17. Gue nyerah

3K 209 26
                                        

"Kadang kala seseorang yang awalnya asing bisa jadi yang paling spesial."

****

Ada saatnya di mana seseorang merasa lelah akan kenyataan. Memilih menyesuaikan diri, bersikap tegar semaksimal mungkin, agar tidak ada yang merasa disakiti.

Bisa dikatakan orang seperti itu lemah atau justru terkesan pengecut?  Tapi yang sebenarnya mereka hanya bermaksud menyampaikan keinginan hati.

Ada beberapa orang yang tidak bisa mengutarakan perasaannya melalui kata-kata, melainkan cukup diam dan berharap ada yang sadar. Bahwa dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Shanette berulang kali mengecek ponselnya, sudah dua minggu tidak ada satu pun pesan ataupun panggilan masuk dari Galang.

Tidak ada lagi gombalan recehan, atau kata sapaan selamat pagi yang dia dapatkan.

Sejak pertemuan terakhir mereka dua minggu yang lalu, lelaki itu benar-benar hilang seperti ditelan bumi dan tidak memberi kabar sama sekali.

Ini benar-benar bukan seperti Galang yang dia kenal, karena sesibuk apa pun lelaki itu pasti akan menyempatkan waktu untuk mengabari.

Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Shanette memutuskan menghubungi terlebih dahulu, tapi sayangnya ponselnya Galang tidak aktif.

Shanette jujur sangat khawatir, apa laki-laki itu baik-baik saja? Apa dia sedang sibuk? Sibuk belajar atau hal lainnya?

Pada akhirnya, Shanette memutuskan untuk mengirimkan satu pesan singkat.

Hai, apa kabar? Kemana aja selama dua minggu?

****

"Sha, beberapa bulan lagi udah mulai pendaftaran lho. Udah mantap kan mau masuk UI?"

"Iya Vin, lo dukung gue kan? Jujur gue takut."

Kavin tertawa pelan, "Gue bakalan selalu ada buat lo Sha. Jadi gak usah khawatir, gak usah takut. Setiap usaha lo pasti akan mendapatkan hasil yang maksimal, lo percaya sama gue kan?"

"Iya."

"Sejak kapan lo suka menikmati senja kayak gini?"

"Sejak Galang ajak gue berburu senja di sore itu."

"Oh dia yang membuat lo menyukai senja?"

"Dia yang mengajarkan gue untuk selalu bersyukur, untuk mencintai semua hal yang berkaitan dengan alam dan juga menikmati keindahannya."

Kavin berdeham pelan, "Lo suka Galang?"

Shanette menggeleng, "Enggak, gue sama dia sahabatan. Gak ada sejarahnya gue suka sama sahabat sendiri."

"Berarti lo gak suka gue? Kan kita juga sahabatan, udah lumayan lama lagi, lebih lama dibandingkan pertemuan lo dengan Galang."

"Udah, gak usah bahas suka-sukaan, gue pengen fokus dulu sama tes kuliah."

"Lo tau kalau Galang suka sama lo?"

Shanette tersedak minumannya, "Darimana lo bisa menyimpulkan itu semua? Gue sama dia sahabatan, udah itu aja."

"Lo tau kan? Kalau gak pernah ada sejarah yang namanya persahabatan antara cowok dan cewek tanpa melibatkan rasa, mungkin selama ini lo menganggap bahwa dia hanya sebatas sahabat. Tapi setiap orang mempunyai perasaan dan pemikiran yang berbeda,"

"Kayak gue contohnya." Kavin menatap lurus ke arah Shanette yang sekarang terdiam dan mencoba mencerna setiap ucapan Kavin barusan.

"Maksud lo?"

"Gue suka sama lo, maaf karena melanggar peraturan persahabatan. Tapi perasaan gue gak bisa dihilangkan meskipun gue udah berusaha, jadi maaf! Karena gue benar-benar jatuh cinta sama lo."

****

Tidur Shanette terusik, saat ponselnya berdering.

Shanette melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 2 malam.

Shanette cepat-cepat mengecek ponselnya, ternyata pesan dari Galang.

Pesan yang dikirimkan sejak tadi pagi baru mendapatkan balasan sekarang.

Gue baik.

Iya hanya dua kata, tanpa ada gombalan receh seperti biasanya.  Ada apa dengan Galang?

Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Shanette memutuskan untuk menelepon.

Suara bising beserta dentuman musik terdengar sangat keras sekarang.

"Halo, lo di mana?"

"Di club, kenapa? Mau nyusul?"

Terdengar gelak tawa Galang, "Lo mabok?"

"Mabok? Iya haha, kenapa?"

"Galang. Pulang, gue gak mau lo kenapa-kenapa. Meskipun lagi banyak masalah tolong jangan sampai mabok segala. Lo bisa cerita sama gue."

Suara tawa kembali terdengar, kali ini jauh lebih keras dibandingkan sebelumnya.

"Lo peduli apa tentang hidup gue? Lo punya semuanya sekarang, perhatian orang tua kembali lo dapatkan, dan juga ada Kavin sekarang di sisi lo. Jadi gue rasa, lo gak perlu gue lagi,  begitu juga sebaliknya."

Shanette merasakan sedikit nyeri di dadanya kala mendengar penuturan barusan.

"Gue gak pernah berpikiran seperti itu, gue gak pernah melupakan semua hal baik yang lo lakukan buat gue."

"Udah-udah, gue males dengar suara lo. Bye, gak usah hubungi gue lagi."

Panggilan terputus, setetes air mata jatuh membasahi pipi Shanette.

Kenapa saat dia sudah kembali mendapatkan kebahagiaan, dia juga harus kehilangan kebahagiaannya yang lain?

Satu pesan kembali masuk.

Gue harap lo terus baik-baik aja, jalani hidup lo seperti saat gue belum hadir. Lo pasti bisa, Shanette pasti kuat, dan jangan lupa bahagia. Karena setiap pertemuan pasti akan ada yang namanya perpisahan, mungkin saatnya kita pisah.
Jaga diri lo baik-baik.

Shanette mengenggam erat teleponnya, dia harus menemui Galang besok dan meminta penjelasan dari setiap kalimat yang barusan dia kirimkan padanya.

****

Galang segera mematikan ponselnya, saat pesan yang dikirimkan sudah diterima dan dibaca oleh Shanette.

"Udah kelar? Gue matiin ya musiknya, bisa budek gue lama-lama."

Galang mengiyakan ucapan Raskal. Memang benar sejak tadi dirinya berada di rumah Raskal dan sama sekali tidak mabuk, hanya saja dia masih tidak sanggup jika Shanette tau bahwa saat mengucapkan kata perpisahan dia masih dalam keadaan sadar.

Katakanlah Galang pengecut, tapi memang sulit untuk mengatakan selamat tinggal pada seseorang yang amat berarti.

"Lo benar-benar serius nurutin permintaan bokap? Lo gak akan nyesal, kan?"

Galang tersenyum tipis, "Udah saatnya gue pergi, gue ada di sini juga gak ada manfaatnya. Lebih baik gue di sana, sekalian menyembuhkan diri."

"Gue dukung apapun kemauan lo Lang."

"Thanks, kita bakalan pisah padahal sebelumnya gak pernah, jangan kangen gue."

"Najis," ucap Raskal, lalu keluar dari kamarnya dan meninggalkan Galang sendiri.

Galang yang semula tertawa, kini tersenyum miris menatap ponselnya.

"Maafin gue Sha, ini keputusan terbaik. Biar kita sama-sama, menemukan apa yang kita cari, penantian gue berhenti sampai di sini, gue akui, gue kalah. Maaf karena gue terlalu pengecut untuk sekedar mempertahankan lo, padahal gue benar-benar jatuh cinta, tapi gue gak bisa apa-apa, karena selamanya yang lo mau itu dia bukan gue."

****

Vote dan komen untuk kelanjutan

Penasaran gak?😂

DEPRESI | COMPLETEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang