"Perpisahan selalu menjadi kata yang aku benci. Kepergianmu kali ini menghadirkan luka baru yang aku tidak tau kapan akan terobati."
****
Suara dering ponsel Shanette yang berulang-ulang tetap tidak membuat gadis itu beranjak dari posisi tidurnya. Bahkan Shanette enggan untuk membuka mata, dia meraih bantal untuk menutup telinganya.
Jujur, Shanette tidak sanggup jika harus mengantarkan kepergian Galang, dia tidak mau sampai harus kembali menangis dan berakhir sulit untuk melupakan.
Namun, hatinya tergerak untuk mengambil ponsel itu. Dan melihat nama Raskal yang tertera di sana.
"Halo, kenapa nelpon pagi-pagi?"
"Pagi kata lo! Ini udah jam 10 Shanette, dan apa lo lupa? Kalau Galang berangkat hari ini."
"Gue sama sekali gak lupa, emang kenapa kalau Galang pergi hari ini?"
"Lo masih ngigau kayaknya, cepetan siap-siap. Supir gue bakalan jemput lo, gue gak nerima penolakan."
Tuuttt...
Shanette mengacak rambutnya yang sudah berantakan, dia memang tidak bisa jika harus bertemu dengan Galang, terlalu susah melupakan lelaki yang menciptakan banyak kenangan untuk dirinya.
Pada akhirnya, dia mengalahkan ego dan berlari masuk ke kamar mandi. Lima belas menit Shanette sudah siap berpakaian, waktu yang sangat cepat dan dia harus buru-buru ke sana, sebelum semuanya terlambat.
Selama perjalanan, Shanette ingin sekali turun dari mobil dan berlari agar terhindar dari kemacetan ini.
Jam menunjukkan pukul setengah sebelas pagi, yang artinya Galang akan berangkat sekitar tiga puluh menit lagi.
"Eh Neng mau ke mana?" tanya sopir Raskal.
"Saya lari aja Pak, cuma 1 km lagi kok."
Cuma 1 km kata Shanette? Gadis itu benar-benar sudah gila sepertinya.
Shanette terus berlari di bawah terik matahari yang semakin panas. Shanette tetap melanjutkan langkah yang lama kelamaan menjadi semakin lemah.
Lima belas menit lagi, Shanette harus segera tiba di sana.
Shanette terus berlari, bahkan beberapa kali terjatuh karena kekurangan tenaga. Dia sama sekali belum menyentuh makanan pagi ini.
Sampai di Bandara, Shanette mencari keberadaan Galang diantara ribuan manusia yang berlalu-lalang.
Shanette sudah putus asa, lima menit lagi Galang benar-benar akan pergi.
Sebuah lambaian tangan dari Raskal membuatnya sedikit bernapas lega. Dia berlari ke arah sana, tapi tidak menemukan Galang.
"Di mana Galang? Jangan bilang kalau dia udah pergi."
"Itu."
Shanette melihat punggung tegap yang sedang berjalan dengan seorang perempuan, yang tak lain adalah Reta.
"Galang."
Galang berbalik, raut wajah yang awalnya terlihat putus asa, kini perlahan menjadi lebih baik, kala dia tersenyum hangat ke arah Shanette.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPRESI | COMPLETED
Teen FictionLove Yourself #Series1 Bagaimana jadinya? Jika Shanette Ambaswra anak tunggal yang menjadi kebanggaan keluarga karena segudang prestasi yang dia dapatkan harus menelan kenyataan pahit saat namanya tidak tercantum di jalur SNMPTN dan juga SBMPTN? Men...
