Akhir Rani

21.3K 3.9K 195
                                        

Sudah sejak lama ayah Rani pensiun, ibunya yang hanya ibu rumah tangga,  adik-adiknya yang butuh pendidikan membuat Rani sebagai anak pertama mau tidak mau menanggung beban ekonomi.

Bukannya mudah, jalan karir yang ditempuhnya sangat sulit. Menjadi wanita karir dari luarnya terlihat hebat, keren, tangguh.

Namun di dalamnya Rani menekan egonya, ia tidak pernah membeli barang mahal seperti baju dan tas, makanpun seadanya meski ia sangat suka makanan Jepang yang harganya cenderung mahal, kalaupun ada voucer atau diskon perusahaan tentulah Rani tidak malu menggunakannya.

Pasangan? Ya mereka selalu menghilang dengan alasan Rani punya banyak teman pria lain, Rani doyan menebar banyak umpan.

Salah besar.

Rani hanya butuh teman, tapi karena fisiknya yang cantik para pria lah yang banyak mendekati, sedangkan para wanita malah jauh. Entah karena iri atau karena illfeel Rani haha hihi sana sini.

Kadang Rani lelah dengan hidupnya, kadang ia ingin lari. Seperti yang ditawarkan Luke padanya...

"Tante, ayo kita lari dari dunia kita. Kita bisa hidup bebas, travel, makan, gak ada lagi tekanan, judgement, kita bisa bebas."

Jujur Rani sempat tergoda. Namun cintanya pada keluarga, Jose, Gita, Iis hingga Doni membuatnya kembali menggunakan akal sehatnya.

Ia tidak boleh egois. Lagipula Luke tidak mencintainya, pemuda itu hanya senang karena Rani supel, lucu, dan punya keinginan sama dari lubuk hatinya..

Ingin pergi dari dunianya.

Selain melukai perasaan keluarga serta para sahabatnya, Rani juga akan melukai hati seorang gadis yang tulus mencinta Luke jika mengiyakan.

"Enggak. Aku memang kadang benci dunia ku, kadang aku ingin lari menanggung beban ini Luke. Tapi... Hhhhh Aku perempuan yang kuat. Ini hanya kerikil, kalau aku tidak bisa membersihkan kerikil maka aku tidak akan pernah bisa membersihkan batu besar."

Rani meraih jemari Luke.

"Pikirin sekali lagi. Kamu siap kehilangan Mama Papa kamu? Abang kamu? Luke, kamu pewaris perusahaan ini. Bayangkan kalau kamu lari dan Papa mu tidak bisa lagi menanggung ini? Bayangkan berapa karyawan yang kamu hilangkan pekerjaannya? Luke 25 sudah usia dewasa." Rani lemah lembut membelai rambut pemuda yang lebih tinggi darinya itu.

"Dewasalah dek, menikah tidak semenakutkan itu." Sambungnya.

"Tapi aku gak Cinta Yuki, aku masih ingin menikmati masa muda, masih banyak yang harus ku lakukan sebelum terikat."

"Apa? Traveling? Clubbing? Sex? Kamu bisa ngelakuin itu semua bahkan saat kamu sudah menikah. Yuki itu seumuran kamu, kamu pikir dia gak suka traveling, clubbing, sex? Dia suka! Lalu apa? Bareng aja. That's so simple Luke."

Luke yang sedari tadi tidak berani menatap Rani kini mengulas senyum kecilnya melihat gadis itu berceramah panjang.

"Kamu hanya harus mengenal Yuki, dia Cinta kamu. Sejak lama, sejak SMA, dimana lagi kamu dapat perempuan cantik, anak konglomerat, yang mencintai pria bodoh yang hanya tahu lari dari kenyataan kayak kamu? Hah?" Rani memukul pelan bahu Luke.

"Aku gak bodoh tante!"

"Aku bukan tante mu!"

Rani dan Luke beratatapan lalu saling tertawa. Tawa yang ringan dan sangat lama.

Tawa yang sebenarnya jadi akhir Luke dan Rani.

Keduanya menerima dan mensyukuri takdir. Rani mensyukuri pekerjaannya, teman-temannya, keluarganya.

Luke mensyukuri Rani menasehatinya. Karena karena nasehat Rani ia tahu, kadang pilihan kita salah, tapi pilihan Tuhan selalu jadi yang terbaik.

Luke sudah bahagia dengan takdirnya.

"Elo beneran di pindahin ke Sultan Hasanuddin? Ke Makassar Ran?" Doni terkejut mendengar beberapa staf membicarakan pemindahan Rani. Segera pemuda itu masuk ke ruangan Rani meminta penjelasan.

"Iya. Hehe." Rani sibuk memasukkan barang-barangnya tanpa beban.

"Gue kirain kasus elo sama Luke udah selesai? Kenapa musti di pindahin sama perusahaan? Gue bisa kok ngelobby... "

"Enggak Don. Gue setuju, ini pilihan gue. Tanpa lepas tanggung jawab dari keluarga, tanpa harus jauh dari sahabat... Bitch naik pesawat dari Makassar - Jakarta cuma sejam lebih, deket." Rani menghela nafas dan berjalan ke arah Doni.

"Dengan ini, Yuki akan merasa tenang. Luke juga akan tetap memandang ke depan karena sudah tidak ada gue di belakang. Dan hhhh gue muak denger gosip di sini. Wkwkwk kan kalau di Makassar nama gue kembali bersih, kali aja gue nyantol sama pilot pas pindah ke bandara sana. Ya ga?"

Rani menaik-naikkan alisnya.

"Tapi kalau..." Doni menarik nafas panjang. "Gue kangen Ran?"

"Eh?"

"Kalau gue kangen sama elo gimana?"

Sebuah langkah besar diambil Doni.

Tidak bisa. Doni tidak bisa lagi memendamnya, Rani akan pergi, meski bisa dijangkau tetap saja. Gadis itu tak akan ada lagi di dekatnya tiap hari.

Tidak bisa lagi dipandangi dari jauh, tidak bisa lagi dinikmati senyum renyahnya, candaan dan cerewetnya. Atau pose anehnya saat selesai pole dance.

"Emang... Elo bakal kangen gue Don?"

Doni mengangguk yakin. Rani tersenyum lebar melihatnya, dilebarkannya lengannya agar Doni ke sana. Mendekapnya. Setidaknya sebagai salam perpisahan.

Meski hanya sementara tetap saja itu perpisahan.

"Emang boleh gue peluk elo Ran?"

"Boleh. Kenapa enggak?"

Doni dengan segala gemuruh hatinya berjalan, semakin dekat langkahnya namun rasanya semakin jauh juga Rani akan pergi darinya.

Sampai tepat di hadapan Rani, Doni langsung memeluk erat gadis yang sudah lama diperhatikannya itu.

Erat. Lama. Hangat.

"Ran."

"Hem."

"Boleh gue minta satu hal sama lo?"

"Apa?"

"Pandang gue sebagai laki-laki. Karena sebenarnya... Gue laki-laki yang sudah menaruh hati sama lo sejak lama," Doni makin mengeratkan dekapannya.

"Gue tulus sama lo Ran, gue tahu elo bakal kaget. Tapi... Gue sayang elo. Kasi gue kesempatan."

Ada beberapa lama, Rani dan Doni larut dalam dekapan masing-masing. Perasaan Rani campur aduk, bingung, senang, bimbang.

Tapi tentu Rani tahu betul Doni pria yang baik. Yang tidak mungkin pergi tanpa alasan atau lari dari kenyataan.

Tapi adakah rasa untuk Doni di hatinya?

"Don. Elo mau nunggu gue?"

-To be continued -

(Don't forget to touch the stars Button if you like the story 😊 👉🌟) 

I DON'T WANNA GET MARRIED!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang