Adrian memacu motornya membelah jalanan Jakarta yang masih saja ramai di akhir pekan. Ia hampir misuh dijalan, padahal Adrian sudah berangkat lebih awal agar sampai di rumah Feyya tepat waktu. Tapi percuma saja, sekarang sudah jam 9 tepat. Yang artinya ia ngaret, semoga aja Feyya mengerti.
Adrian menghela napasnya saat melihat lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
"Duh, lampu merah sini kan lama banget. Ah elahㅡ"
Adrian kesal, belum saja sampai di rumah pujaan hati udah dibuat bete aja. Tapi, dia juga bersyukur karena demi permintaan pujaan hatinya itu ia membawa Alex. Coba saja kalau dia membawa mobil, mau sampai jam berapa dia?
Bicara tentang Alex, sebenarnya ia meminta bengkel untuk bergerak cepat. Jadi lah Alex bisa keluar bengkel kemarin sore dan tidak lupa dia memandikan alex dulu pagi tadi.
Adrian mengeluarkan ponselnya, sepertinya ia harus mengabari Feyya kalau dia akan sedikit terlambat. Senyumannya merekah saat Feyya membalas pesannya dengan perngertian. Gak salah emang Adrian pilih cewek.
Adrian melihat beberapa chat grup yang belum terbaca. Nama Arvin tertera disana, seketika ia teringat kejadian 2 hari yang lalu, dimana Arvin mendatangi rumah Feyya dan lalu membawa gadisnya itu pergi begitu saja.
Ya, walau sebelumnya Arvin izin terlebih dahulu padanya.
**
Adrian masih belum menyalakan kembali mesin mobilnya, matanya masih menatap kearah Feyya dan Arvin disana. Tangannya memegang setir mobilnya dengan kencang. Ia sudah berjanji untuk percaya pada gadis itu. Tapi, entah kenapa dia tidak bisa percaya pada pria itu, temannya sendiri.
Adrian terkesiap saat melihat Arvin menatap dirinya. Lalu pria itu berjalan menghampiri mobilnya. Sebuah ketukan pelan terdengar, siapa lagi pelakunya kalau bukan Arvin?
Adrian menurunkan jendela mobilnya. "Kenapa?"
Arvin menyunggingkan senyumannya saat melihat wajah Adrian. Menyembulkan kepalanya kedalam untuk melihat Adrian dengan jelas.
"Gue pinjem Feyya sebentar ya?"
Apalagi nih anak pinjem pinjem, emangnya barang.
Entah kenapa pikiran Adrian pada temannya ini menjadi negative. Arvin masih tersenyum, bahkan sekarang ia terkekeh pelan saat melihat ekspresi Adrian. Seperti mendengar apa yang ada dipikirannya tadi,
"Kata si Feyya, gue harus izin lo dulu kalau mau bawa dia."
"Hah? Feyya?"
"Iya. Jadi gimana?"
Adrian melihat sosok Feyya disana yang tengah menunggu Arvin.
"Yaudah. Jangan pulang malam-malam."
Tungguㅡkenapa jadi dia yang mengatur-ngatur gadis itu. Terdengar seperti Gilang saja. Kakak bukanㅡpacar juga bukan.
"Nanti gue yang diomelin Bang Gilang, lo tau lahㅡ" Adrian menggantung kalimat terakhirnya.
Arvin tertawa pelan seraya menganggukan kepalanya. Ia sebenarnya sudah sangat amat mengerti ucapan Adrian.
"Tenang aja, cuma sebentar kok." Arvin meninju pelan bahu Adrian dengan salah satu tangannya yang diperban.
Adrian menyadari itu, ia menatap tangan Arvin yang terperban. Sepertinya Arvin merasakan tatapan Adrian pada tangannya tang terperban, dengan gerakan cepat Arvin menurunkan tangannya. Adrian menatap Arvin, bibirnya ingin mengeluarkan kata-kata namun Arvin meninggalkannya begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shoot Me Straight
RomanceAdrian Elvan Syahreza tidak percaya namanya "Jatuh Cinta". Orang-orang bilang jatuh cinta itu bagai naik roller coaster, kalau kata Adrian jatuh cinta itu bagai jatuh kesandung batu terus nyemplung di got. Deg-degan sih rasanya tapi sakit dan jorok...
