Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dapat foto ini dari instagram, ditag sama salah satu pembaca Adira. Keterbatasan fisik itu bukan suatu penghalang untuk berprestasi.
Happy reading
Aku memapah Axel ke kamar mandi setelah membungkus kakinya yang dibalut gips dengan plastik agar tak terkena air. Sebelum masuk kamar mandi, Aku menuntun Axel berdoa sebelum masuk WC.
"Kaki kiri dulu yang masuk, Pah."
Axel mengangguk. Aku menuntunnya untuk duduk di kursi dalam kamar mandi. Mandi sendiri bukan hal yang sulit untuk Axel. Aku menunggu di luar selama Axel mandi. Kusiapkan pakaian ganti untuk Axel.
Setelah Axel selesai mandi, Aku kembali masuk ke kamar mandi dan memapahnya keluar. Axel sudah melingkarkan handuk di pinggangnya. Tak lupa aku mengingatkan Axel untuk keluar dari kamar mandi dengan mendahulukan kaki kanan dan melafalkan doa. Axel bisa dengan mudah mengenakan pakaian sendiri. Dia kesulitan mengenakan celana. Aku membantu mengenakan celana dalam juga celana luar yang aku masukkan hati-hati dari ujung kakinya, terutama yang dibalut gips. Sebelumnya aku buka plastik pembungkus kaki Axel yang dibalut gips. Awalnya Aku canggung melakukannya, Axel juga tampak malu-malu mau karena tak terbiasa. Namun lama-lama kami terbiasa. Axel masih tetap mengenakan handuk yang melingkari pinggangnya. Sebelah tangannya bersandar di dinding. Gerakan tanganku naik ke atas. Biasanya jika sudah melewati lutut dan menuju paha, Axel menghentikannya dan ia akan meneruskan memakainya sendiri. Kali ini diam saja. Kami beradu pandang. Aku mengernyitkan alis.
"Biasanya kalau udah sampai sini, kamu akan memakainya sendiri."
"Kali ini aku pingin Mamah yang makaiin sampai selesai."
Aku tersipu. Jarak kami yang begitu dekat membuatku bertambah gugup. Aku masih saja merasakan debaran kala berdekatan dengannya. Aku menaikkan kembali celana itu ke atas. Wajahku mungkin sudah memerah. Sebelum aku membantu Axel mengenakan celana luar, satu tangan Axel yang bebas menarik pinggangku hingga tubuhku menghimpit tubuhnya. Aku tersentak.
"Ih, Papah cari kesempatan meluk-meluk," tukasku. Aku bisa mendengar degup jantung Axel yang berpacu lebih cepat, seperti degupan jantungku.
"Udah halal mah sah-sah aja." Axel mengedipkan matanya.
"Celananya pakai dulu." Aku memungut celana Axel dan kembali membantu mengenakannya. Setelah itu, aku kembali memapah lengan Axel.
"Makan dulu, Pah."
"Duduk dulu di situ, Mah." Axel melirik ujung ranjang.
Aku menurut. Aku menuntun Axel untuk duduk di ujung ranjang.
"Makannya nanti aja," ujar Axel sembari tersenyum.
"Kenapa emangnya, Pah?"
"Pingin ciuman dulu sama Mamah," bisik Axel tepat di telingaku.
Lagi-lagi aku tersipu. Sejak tahu nikmatnya berciuman, Axel seakan tak pernah bosan menciumku. Ibarat game, ciuman bagi kami seperti permainan baru yang tidak ada game over-nya. Namun permainan itu tidak membosankan serta masih membuat kami penasaran.