"Pada akhirnya kata perpisahan selalu merenggut semuanya. Entah itu kamu dan kehadiranmu, ataupun aku dengan kepura-puraanku"
*****
Siang hampir menjelang sore, Shanette memutuskan untuk ke rumah Galang menanyakan semuanya secara jelas tanpa ada hal lain yang disembunyikan dan semuanya terasa seolah berbeda.
Semuanya harus terselesaikan hari ini, dia tidak mau terus-terusan terjebak dalam kata penasaran.
Shanette menekan bel rumah Galang, pintu terbuka lebar, berdirilah mama Galang yang menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Selamat sore, Tante." Shanette menyalami mama Galang.
"Sore juga Shanette, ayuk masuk."
"Sebelumnya, Galang-nya ada gak, Tante?"
"Oh ada, kebetulan dia lagi sama Reta di taman belakang, mau nyusul?"
"Iya tante, boleh Shanette minta di anterin ke sana?"
"Jelas aja boleh kok."
Shanette mengikuti langkah mama Galang menuju taman belakang, taman itu terlihat sejuk karena banyak tanaman yang tumbuh dengan subur dan pastinya terawat dengan baik.
Benar saja bahwa Galang ada di sana, dia bersama Reta dan keduanya masih sama-sama mengenakan seragam sekolah.
"Lang, ini Shanette nyariin kamu."
Galang berbalik badan, ada sedikit raut kaget, namun cepat-cepat dia kembali menatap dengan sorot datar.
"Ada apa? Lo nyasar apa gimana? Ini rumah gue, bukan Kavin."
Lagi, jelas saja perkataannya kembali menyakiti hati Shanette.
"Galang, jangan kasar." Mamanya memperingatkan.
"Lang, boleh kita bicara sebentar."
Galang menatap Reta, "Lo ke sana dulu sama mama, biarin gue sama Shanette. Bisa kan?"
Tidak seperti biasanya, Reta langsung patuh dan mendengarkan ucapan Galang barusan.
Setelah kepergian mama Galang dan Reta, Shanette memutuskan untuk duduk di bangku sebelah Galang.
"Kenapa? Lo terasa sangat beda bagi gue."
Galang diam, pandangannya masih terfokus ke depan.
"Gue di sini, di sebelah lo, bukan di sana."
Galang mendecak pelan, lalu menatap sinis. "Langsung aja, tujuan utama lo ke sini apa? Gak usah basa-basi. Buang-buang waktu gue tau gak."
"Gue cuma pengen tau, kenapa lo tiba-tiba berubah, bahkan mengucapkan selamat tinggal? Itu semua terkesan mendadak bagi gue. Padahal pertemuan kita sebelumnya semuanya masih baik-baik aja, masih saling bercanda, saling curhat."
"Lo keberatan? Seharusnya dari dulu gue ngomong kayak gitu, lo kira lo penting? Gak sama sekali. Lo cuma bikin kehidupan gue jadi ribet tau gak, seharusnya dari dulu gue sadar, dan dengerin kemauan Reta. Bahwa lo cuma datang untuk merepotkan gue. Iyakan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DEPRESI | COMPLETED
Teen FictionLove Yourself #Series1 Bagaimana jadinya? Jika Shanette Ambaswra anak tunggal yang menjadi kebanggaan keluarga karena segudang prestasi yang dia dapatkan harus menelan kenyataan pahit saat namanya tidak tercantum di jalur SNMPTN dan juga SBMPTN? Men...
