Cerita Adira ini nggak cuma disukai para single, entah yang remaja atau dewasa, emak-emak juga banyak yang suka. Alhamdulillah. Aku pikir cerita genre fiksi remaja nggak akan dilirik sama teman-teman pembaca yang biasa baca genre romance atau bertema pernikahan di lapakku.
Yang aku suka saat nulis genre fiksi remaja itu lebih ringan, ada lucunya, ada baper ala-ala remaja, sweet gimana gitu ya...nggemesin. Karakter2nya juga nggemesin, masih yg labil, yg plin plan, yg konyol, usil, lucu, yg sedang belajar istiqomah dan memegang prinsip, dll.
Voment terus ya, aku up klo aku rasa vote & commentnya udah cukup banyak.
Happy reading...
Hari ini aku masih ada satu kuliah lagi, Pengantar Bisnis, mata kuliah yang diampu Mas Sakha. Dia mengajar beberapa mata kuliah. Kadang aku ikut merasa bangga saat banyak temanku mengatakan bahwa dia dosen yang cakap dan asik cara mengajarnya. Mungkin karena aku mengenalnya dari kecil dan dia sudah seperti sosok kakak untukku. Apalagi aku dan Kiara juga akrab. Sesekali Mas Sakha mengajakku dan Kiara jalan-jalan ke toko buku, membelikanku beberapa buku. Kami bertiga sama-sama senang membaca.
Biasanya aku bersemangat setiap kali mengikuti kelas Mas Sakha. Namun kali ini, aku tak begitu bersemangat. Aku masih memikirkan Axel. Astaghfirullah... Dulu aku pernah bertanya-tanya kenapa temanku bisa begitu galau hanya karena urusan asmara. Bahkan banyak yang menangis semalaman pasca putus cinta. Aku heran, kenapa mereka menyerahkan hati mereka begitu saja pada seseorang yang belum halal. Bahkan mereka juga bermudah-mudahan dalam berkhalwat dengan lawan jenis, berpacaran, dan sering hang out berdua.
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan," (H.R. Ahmad).
Sekarang aku merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, tapi di saat yang sama logika mematahkannya. Sungguh tak mudah... Jika sedang tak berada di tempat umum, mungkin bisa saja aku menangis seperti Sesha. Aku benci mengatakan ini, seperti menempatkan diri untuk menjadi bagian dalam jajaran cewek labil yang galau dan merana karena patah hati. Dan sayangnya, aku sudah menjadi bagian itu. Adira yang dulu merasa hidupnya baik-baik saja tanpa cinta, tanpa memikirkan laki-laki, kini seolah menjelma menjadi seseorang yang mau saja ditindas perasaan.
Kupejamkan mataku sejenak lalu membukanya lagi. Jika ditanya hal terburuk apa yang aku rasakan hari ini adalah, aku merasa tak mengenal dan memahami diriku sendiri. Aku seolah menjelma menjadi orang asing. Aku jatuh cinta di saat aku belum menginginkannya.
I'm only human... I'm only an ordinary girl... I'm just taking a step to the new phase of my life. Fase baru? Ya, fase di saat aku mengenal perasaan tertarik dan menyukai lain jelas. Mungkin telat dibanding teman-temanku yang sudah merasakan jatuh cinta saat usia SMP atau SMA. Bahkan banyak juga yang berpacaran di usia segitu. Namun, rasa ini memercikkan sensasi yang begitu berbeda. Aku tahu, dia bukanlah orang yang sempurna. Aku tahu kadang dia membuatku kesal. Namun nyatanya, aku tak melihat kekurangannya. Di mataku dia istimewa dengan segala sifatnya.
Aku masih berpikir jernih dengan mencoba mematikan rasa ini agar tak berlanjut. Aku tak mau menggantungkan harapan pada manusia, karena aku tak mau kecewa. Aku hanya akan berharap pada Allah. Jauh di lubuk hatiku, aku berharap Allah akan menunjukkan jalan pada Axel untuk mau belajar mengenalNya, mengenal indahnya agamaku. Meski dia begitu antipati terhadap agama, aku masih punya keoptimisan, suatu saat hatinya akan terketuk.
Silakan saja jika semesta berkonspirasi menertawakanku, menganggapku buta dan bodoh. Aku hanya ingin sejenak menepis semua idealisme yang bercokol di kepala. Izinkan aku sejenak untuk menjadi gadis biasa, benar-benar biasa... Untuk menjadi gadis yang optimis pada kisah cinta yang berakhir manis kendati terjanggal banyak perbedaan. Izinkanku mencintainya dalam diam dengan doa yang selalu tercurah untuknya... Beri dia kesempatan untuk mencari hidayahMu ya Allah... Aku mencintainya dan rasanya sangat manusiawi jika aku berharap bisa bersama dengannya dalam ikatan halal dan diridhoi olehMu...suatu saat nanti... Namun aku tak akan menolak untuk segala ketentuan yang telah Engkau tetapkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adira-Axel (Completed)
Fiksi UmumRank #1 muslimah-26/11/2019 Rank #1 religi-16/04/2019 Rank #1 kehidupan-14/07/2019 Rank #2 lifestory-29/06/2019 Rank #2 kehidupan-07/07/2019 Rank #2 hijab-02/01/2020 "Kerudungnya lebar amat, apa nggak gerah? Pakaianmu itu kuno, kayak emak-emak. Sese...
