Gak Bisa

690 82 9
                                        

Gilang terus membuntuti Feyya ketika adiknya itu sudah lebih dulu turun dari mobil. Feyya berjalan menuju dapur lalu mengambil gelas dan mengisi gelas itu dengan air dispenser.

"Eyaaaaaa."

Feyya masih dengan tenangnya meneguk minumnya sementara kakaknya itu merengek kepada dirinya untuk meminta Feyya menghiraukan dia.

"Apa lagi sih Kak?"

"Aduhh kamu ini! Kakak kan nanya kamu dari tadi di mobil tapi kamu cuma jawab 'apa sih kak' 'gak gitu' 'yaudah lah'." cecar Gilang yang gemas dengan sifat cuek adiknya ini.

Sifat siapa sih yang ditiru adiknya ini?

Ya siapa lagi kalau bukan papinya. Dia juga berpikir bahwa semua anak Wijaya menuruni sifat Papinya. Kenapa tidak ada yang menuruni sifat bawel Maminya ya...

"Ada apa ini Gilang?" Panjang umur, Maminya datang saat ia memikirkan Maminya itu.

"Itu loh mamㅡsi Eya udah berani rahasia-rahasiaan sama Gilang!"

Feyya mendengus mendengar jawaban dari Gilang. Ia tidak habis pikir kalau kakaknya ini suka mengadu.

"Engga Mi, Kak Gilang aja tuh yang lebay. Padahal Eya udah jujur sama dia juga."

"Engga! Eya bohong mi."

Gilang melotot kepada Feyya sementara Feyya memutar matanya malas.

"Aduh kalian iniiㅡ" Mami memijat dahinya lalu mengambil gelas dari tangan Feyya dan meminumnya.

"Udah udah kalian mandi dulu sana lalu makan malam." ucap Mami mengakhiri perdebatan kedua anak kesayangannya itu.

"Yaudah Eya mandi dulu ya mi." Feyya mengecup pipi Maminya itu lalu menjulurkan lidah kepada Gilang sebelum berlari pergi menaiki tangga menuju kamarnya.

"Eyaaaaaa!"

*

Suara dentingan sendok dan garpu terdengar di ruangan makan keluarga Wijaya. Kepala Keluarga Papi Wijaya datang tepat waktu ketika makan malam sudah siap. Jadi mereka sekeluarga tidak perlu menunggu Papinya itu pulang.

Selama 20 menit menghabiskan makan malam tidak ada satupun dari mereka yang berani mengeluarkan suara. Seperti peraturan keluarga Wijaya. Bahwa tidak ada yang boleh berbicara ketika makan.

Papi mengelap bibirnya dengan tisu setelah menaruh dengan rapi sendok dan garpunya di atas piringnya. Dengan sigap asisten rumah tangga mengambil piring kosong itu lalu membawanya ke dapur. Setelah meneguk segelas air putih suara baritone terdengar. Membuat ketiga anggota keluarga menghentikan makannya dan menatap sang pemilik suara itu.

"Kamu gimana Ya kuliahnya?" Tanya Papi kepada anak bungsunya itu.

Feyya menaruh garpu dan sendoknya lalu mengelap bibirnya sebelum meminum airnya.

"Ya, baik-baik aja pi."

Papi yang mendengar jawaban Feyya merasa tidak puas. Padahal anaknya sendiri yang memilih jurusan Arsitektur sebagai pilihannya. Dan Papi mengizinkannya karena beliau juga tidak mau memasukkan anak bungsu kesayangan ke jurusan teknik seperti Kakaknya itu.

Menurutnya jurusan Arsitektur cukup bagus dan lagi prospek untuk kedepannya juga bagus mengingat anak bungsunya itu juga bisa mengambil anak perusahaan Wijaya kelak.

Tapi tanpa Papinya tahu Feyya juga setengah hati memilih jurusan itu. Karena hanya jurusan itu dia bisa menyalurkan hobi menggambarnya dan ia juga berpikir bahwa hanya jurusan itu pula yang dapat membantu Papinya. Padahal Feyya sangat ingin menekuni seni.

Shoot Me StraightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang