Part 9

37 17 7
                                    

*
*
*

Gagal sudah.

Usahaku untuk menutupi kejadian tadi malam pun gagal. Sekarang, Selly sudah tidak sabar untuk mendengar penjelasanku.

Melihat Selly yang seperti itu, aku pun mencoba untuk menghindarinya dengan berjalan mendahuluinya menuju kelas. Tapi, setelah sampai di kelas, Selly masih menatapku dengan tatapan penuh tanya.

"Sara, jelaskan padaku sekarang. Kenapa Donghyuck bertanya begitu tadi? Apa terjadi sesuatu pada kalian?" tanya Selly penuh curiga padaku.

Yeri yang baru masuk ke kelas pun penasaran dengan pertanyaan yang dilontarkan Selly padaku.

"Ada apa ini?" tanya Yeri yang baru saja meletakkan tasnya di mejanya.

"Begitu bagaimana?" tanyaku pada Selly.

"Nggak usah sok nggak tahu deh. Ceritain sekarang atau kamu nggak dapat contekan dariku." desak Selly.

"Apa? Sara belum ngerjain PR Matematika?" tanya Yeri kaget.

"Nanti aku ceritain. Sekarang kasih aku contekan, please.." mohonku pada Selly. Selly pun mengeluarkan buku matematika miliknya lalu menyodorkannya padaku.

"Aku tunggu cerita darimu ya.." ancam Selly yang membuatku tidak berkutik.

Yeri hanya menatapku dan Selly dengan bingung. Ia tidak tahu dengan kejadian tadi.

Selesai menyalin PR milik Selly, aku pun mengembalikan buku matematika itu pada Selly yang sedari tadi menceritakan kejadian yang ia lihat tadi pada. Tak lupa, aku mengucapkan terima kasih pada Selly. Sedangkan Selly kembali menatapku tajam.

"Ceritain sekarang" kata Selly tak sabaran.

Aku menghela nafas pasrah. Aku pun menceritakan kejadian tadi malam mulai dari awal aku berangkat menuju taman dekat sekolah, lalu Donghyuck memayungiku saat hujan, kami berteduh di kafe, kemudian aku diantar sampai rumah oleh Donghyuck.

"Jadi, kalian sudah pacaran?" Tanya Selly padaku.

"Nggak." Jawabku.

"Katanya kamu Tanya sama Donghyuck, dia suka kamu apa nggak? Terus dia jawab apa?" Tanya Yeri penasaran.

"Dia nggak jawab apa-apa."
"Nggak jawab? Cowok kok suka php-in cewek sih." Kata Selly sedikit marah.

"Morning guys, pada cerita apa sih? Kok kelihatannya seru banget." Kata Jeno yang baru masuk ke kelas.

"KEPO!!" jaawabku dan kedua temanku secara bersamaan.

.
.
.

Kepalaku pusing. Dunia serasa berputar-putar. Mungkin aku terserang flu karena hujan-hujanan tadi malam. Apa aku harus izin ke uks saja ya?

Aku sedang memegangi kepalaku yang pusing. Pelajaran masih berlangsung dan aku sudah tidak kuat untuk mendengarkan ocehan Pak Supriyadi tentang rumus matematika yang rumit. Bahkan kepalaku sudah tidak kuat untuk diangkat. Rasanya ingin sekali aku merebahkan diri di kasur empuk dan istirahat dengan nyaman. Tapi aku sudah tidak kuat mengangkat tangan untuk meminta izin pergi ke UKS.

Akhirnya aku meletakkan kepalaku yang sudah terasa berat di meja. Aku tidak peduli kalau Pak Supriyadi akan marah jika aku tidak memperhatikan pelajaran. Kepalaku sudah tidak kuat lagi untuk diangkat.

"Ra, kamu sakit?" tanya Selly yang duduk di sebelahku.

Aku terlalu lemas untuk menjawab pertanyaan Selly. Aku memejamkan mataku. Menghiraukan pertanyaan Selly.
Pelajaran matematika selesai. Selly langsung mendekat ke mejaku.

Hypocrisy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang