aktivitas banyak soal tugas tetap bisa on time.” Luna berdecak kagum.
“Gue eh aku nyontek, ya.” Devano mendekat ke arah keduanya.
“Ini nih tipikal mahasiswa ogah mikir dan jadi parasit di mana-mana, apa-apa nyontek, apa-apa nyontek. Harusnya kamu malu. Mamah, Papah aja yang sudah punya tanggung jawab lebih bisa bagi waktu. Kamu nggak ngerjain emang ngapain aja?” Luna geleng-geleng kepala.
“Gini, nih, mahasiswi tipe main judge dan nyinyir. Emang cuma Mamah Papah aja yang punya kesibukan, aku juga punya, lah. Aku kan punya kerjaan sambilan juga.” Devano mengambil tugas milik Axel.
Seketika Luna mencibir.
“Ya, semua orang juga punya kesibukan. Kamu nggak ngerjain tugas emang karena nggak memprioritaskan tugas. Kalau kamu niat ngerjain pasti selesai, kok,” balas Luna sedikit ketus.
“Ketus amat. Ribet amat ngurusin hidup aku,” seloroh Devano dengan tampang cemberut.
“Itu artinya Luna peduli sama kamu. Ciyeeee....” Dito yang tengah asik berselancar lewat smartphone pun tertarik ikut nimbrung.
“Ciyeee....” Teman-teman yang lain, yang tak tahu permasalahannya pun asal aja latah mengikuti Dito.
“Ih, apaan, sih?” Luna mengerucutkan bibirnya.
“Oh, kamu ribet ngurusin aku karena kamu peduli sama aku? Makasih deh kalau gitu.” Devano nyengir lalu tertawa sembari mengangkat kerah bajunya.
Yang lain tertawa dan sebagian bersorak meledek. Sejak teman sekelas mereka ada yang menikah, yang lain terbawa bapernya dan main jodoh-jodohan, ledek-ledekan, siapa tahu akan ada pasangan lain yang menyusul Adira dan Axel.
“Pah, kayaknya bisnis jual beli tanaman hias makin lancar? Kemarin aku baca status WA-mu, selain tanaman hias sekarang lagi getol bisnis ikan hias juga. Keren banget sih, Pah? Ajarin aku bisnis juga.” Dito duduk di hadapan Axel.
Axel tersenyum lebar.
“Alhamdulillah, pembeli ikan hias nggak cuma dari dalam negeri, orang luar negeri juga banyak yang minat. Aku bakal serius buat nerusin usaha ini. Soalnya aku mikir, aku masih kuliah, kandungan Mamah juga makin besar, kadang gimana ya kalau harus bolos kuliah atau urusan terbengkalai karena pekerjaan sementara aku harus mempertahankan IP tiga koma, syukur-syukur meningkatkan biar beasiswaku nggak dicabut. Aku juga khawatir kalau sering ninggalin Mamah sampai malam. Jadi pekerjaan seperti ini yang paling fleksibel buat aku.” Axel melirik Adira. Adira membalas dengan senyum.
Dito, Devano, dan Luna tersenyum dan bangga dengan sikap dewasa Axel. Mereka tak menyangka, teman mereka yang selengekan bisa berubah begitu dewasa dan bertanggungjawab.
“Kalian nih selalu bikin baper. Perjuangan kalian patut diacungi jempol,” timpal Luna.
Tak lama kemudian Sesha dan Syifa datang mendekat.
“Ada kabar baru, teman-teman... Kabar yang sangat membahagiakan,” celetuk Sesha seraya menempelkan kedua telapak tangan di wajahnya.
“Kabar apaan?” Devano mengernyitkan alis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adira-Axel (Completed)
General FictionRank #1 muslimah-26/11/2019 Rank #1 religi-16/04/2019 Rank #1 kehidupan-14/07/2019 Rank #2 lifestory-29/06/2019 Rank #2 kehidupan-07/07/2019 Rank #2 hijab-02/01/2020 "Kerudungnya lebar amat, apa nggak gerah? Pakaianmu itu kuno, kayak emak-emak. Sese...
