"Jangan pernah merasa paling tau tentang kehidupan seseorang, karena setiap omongan bisa menjadi boomerang balik untukmu."
*****
"Reta!!"
Seorang wanita yang berusia sekitaran 60 tahun itu baru saja datang dari arah dapur dengan napas tersengal-sengal.
Suara teriakan Galang jelas saja membuat dirinya panik.
"Ada apa Mas Galang? Kok teriak-teriak?"
"Reta mana?"
"Nona ada di taman belakang, ada apa?"
Galang tidak menjawab pertanyaan itu, dia langsung berlari menuju taman belakang. Reta memang sering ditinggal seorang diri karena orang tuanya yang terlalu sibuk sebagai publik figur.
"Maksud lo apa?" tanya Galang saat sudah berdiri di hadapan Reta yang masih duduk di bangku taman.
"Maksud? Lo lagi ngomong apa, Lang?"
Galang mendecih pelan, "Gak usah pura-pura bego lo. Apa maksud lo bilang sama papa gue kalau gue gak jadi masuk Harvard?"
"Gue--"
"Apa? Mau mengelak kalau bukan lo biangnya? Basi! Gak usah ngurusin hidup gue, Ret. Lo bukan siapa-siapa, soal gue gak jadi kuliah di Harvard gue bisa ngomong sendiri, gue masih punya mulut, masih punya suara. Jadi gue sama sekali gak perlu bantuan lo. Paham?"
"Lang." Reta berdiri dari posisi duduknya. "Harvard yang terbaik buat lo, jangan sampai lo nyesel nantinya."
"Gak usah sok tau tentang hidup orang, lama-lama gue muak sahabatan sama lo."
Reta meraih lengan Galang,"Lang, Please."
"Lepas! Lo kalau mau kuliah ke Harvard ya silahkan. Tapi gak usah maksa gue, karena gue gak mau." Galang melepaskan tangan Reta dan memilih pergi.
****
Dia berhenti dan duduk di halte, Galang mengacak-acak rambutnya dan beberapa kali berteriak kesal. Dia tidak tau harus pulang atau tidak. Hari hampir maghrib tetapi dia masih tidak mau untuk bertemu sang papa.
Seseorang menyodorkan sebotol air mineral kepada dirinya, tangan berbalut sweater navy itu milik seorang gadis berambut panjang.
"Astagfirullah, bikin gue kaget aja. Gue kira setan."
"Lo kali yang setan, kalau mau marah-marah jangan di sini. Ini tempat umum, lo bisa disangka orang gila."
"Makasih," ujar Galang lalu meminum air mineral itu.
"Lo kok ada di sini? Gak pulang?" tanya Galang saat melihat penampilan Athena yang masih memakai seragam.
"Pulang? Buat apa? Toh kehadiran gue gak pernah ditunggu."
"Maksudnya?"
"Gak apa-apa. Gak usah dipikirin."
Setelah itu Athena mulai sibuk membaca buku novel yang sedari tadi ada di tangannya.
"Bentar lagi maghrib. Lo mau di sini sampai kapan?"
"Sampai gue merasa lega dan mau pulang."
"Hmm, gue gak tau masalah lo apa. Tapi saran gue lo pulang aja, bentar lagi di sini bakalan sepi. Bahaya kalau lo sampai kenapa-kenapa."
"Jangan sok peduli! Gue gak butuh belas kasihan."
"Dasar keras kepala."
"Itu lo tau."
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPRESI | COMPLETED
JugendliteraturLove Yourself #Series1 Bagaimana jadinya? Jika Shanette Ambaswra anak tunggal yang menjadi kebanggaan keluarga karena segudang prestasi yang dia dapatkan harus menelan kenyataan pahit saat namanya tidak tercantum di jalur SNMPTN dan juga SBMPTN? Men...
