4. Dia mimpi gue

4.9K 297 19
                                        

"Aku yang menawarkan duniaku untuknya, menawarkan bahu agar bisa dijadikan sandaran. Dia tidak membuatku risih, karena satu fakta yang bernama cinta."

****

Galang masuk dengan langkah santai ke dalam rumahnya, jaket hitam tersampir di bahu kanannya, sesekali dia bersiul dan jangan lupakan sebuah senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah tampannya.

"Baru pulang, Lang?" tanya Fina, mama Galang.

"Assalamualaikum, Ma. Alhamdulillah akhirnya anak mama yang ganteng ini bisa pulang dengan keadaan selamat dan sehat sentosa." Galang menyalami mamanya dan duduk di sebelah wanita paruh baya itu.

"Ada Reta, dia nungguin kamu di kamar. Dia udah ada di sini sejak 1 jam yang lalu, nunggu kamu pulang."

Galang beranjak dari duduknya dan dengan langkah cepat langsung menuju kamarnya.

Galang membuka pintu kamarnya dengan kasar dan menemukan Reta sedang tidur sambil memainkan HP di kasur Galang. Gadis itu sudah berganti pakaian menjadi setelan rumahan.

"Berapa kali gue bilang supaya gak main masuk kamar gue tanpa izin?" Galang menarik Reta yang masih tiduran.

"Lang, gue sahabat lo."

"Mau lo sahabat gue atau bukan, setidaknya lo masih tau sopan santun supaya gak masuk kamar orang tanpa izin," bentak Galang.

"Gue cuma nunggu lo pulang, gue gak ngapa-ngapain kamar lo, Lang. Tolong jangan bentak-bentak gue."

Galang mengacak-acak rambutnya dengan kasar kala melihat mata Reta yang mulai berkaca-kaca, sifat Reta yang cengeng yang membuat Galang malas jika harus berurusan dengan Reta.

"Ret, lo emang sahabat gue, gue juga gak ada maksud buat bentak lo kayak barusan. Kamar itu privasi buat gue, tolong jangan bertingkah seenak lo." Galang melembutkan nada bicaranya.

Reta yang semula menunduk kini kembali menatap Galang dengan sisa-sisa air mata di pipinya.

"Gue sengaja nunggu lo di sini karena gue pengen tanya soal cewek yang di minimarket sama lo tadi."

"Yang jadi urusan lo apa?" tanya Galang.

"Gue cuma pengen tau aja, Lang. Lo gak biasanya mudah dekat sama cewek. Banyak cewek di sekolah yang cantik yang deketin lo, tapi lo tetap biasa aja malahan gak tertarik sama sekali. Tapi kenapa sama cewek yang itu lo bisa dekat dan kelihatan akrab? Lo kelihatan beda."

"Dia spesial buat gue, lebih spesial dari cewek yang gue kenal. Dia cewek yang harus gue jaga semenjak pertemuan pertama kita," ucap Galang.

"Apa dia lebih spesial dari gue?" Reta berujar dengan nada serak yang Galang ketahui kalau gadis di hadapannya saat ini sedang berusaha untuk tidak menangis terlihat dari Reta yang menggigit bibir bawahnya.

"Iya, dia lebih spesial dari lo. Dia spesial kayak mama."

Tangisan Reta hampir pecah kala mendengar Galang berujar demikian, namun Reta tetap berusaha untuk tidak menangis meskipun rasa sakit sudah meradang di relung hatinya.

"Apa kebersamaan kita selama 13 tahun gak bisa bikin gue jadi spesial kayak dia? Lo anggap gue apa, Lang?"

"Sejak 13 tahun lalu sampai sekarang lo tetap sahabat gue, Ret. Cewek yang harus gue jaga," jawab Galang.

"Kalau seandainya lo disuruh milih, lo bakalan milih siapa?"

"Gue pilih dia, karena dia emang benar-benar butuh gue, dia lagi terpuruk, gue takut dia bakalan bunuh diri lagi. Oleh karena itu gue pengen selalu ada di sebelah dia, buat nyemangatin dia, lo mau tau kenapa gue pilih dia? Karena Reta sahabat gue adalah cewek kuat, dia bisa berdiri sendiri dan dia belum pernah merasakan kegagalan dalam hidupnya. Lo lebih beruntung dari dia, Ret."

Reta melepaskan tangan Galang yang memegang pundaknya.

"Gue paham sekarang, Lang. Jadi apa karena dia juga lo rela milih UI dibandingkan Harvard? Harvard kampus yang lo impiin sejak dulu, Lang. Tinggal selangkah lagi dengan cara lulus UN lo bisa masuk ke sana, kita bisa sama-sama ke sana. Tolong pikirin baik-baik, Lang. Lo baru kenal dia beberapa hari, Lang. Jangan sampek gara-gara dia lo bakalan kehilangan semuanya."

"Gue udah mikir baik-baik, gue gak jadi masuk Harvard, lo aja yang ke sana karena itu juga mimpi lo."

"Beberapa hari kenal cewek itu udah bikin lo bego ya sekarang, dia cuma cewek lemah yang lagi nge-drama biar lo perhatian dan kasihan sama dia, buka mata lo lebar-lebar, Lang. Jangan sampek lo nyesel. Tinggalin cewek itu dan kejar mimpi lo sama gue."

Brakk....

Galang melemparkan salah satu bingkai foto yang berada di meja belajarnya. Itu adalah foto saat kelulusan SMP-nya, foto dirinya dengan Reta dan juga Raskal.

"Lo gak usah sok tau dan jangan pernah ngatur-ngatur hidup gue, gue udah mikirin semuanya. Soal gue gak jadi masuk Harvard dan berhenti kejar mimpi gue. Kuliah di mana pun bakalan sama aja karena itu semua tergantung diri sendiri, kalau dasarnya lo bego mau masuk Harvard juga bakalan tetap bego! Jangan jadiin almamater sebagai penentu kesuksesan, karena sukses itu berkat kerja keras diri sendiri bukan karena Universitas ternama.

"Soal cewek itu, dia punya nama. Nama dia Shanette, dia gak pernah minta belas kasihan dan juga perhatian dari gue, karena gue sendiri yang menawarkan diri untuk bisa dijadiin tempat dia bersandar, untuk jadi tempat dia berbagi keluh kesah, gue sendiri yang pengen ngejaga dia dan takut kalau dia sampek depresi apalagi bunuh diri. Lo mau tau kenapa gue ngelakuin itu semua? Karena gue udah jatuh sejak pertama kali kenal dia, dia baik, dia yang apa adanya, dia yang bisa buka mata gue kalau cinta sama seseorang gak harus mandang fisik, dia spesial, berharga dan patut gue jaga. Apa sampai sini lo paham maksud gue?"

Tanpa menjawab pertanyaan Galang, Reta keluar dari kamar Galang dan membanting pintu dengan kencang.

"Cewek gila, kalau bukan karena orang tua kita sahabatan. Gue juga ogah temenan sama lo." Galang bergumam kesal

Galang mengganti seragam sekolahnya, setelah itu dia berjalan mendekati meja belajarnya dan menatap kertas yang tertempel di dinding, sebuah kertas yang terdapat tulisan tangan Galang.

List impian Galang Abiputra (Cogan)

1. Terlahir jadi Cogan (✔)
2. Bisa Masuk SMA Senja (✔)
3. Jadi Most Wanted (✔)
4. Dapat nilai matematika 90 (✔)
5. Dapat rangking kelas (✔)
6. Mendapatkan Sertifikat Olimpiade (✔)
7. Lulus UN dengan nilai memuaskan
8. Kuliah di Harvard University
9. Kerja
10. Menikah

Galang merobek kertas itu dan membuangnya ke tong sampah, setelah bertemu Shanette dia seakan lupa akan mimpi yang sedari dulu ingin dia raih. Karena saat detik dia tau Shanette sedang dalam kondisi rapuh, hanya satu yang terlintas di pikirannya "Menjaga Shanette dan tak pernah meninggalkannya"

Sejak saat itu juga Galang akan mencoba untuk tidak pernah berfikir lagi tentang berkuliah di Harvard, bersama Shanette adalah mimpinya sekarang. Dia akan membicarakan tentang keputusannya bersama sang papa, dia akan mencoba meyakini papanya "Bahwa kampus bukan penentu kesuksesan."

*****
Maaf untuk Galang di dunia nyata, karena agak aku lebih-lebihkan tentang itu😅

Lanjut Gak? Vote&comment kuy

Minal Aidzin wal Faidzin semua, maaf kalau aku punya salah😊

DEPRESI | COMPLETEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang