Maaf banget lama updatenya. Masih pada minat ga sama cerita ini? Kadang mikir apa nggak aku update sementara coz mau namatin dua ceritaku yang lagi on going juga (MLW & Arranged Marriage). Dua cerita itu nggak lama lagi tamat. Kalau udah tamat dua cerita itu, aku bisa fokus ke Dear, Mas Duda, dan Adira.
Adira bangun dari posisi berbaring dengan gerak tubuh yang pelan. Perutnya semakin besar, rasa tak nyaman pun kerap menerjang. Beberapa hari ini seolah tak ada makanan berat yang bisa masuk karena ia akan memuntahkannya kembali. Hanya buah-buahan yang masih bisa ia terima. Baik Axel maupun orang tua Adira berusaha memberikan perhatian ekstra karena kehamilan kembar ini sering kali membuat Adira tak bisa mengerjakan aktivitas dengan lancar hingga kadang ia izin tidak masuk kuliah. Untuk duduk atau berjalan saja terasa begitu melelahkan dengan dada yang serasa sesak, pengap, entah... Adira sendiri tak bisa menjabarkannya.
Hari Minggu ini Adira menghabiskan waktu di kontrakan saja sementara Axel membantu temannya jualan sandal di GOR Satria. Sejak Adira hamil, Axel semakin getol mencari tambahan penghasilan, apapun pekerjaannya selama halal.
Adira membuka akun instagramnya, mengintip banyaknya akun penjual baju-baju dan produk bayi yang rasa-rasanya ingin ia borong semua. Sederhana tapi mampu terbitkan senyum di kedua sudut bibirnya.
Ia juga melihat gamis-gamis cantik yang selalu memanjakan mata meski ia tak berniat membeli. Ada satu stel gamis yang sangat menarik perhatiannya. Ia berkhayal memiliki gamis itu dengan ukuran lebih besar dari yang biasa ia kenakan agar muat di saat kandungannya semakin besar. Namun saat melihat harganya di atas lima ratus ribu rupiah, senyum yang sempat melengkung seketika memudar. Baginya harga segitu termasuk mahal.
Di saat yang sama suara salam terdengar menggaung. Adira menjawab salam. Axel masuk ke dalam dengan senyum lebarnya.
“Pah, udah pulang?”
Axel mengangguk.
“Iya, Mah. Lumayan sandalnya laku banyak. Ini upahnya.” Axel menyerahkan lembaran uang pada Adira.
Adira menerimanya dengan senyum mengembang.
“Alhamdulillah, makasih, Pah.” Adira teringat akan ucapan sang bunda bahwa berapa pun penghasilan suami, harus ia syukuri. Jangan mengeluh jika yang diberikan tidak sesuai harapan, takutnya jadi kufur nikmat. Hargai usaha suami yang sudah bekerja keras demi mencukupi kebutuhan. Hargai setiap tetes keringatnya.
“Papah mau minum teh? Biar aku bikinin.” Adira hendak beranjak tapi dicegah Axel.
“Nggak usah, Mah, kamu duduk aja. Aku minum air putih aja.” Axel berdiri dan melangkah menuju dapur. Sebelum mengambil air putih, ia mencuci tangannya lalu mengambil segelas air.
Axel kembali lagi ke depan. Ia mengintip sejenak layar ponsel Adira. Rupanya sang istri tengah mengamati foto gamis satu set dengan kerudungnya yang terlihat begitu cantik.
“Mamah lagi lihatin foto gamis?”
Seketika Adira terkesiap. Ia mengulas senyum.
“Cantik, ya, Pah?” tanya Adira sembari mengerlingkan senyum.
Axel mengangguk. Ia memerhatikan nama akun yang menjual gamis tersebut sekaligus melihat harganya, enam ratus ribu rupiah. Dulu saat masih hidup berkecukupan bahkan lebih dari cukup, baju seharga itu sangat mampu ia beli. Sekarang jika ingin membelinya, ia harus mencari pekerjaan sampingan yang langsung dibayar karena menunggu gaji dari distro tempatnya bekerja, harus menunggu sampai awal bulan depan. Toko online tersebut juga membuka outlet yang menjual offline dan berlokasi di Purwokerto.
“Mamah suka? Mamah ingin gamisnya?” tanya Axel seraya menatap lembut sang istri.
Adira hanya tersenyum tipis dan agak gelagapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adira-Axel (Completed)
General FictionRank #1 muslimah-26/11/2019 Rank #1 religi-16/04/2019 Rank #1 kehidupan-14/07/2019 Rank #2 lifestory-29/06/2019 Rank #2 kehidupan-07/07/2019 Rank #2 hijab-02/01/2020 "Kerudungnya lebar amat, apa nggak gerah? Pakaianmu itu kuno, kayak emak-emak. Sese...
