Tak terasa puasa Ramadhan sudah tinggal beberapa hari lagi. Sejauh ini, Axel selalu tamat puasanya sampai Maghrib. Awal puasa memang terasa cukup berat untuknya, terutama saat menahan rasa haus. Mulai pertengahan bulan Ramadhan, Axel sudah lebih mudah beradaptasi. Kadang godaan itu datang. Semisal teman-temannya mengajak main basket siang-siang. Ia senang bermain basket, tapi saat puasa, ia tak ingin melakukan aktivitas yang rawan membuatnya haus. Tak semua teman-teman satu tim basket yang beragama Islam berpuasa. Salah satu dari mereka yang tidak berpuasa sengaja meledek Axel untuk membatalkan puasanya dan ikut bermain basket. Berkat dukunganku, ayah bunda, teman-teman, dan yang lebih utama adalah niat dan tekad kuat Axel, dia berhasil mengalahkan godaan.
Aku dan Axel masih bekerja di luar aktivitas kampus. Namun Axel memintaku untuk berhenti bekerja karena ia tak tega melihat keadaanku yang akhir-akhir mudah sekali lelah. Aku berencana untuk meminta izin Mas Revan terkait rencana resign-ku. Sejak mengerjakan proyek yang sama dengan Alea, Mas Revan lebih sering tinggal di Purwokerto dibanding Bandung.
Seorang istri harus meminta izin pada suaminya jika hendak keluar rumah, begitu juga untuk bekerja. Jika suami tidak mengizinkan, maka sebaiknya istri menurut apalagi Axel memiliki alasan yang kuat. Aku pikir, aku bisa bekerja dari rumah. Mungkin itu pilihan yang baik untukku saat ini. Aku membantu kakaknya Sesha mengelola online shop-nya. Axel masih bekerja di coffee shop, menulis artikel di web sepakbola, membuat website, dan sedang belajar jualan online kaos dan jaket hasil rancangannya dan Devano.
Hari ini aku, Axel, dan teman-teman berkumpul di taman Masjid. Kami membicarakan untuk memberi bingkisan lebaran pada orang-orang yang membutuhkan sebelum kami libur. Yang menjadikan bulan Ramadhan menjadi bulan yang sangat dirindukan jika sudah berlalu, salah satunya seperti ini, banyak kegiatan positif yang bisa dikerjakan bersama-sama, banyak yang berduyun-duyun bersedekah.
“Biasanya isi bingkisan lebaran apa saja?” tanya Kenzie sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling.
“Paling sembako gitu, kan? Ada minyak, beras, gula, telur, kadang ada kue-kue juga,” jawab Luna.
“Nanti kita belanja di tokonya Januar aja. Mamanya kan punya toko sembako,” timpal Dito.
“Iya, boleh juga, ide yang bagus,” Sesha tersenyum cerah.
“Ngomong-ngomong kalian udah zakat fitrah belum, nih?” Aku tatap temanku satu per satu.
Semua kompak menggeleng.
“Eh, Masjid kampus kita kan mengurus zakat juga. Abizar jadi panitianya. Mending kita zakat ke Masjid kampus aja,” seloroh Syifa.
“Zakat fitrah itu aturannya gimana, sih, Mah? Yang aku tahu, zakat itu memberikan makanan pokok ke fakir miskin, kan?” Axel melirikku.
“Iya, zakat fitrah itu wajib dikeluarkan oleh muslim bagi yang mampu menunaikannya dan dikeluarkan setahun sekali, waktunya itu pada awal bulan Ramadhan hingga batas sebelum sholat hari raya Idul Fitri.” Aku mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana.
“Kalau semisal dikeluarkan setelah sholat Idul Fitri gimana, Mah?” tanya Devano.
“Ada hadits yang mengatakan bahwa setelah sholat Idul Fitri, zakat fitrah dinilai sebagai sedekah. Dari Ibnu Abbas r.a. Berkata: Rasulullah Saw mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan ucapan yang kotor, serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat ied, itulah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah salat ied, maka itu sekedar sadaqah. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah serta disahihkan oleh al-Hakim).”
“Terus dari yang aku pelajari, mungkin teman-teman juga masih inget tentang waktu pelaksanaan zakat?” kutatap teman-temanku satu per satu.
“Dari awal Ramadhan sampai sebelum sholat Ied, kan?” Januar memicingkan matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adira-Axel (Completed)
Ficción GeneralRank #1 muslimah-26/11/2019 Rank #1 religi-16/04/2019 Rank #1 kehidupan-14/07/2019 Rank #2 lifestory-29/06/2019 Rank #2 kehidupan-07/07/2019 Rank #2 hijab-02/01/2020 "Kerudungnya lebar amat, apa nggak gerah? Pakaianmu itu kuno, kayak emak-emak. Sese...
