Terlelap

933 100 8
                                        

Sinar mentari membiasi ruangan yang dipenuhi oleh patung-patung dan lukisan-lukisan di setiap sudut ruangan itu. Ruangan itu diisi oleh dua sejoli yang kini tengah melukis di sebuah kanvas putih yang besar.

Terlihat tangan sang gadis dengan piawainya mencoret kanvas itu menghasilkan coretan yang indah. Dan dibelakang gadis itu ada seorang pria yang juga mencoret kanvas itu dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain memeluk pinggang gadis yang duduk diantara kakinya tepat di depannya.

Gelak tawa terdengar di penjuru ruangan yang kini hanya ditempati oleh mereka. Entah apa yang mereka berbicarakan tapi itu membuat mereka tertawa dengan senang. Sesekali gadis itu menoleh kepada pria itu namun tangannya masih menggerakan kuas miliknya.

Pria itu menatap sang gadis dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun, sang gadis masih asik bercerita sambil terus mencoret kanvas dengan kuasnya. Sang gadis yang merasa ceritanya tidak dihiraukan menoleh kepada sang pria. Pria itu tersenyum sebelum akhirnya mendekatkan dirinya, sangat dekat sehingga ia bisa merasakan napas gadis itu.

Pria itu memejamkan matanya begitu pula dengan perempuan yang sedang ia rengkuh dipelukannya. Ia bisa merasakan rasa lembut yang menyentuh bibirnya. Rasa lembut itu terasa sangat nyata.

Ia terhenyuh dengan rasa itu...


PLAK!!

"awㅡ" ringis Adrian memegang pipinya. Matanya terbuka, terkejut akan sentuhan kasar yang mendarat dipipinya.

"Hehehehe."

Adrian memicingkan matanya yang memerah akibat terbangun dengan tiba-tiba. Ia melihat adik kecilnya terkekeh dengan senangnya setelah berhasil membangunkan dirinya dengan sebuah tamparan dipipinya.

"Echaaaaa!!!"

"Kaburrrrrrr!!"

Kesya dengan cepat berlari keluar dari kamar kakaknya itu seraya tertawa dengan senang.

"Aduhhh echa jangan turun tangga sambil lari-lari gitu dong." sang Bunda cemas dengan putri bungsunya yang berlari menuruni tangga. Sementara tangannya masih sibuk mencuci beras.

"Bunda bunda mas Ian kayak monster! Matanya meraahh sekali." jelas kesya dengan membesarkan matanya. Bunda tertawa pelan melihat tingkah lucu putri kecilnya itu.

"Pasti kesya bangunin mas Ian tiba-tiba ya?" Tebak bunda yang sudah tahu kebiasaan Kesya di akhir pekan yaitu membangunkan Adrian lalu mengajak putranya itu bermain di taman.

"Echaaaaaa, kenapa echa bangunin mas Ian sihhh." Adrian menuruni tangga seraya menggaruk-garuk kepalanya. Rambut sangat acak-acakan dan beberapa anak rambutnya ada yang berdiri.

"Abis mas Ian manyun-manyun bun pas lagi tidur."

Bunda tersenyum usil sambil menggoda putranya itu. "Hayooo mas Ian mimpiin apa tuhhh."

"Apa sih bundaaa. Ian gak mimpiinㅡapa-apa kok!" Ucap Adrian dengan terbata. Ia menduduki kursi di depan pantri tepat dihadapan bundanya yang sedang memasak nasi itu. Sementara disampingnya ada Kesya yang masih terkekeh geli.

"Kamu ini yaaa kerjanya bangunin mas terus." Adrian mencubit kedua pipi tebal adiknya yang dibalas ringisan adiknya.

"Udah udah kamu iniㅡ" lerai Bundanya yang menarik tangan Adrian untuk berhenti mencubit pipi adiknya yang semakin tembam.

"Abis echanya nakal sih bun."

"Bilang aja kamu gak mau dibangunin dari mimpi kamu itu kann? Hayoo ngaku." Bundanya semakin menggodai dirinya. Adrian mendengus kesal lalu berjalan meninggalkan dapur.

Shoot Me StraightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang