Kali ini Lala memilih lawan yang tepat untuk bertengkar. Bayu menariknya ke dalam kamar yang entah milik siapa. Terlalu banyak kamar, yang jelas bukan kamar eyang. Tidak masalah.
Masalahnya sekarang adalah Bayu meminta penjelasan. Mendengar kata kasar dari pria jahat, Bayu mengubah mode kekasih yang baik menjadi kekasih protektif.
Dan Lala tidak mau menjelaskan kejadian di apartemen tante Vero. Benarkan? Apa Lala harus bercerita jika tantenya dipukul hingga berdarah, dia dibentak dan hampir ditampar, tapi dia malah melempar pria jahat dengan vas kaca besar? Apa yang akan dipikirkan Bayu.
Jadi, Lala memilih mendekat pada Bayu. Mengusap punggung laki-laki itu agar lebih tenang. Tapi pikiran Lala beralih pada Bayu sendiri. Kenapa Bayu seperti tidak mengenal Om Juan? Pria jahat itu seharusnya Papanya Bayu juga 'kan? Lalu...
Apa Lala salah mengira? Bayu bukan anak tante Vero? Mereka tidak jadi satu ibu? Berarti mereka aman?
Kelegaan tiba-tiba menghampiri Lala. Seperti ada pelangi di atas kepalanya dengan banyak kupu-kupu berterbangan. Dia tersenyum lebar dan memeluk Bayu. Ini sudah berakhir. Dia dan Bayu akan baik-baik saja.
"Kamu belum jawab aku, La."
Suara berat Bayu mengusik kesenangannya. Baiklah, ini belum berakhir.
"Apa yang harus aku jawab? Aku emang nggak diapa-apain sama Om Juan," ucap Lala pelan sambil menyandarkan dagunya di pundak Bayu.
Bayu berdecak kesal, menggerakkan bahunya sehingga Lala jatuh di paha Bayu. "Aduh!" jerit Lala reflek.
"Kamu ngapain sih?"
Lala bangun dan duduk dengan benar. "Kamu yang ngapain? Berhenti marah deh, itu urat leher putus baru tau rasa," celetuknya membenarnya tatanan rambut.
"Kamu kenapa takut tadi ketemu Om Juan?" tanya Bayu masih enggan menyelesaikan perdebatan.
Lala memutar bola mata jengah. Dia bukan takut, hanya sedikit ngeri membayangkan jika tadi Bayu akan memanggil Papa pada Om Juan. Dan mungkin sedikit takut jika pria itu akan menunjukkan sisi jahatnya lagi.
"Sayang..."
Kali ini Bayu terdengar sudah geram karena Lala belum juga menjawab. "Kenapa sih, Darl? Aku cuma takut dibentak aja."
"Kenapa dia bentak kamu?"
Lagi, Lala memutar bola mata. "Aku nggak tau om Juan punya masalah apa sama tante Vero, tapi pas aku di apartemennya kemarin, mereka bertengkar."
Lala melihat Bayu yang masih mendengarkan sambil fokus melihatnya. "Tante Vero dipukul, aku takut tante kenapa-napa, jadi aku maju buat lindungin tante. Eh, om Juan mau mukul aku, tapi nggak jadi. Terus aku lempar pakai vas gede."
Tangan Lala ikut bergerak memperagakan semua yang dia ucapkan dengan Bayu masih memasang wajah serius mendengarkannya.
"Udah deh, habis itu aku minta pulang ke kos aja," kata Lala lagi tersenyum lebar. Bayu masih belum menanggapi. Dan itu membuat Lala panik. "Darl..."
"Kok kamu kuat lempar orang pakai vas gede?"
Apa? Bukan itu yang diharapkan Lala dari respon Bayu. Gezzzz...
"Namanya juga reflek," jawab Lala seadanya. "Udah yuk keluar! Nanti dicariin sama eyang."
Lala bangkit dari duduk dan berjalan ke pintu, tapi Bayu menahannya. Seolah belum puas dengan apa yang diceritakan dirinya.
"Kita temuin tante Vero sama Om Juan, ya. Mereka tadi 'kan mau ngomong sama kamu," kata Bayu menggenggam tangan Lala dan berjalan mendahuluinya.
Tidak! Lala tidak siap! Ini terlalu mendadak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bayu Dan Lala (Completed)
Teen FictionGadis itu sangat mengagumkan. Suaranya, senyumnya, tatapannya, tingkahnya, semuanya membuat Bayu jatuh terpesona. Tentang Bayu yang mencinta, dan Lala yang merelakan... Mell, Oktober...
