Hari ini aku izin kuliah jam sembilan karena waktunya bersamaan dengan lomba menulis kaligrafi. Aku tertarik mengikuti lomba karena hadiahnya yang menggiurkan. Juara pertama mendapatkan hadiah senilai lima juta rupiah, juara kedua empat juta rupiah, dan juara ketiga mendapat hadiah tiga juta rupiah. Aku membayangkan jika aku berhasil meraih posisi tiga besar, uangnya bisa aku gunakan untuk menyewa kontrakan. Kondisi Axel sudah lebih baik. Setelah dia bisa berjalan normal, kami memutuskan untuk tinggal di kontrakan.
Lomba kaligrafi ini diadakan khusus untuk mahasiswa. Saat mendaftar minggu lalu, jumlah pendaftarnya sudah cukup banyak dari berbagai universitas. Aku tahu pesaingku banyak. Tentunya karya mereka juga bagus-bagus. Namun aku tetap optimis. Jika Allah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin.
Sebelum berangkat, aku pamitan dulu pada Axel. Dia tengah mengetik artikel untuk website sepakbola. Selama kakinya belum benar-benar pulih, bekerja di depan layar memang menjadi pilihan terbaik.
“Pah, aku berangkat, ya. Doakan aku semoga menang.”
Axel tersenyum dan mengusap pipiku lembut.
“Aku pasti doain, Mah. Moga kamu menang. Aamiin.” Axel mengecup keningku lalu beralih mencium bibirku.
Terakhir aku jabat tangannya dan menciumnya. Tak lupa aku memohon doa restu pada Ayah Bunda.
Aku berangkat naik ojek online muslimah yang sudah aku pesan sebelumnya. Lomba diadakan di universitas lain. Sebelumnya aku dan Luna pernah datang ke sana untuk mengecek lokasi lomba. Jadi aku tak lagi bingung mencari ruangan diadakan lomba.
Setiba di sana, aku menghampiri meja panitia. Kuserahkan nomor peserta beserta keterangan biodata singkatku yang aku dapatkan saat mendaftar. Salah seorang panitia mengernyit, mengamati kondisi tanganku.
“Kamu beneran peserta lomba?” tanyanya seraya menaikkan alis.
Aku mengangguk, “Iya, buktinya saya memegang kartu ini.”
“Tunggu... Tunggu... Apa lomba ini juga diperuntukkan untuk disabilitas?” ia melirik temannya yang duduk di sebelahnya.
Perempuan berjilbab abu-abu itu ikut mengamati tanganku begitu menelisik. Ada ekspresi wajah yang sesaat berubah kaget.
“Memangnya kamu bisa menulis? Sebenarnya lomba ini bukan untuk orang-orang difabel.”
Aku tak heran dengan tatapannya yang terkesan meragukanku. Kondisi fisikku yang tak sempurna sudah biasa dipandang sebelah mata. Ingatanku melayang ke masa kanak-kanak dulu, saat ayah mengantarku lomba. Seorang panitia menolakku karena kondisi tanganku. Untungnya ketua panitia mengizinkanku. Apa yang tengah aku hadapi sekarang seperti dejavu ke masa silam.
“Kemarin saya sudah mendaftar. Saya diberi kartu ini, artinya saya diperbolehkan ikut.” Aku tak akan menyerah begitu saja. Barangkali mereka tidak teliti dengan aturan lomba yang diperuntukkan untuk mahasiswa tanpa kecuali.
“Jangan-jangan ini ada yang salah. Semua peserta memiliki tangan yang normal. Bagaimana mungkin ada peserta yang tak punya jari?” Perempuan itu setengah berbisik dengan teman yang duduk di sebelahnya. Aku bisa mendengarnya.
“Dalam peraturan disebutkan lomba untuk mahasiswa. Status saya mahasiswa, jadi saya boleh ikut, kan?” Aku menatap tajam panitia lomba itu. Rasanya tak adil jika aku ditolak hanya karena kondisi tanganku. Di mana hak asasi manusia yang dielu-elukan? Di saat semua orang berkoar-koar untuk menghargai hak asasi manusia, saat ini di depanku justru terjadi sebaliknya. Mereka membedakanku dengan yang lain.
“Sepertinya kamu nggak bisa ikut,” tegas perempuan berjilbab itu.
“Kenapa tidak bisa? Saya sudah dapat kartunya. Kenapa saya diperlakukan tidak adil?” Aku tak peduli, banyak orang menoleh padaku. Aku tidak bisa diam. Aku akan memperjuangkan hakku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adira-Axel (Completed)
General FictionRank #1 muslimah-26/11/2019 Rank #1 religi-16/04/2019 Rank #1 kehidupan-14/07/2019 Rank #2 lifestory-29/06/2019 Rank #2 kehidupan-07/07/2019 Rank #2 hijab-02/01/2020 "Kerudungnya lebar amat, apa nggak gerah? Pakaianmu itu kuno, kayak emak-emak. Sese...
