Maaf ya semalam mau ngetik eh ketiduran... Udah ngecewain pembaca yg udah nunggu. Tapi yg paling nyesek, ngecewain suami. Kawit tangi Subuhan, bojone nggrundeng bae, ditinggal bubu. Mungkin efek capek pas Pemilu, lembur ampe dini hari. Teman malah ada yang sampai sakit.
Sepertinya pembaca terbagi menjadi dua kubu yang sama kuat ya, tim Dira-Sakha vs tim Dira-Axel.
Happy reading...
Aku masih terpaku pada keterkejutanku. Apa Mas Sakha serius mengajakku ta'aruf?
“Kamu nggak harus menjawab sekarang, Dir. Sebelumnya Mas jelasin dulu kenapa Mas mengajakmu berta'aruf. Pertama kenapa aku memintamu di sini, bukan ke rumahmu, ke orang tuamu,” Mas Sakha mengembuskan napas, “aku ingin kamu memikirkan hal ini sendiri dulu. Aku yakin kalau aku langsung mengajakmu ta'aruf di depan orang tuamu, mereka insya Allah tak keberatan, mungkin akan menasihatimu untuk menerima karena orang tua kita berteman baik. Aku ingin kamu memutuskan dari hati kamu, tanpa terpengaruh pihak lain.”
Aku masih saja membeku.
“Kedua, sudah lama Mas mengagumi kamu. Usia kita terpaut sembilan tahun, cukup jauh. Tapi entah kenapa aku yakin sama kamu dan sifat kamu juga cukup dewasa untuk gadis seusia kamu. Aku menyukai argumen-argumen kamu saat berdiskusi di kelas. Aku kagum pada semangat kamu. Aku kagum dengan keshalihanmu. Mas suka Dira apa adanya.”
Aku terdiam. Kata-kata Mas Sakha mungkin terlalu berlebihan. Aku merasa tidak sebaik itu.
“Ketiga, orang tua sudah menginginkanku untuk menikah. Aku juga sadar diri, usiaku sudah matang, sudah saatnya membangun keluarga.”
Aku masih sibuk mencerna semua penuturan Mas Sakha. Aku masih tak percaya. Selama ini aku menganggapnya seperti seorang kakak.
“Jadi gimana, Dir? Kalau kamu belum siap, atau nggak ingin berta'aruf denganku, aku nggak akan memaksa dan aku akan terima apapun keputusanmu.”
“Mas, boleh tidak aku minta waktu? Aku ingin memikirkan hal ini baik-baik. Saat aku rasa butuh pendapat orang tua, aku akan meminta pendapat mereka. Dan yang pasti, aku ingin sholat istikharah dulu, Mas.”
Mas Sakha mengangguk, “Tentu, aku akan memberimu waktu. Kalaupun kamu menerima tapi belum siap menikah, Mas akan menunggu sampai kamu siap.”
Aku tak merespons.
“Kenapa kamu diam? Kamu...”
“Maaf, Mas. Aku hanya belum percaya Mas Sakha mengajakku ta'arufan. Selama ini aku menganggap Mas Sakha seperti seorang kakak. Aku juga punya banyak kekurangan. Mas Sakha bisa mendapat perempuan lain yang jauh lebih baik.”
Mas Sakha tersenyum dengan lesung pipinya yang khas.
“Aku mengajakmu ta'arufan itu artinya kamu istimewa di mata saya. Aku tidak punya calon lain. Saat aku memikirkan pernikahan, yang ada di pikiranku itu nama kamu.”
Aku diam.
“Ya, udah, Mas, Dira keluar dulu, ya. Terima kasih udah kasih Dira waktu untuk memikirkan jawabannya.”
Mas Sakha mengangguk. Senyum kembali terkerling dari sudut bibirnya.
“Baik, Dira, silakan.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Aku menemui Luna yang menungguku di luar. Kami berjalan menuju sekretariat Himpunan Mahasiswa Kreatif. Akan ada pelatihan membuat kerajinan berbahan dasar pelepah pisang. Jadi tiga orang wakil dari komunitas kami sudah survey ke desa, tempat kami akan mengadakan pelatihan. Di sana banyak sekali pohon pisang. Warga hanya mengambil buahnya saja. Kami akan mengajak warga untuk memanfaatkan pelapah pisang menjadi kerajinan tangan bernilai seni tinggi, seperti lukisan, tas, sandal jepit, tempat pensil, dan lain-lain. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan penghasilan warga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adira-Axel (Completed)
Aktuelle LiteraturRank #1 muslimah-26/11/2019 Rank #1 religi-16/04/2019 Rank #1 kehidupan-14/07/2019 Rank #2 lifestory-29/06/2019 Rank #2 kehidupan-07/07/2019 Rank #2 hijab-02/01/2020 "Kerudungnya lebar amat, apa nggak gerah? Pakaianmu itu kuno, kayak emak-emak. Sese...
