Menjaga Jarak

743 89 9
                                        

Perjalanan menuju villa yang berada di Puncak, Bogor. Tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi Damian. Ia pikir perjalanan hanya akan memakan waktu 2~3 jam. Tapi ternyata sudah 4 jam mereka masih di perjalanan, terjebak macet di tol untuk memasuki wilayah Jawa Barat itu.

Terlihat dari antusias mahasiswa yang mulai menurun, beberapa dari mereka terlihat bete memainkan ponselnya dan sebagian dari mereka tertidur, merasa lelah di perjalanan.

Feyya dan Ghina terlihat menonton sebuah movie dari tab yang dibawa oleh Feyya. Ini pun karena Ghina yang menyuruhnya untuk membawa tab, berjaga jika di perjalanan mereka merasa bosan dan syukurlah Feyya mendengar kata Ghina dan membawa itu.

"Ghin aku ke toilet dulu ya." Feyya melepaskan earphonenya, memberikannya kepada Ghina.

"Okay. Tau kan toiletnya?"

"Di paling belakang bus kan?"

"Tul, yaudah sana."

Bus kembali berjalan dengan normal membuat Feyya yang beranjak dari tempat duduknya hampir kehilangan keseimbangan. Adrian yang duduk berjarak satu kursi didepannya yang ditempati ArvinㅡJeremy melihat gadis itu dengan wasㅡwas. Mata Feyya menangkap gerakan refleks Adrian yang tiba-tiba duduk dengan tegak, Adrian yang ditatap langsung seperti itu, menundukan kepalanya berpura-pura memainkan ponselnya.

Adrian merutuki tindakan tidak begitu jantannya itu, apa salahnya ia menatap balik Feyya dan bertanya apakah ia tidak apa-apa. Seperginya Feyya menuju toilet, Adrian menolehkan kepalanya untuk melihat Arvin dan Jeremy yang tengah menutup matanya dengan earphone yang menyumbat telinganya.

"Vin?" Panggil Adrian.

"Hmm?"

"Gue kira lo tidur."

"Hmm." Arvin mengangkat tangannya, mengibaskan telapak tangan untuk menjawab 'tidak'.

"Ohㅡokay."

Pria itu kembali memainkan ponselnya. Entah apa maksudnya ia memanggil Arvin hanya untuk memastikan dia tertidur atau tidak. Sepertinya Adrian hanya tidak punya kerjaan yang harus dilakukan. Ia menolehkan kepalanya melihat Faresta yang asik bermain ponselnya, lagi-lagi dengan earphone ditelinganya.

Suara pintu toilet terbuka, dan suara pelan Feyya yang bilang 'permisi' terdengar di kubu belakang bus. Adrian melihat gadis itu yang berjalan menuju tempat duduknya dengan sedikit terhuyung.

Bus sudah memasuki jalanan yang sedikit terjang dan berlegok, sehingga membuat Feyya yang berjalan terhuyung-huyung. Feyya berjalan dengan pelan, takut jika ia bisa-bisa terselungkup di bangku orang lain. Benar saja, bus yang ditumpangi berbelok menukik, menbuat Feyya terhuyung dan terjatuh kepangkuan Adrian.

Badan Adrian membeku, matanya membulat, tangannya terangkat agar tidak menyentuh gadis yang baru saja mendarat dipangkuannya. Begitu juga dengan Feyya yang sama terkejutnya dengan Adrian, tangan Feyya hinggap di bahu Adrian untuk sekedar berpegangan.

"S-sorryㅡ" ucap Feyya dengan pelan. Gadis itu menoleh kepada Adrian yang masih memasang wajah terkejutnya, lalu beralih ke Faresta yang mengalihkan fokus dari ponselnya. Wajah Faresta terlihat sedikit terkejut juga melihat tiba-tiba Feyya sudah berada di pangkuannya Adrian.

Adrian berdeham pelan, menurunkan tangannya memegang pinggang Feyya. "G-gak apa-apaㅡkok." Ia berkata dengan menahan napasnya.

Wajah Feyya memerah seketika tangan Adrian hinggap dipinggangnya, walau ia yakin Adrian tidak melakukan itu dengan disengaja.

Mereka terdiam kurang lebih 1 menit lamanya. Faresta yang masih melihat itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia juga merasa bingung dengan situasi ini, bertanya-tanya bagaimana ceritanya Feyya bisa ada dipangkuan Adrian, pria itu melihat sekelilingnya, tidak ada mahasiswa yang memperhatikan kejadian itu. Semuanya tertidur dengan tentram, bahaya juga Adrian melakukan tindak senonoh di dalam bus.

Shoot Me StraightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang