Hari ini aku ada kelas jam tujuh pagi. Seperti biasa, setiap kuliah pagi selalu saja sibuk mengurus segala sesuatu. Pagi ini aku menyiapkan bekal sendiri karena ingin belajar lebih mandiri. Aku menawarkan pada Adika untuk kubuatkan bekal juga, tapi ia menolak.
Jarak rumah dengan sekolah Adika cukup dekat, karena itu Adika jalan kaki ke sekolah. Sedang aku diantar ayah.
Setiba di kelas, sudah banyak teman yang datang. Aku tak melihat Axel. Ya Allah, kenapa aku selalu mencari keberadaannya di kelas. Rasanya ada yang kurang jika belum memastikan dia berangkat atau tidak. Kenapa perasaanku semakin bertambah dalam padanya? Apalagi setelah aku tahu dia rela tidak diberi transferan uang oleh orang tuanya demi bisa mempelajari Islam dengan mempertahankan Al-Qur’an dan terjemahannya. Aku tersentuh.
Jika boleh meminta, sebenarnya aku tak ingin jatuh cinta padanya. Mungkin semua akan lebih mudah bila aku tak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Logikaku tahu benar, Mas Sakha adalah laki-laki yang baik. Hubungan keluarganya dan keluargaku juga baik. Mungkin tidak akan ada halangan berarti jika aku menerimanya dan menikah dengannya. Namun aku tak tahu, ada keraguan yang begitu besar untuk menerima Mas Sakha. Apa karena aku terlanjur jatuh cinta pada Axel atau aku memang belum siap?
Bu Rohma, dosen Pengantar Ekonomi Mikro masuk ke kelas. Axel belum juga datang. Mungkin dia membolos.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”
“Hari ini kita masuk ke teori perilaku konsumen ya. Sudah ada yang baca bukunya, belum, nih?” tanya Bu Rohma seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
“Beluuummmm,” jawab kami serempak.
“Ya sudah kita bahas bareng-bareng ya. Kegiatan ekonomi itu ada tiga, ya. Apa saja?”
“Produksi, distribusi, dan konsumsi," jawab kami kompak.
“Kalian sudah tahu kan definisi untuk masing-masing kegiatan ini? Kalau konsumen itu apa?”
“Orang yang melakukan kegiatan konsumsi,” jawab Januar lantang.
“Iya, betul. Nah dalam mengonsumsi barang dan jasa, akan tampak perilaku konsumen dalam melakukan kegiatan konsumsi tersebut. Ada perilaku konsumen rasional, ada yang irasional. Ada yang mau memberi contoh dari kedua perilaku ini?” tanya Bu Rohma menyapu pandangannya ke segala sudut.
Kuberanikan diri mengangkat tangan.
“Ya, silakan Adira.”
“Contoh perilaku konsumen yang rasional itu adalah membeli barang karena memang membutuhkannya, memperhatikan asas manfaatnya bukan sekedar beli tanpa memperhatikan kegunaan barang tersebut, membeli barang karena kualitas produk tersebut baik, dan membeli barang dengan harga yang sesuai dengan kemampuan. Sedangkan contoh perilaku konsumen yang irasional itu contohnya membeli barang karena gengsi atau prestise, berpatokan pada merk tertentu, yang terkenal, dan membeli sesuatu karena tertarik dengan promosi dan iklan. Jadi konsumen kadang membeli barang karena penasaran, hanya karena tertarik iklan, padahal dia tidak membutuhkan barang itu.”
“Ya, apa yang dijelaskan Adira itu sudah sangat jelas.”
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar menggema. Axel masuk ke ruangan dan meminta maaf pada Bu Rohma karena datang terlambat.
“Kamu tahu kan peraturan saya di kelas? Mahasiswa yang terlambat lebih dari sepuluh menit, maka silakan menunggu di luar. Tidak usah mengikuti kelas saya,” tegas Bu Rohma lantang.
Atmosfer terasa menegang.
“Iya, Bu, saya tahu. Mohon maaf sebelumnya.” Axel menunduk. Wajahnya terlihat pucat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adira-Axel (Completed)
Fiksi UmumRank #1 muslimah-26/11/2019 Rank #1 religi-16/04/2019 Rank #1 kehidupan-14/07/2019 Rank #2 lifestory-29/06/2019 Rank #2 kehidupan-07/07/2019 Rank #2 hijab-02/01/2020 "Kerudungnya lebar amat, apa nggak gerah? Pakaianmu itu kuno, kayak emak-emak. Sese...
