28

391 25 5
                                        

Seperti semua kesakitan menjadi satu dalam dada Bayu. Membentuk lubang hitam besar yang siap menyedot semua hal di sekitarnya. Membuat seluruh inderanya sangat sensitif dengan semua hal yang berkaitan dengan bidadarinya. Menjadikan semua orang di sekitarnya menatap takut.

Namun hal yang berbeda terjadi pada Lala dimana dirinya menjadi gunung es besar. Mengurung diri bagai Ratu Elsa dalam istananya sendiri.

Mungkin hal itu yang menarik Laura sekarang berdiri di depan pintu kos Lala. Menjenguk temannya yang seminggu ini menghilang. Meninggalkan Bayu yang berjalan seperti mayat hidup setiap harinya. Laura bingung dengan apa yang terjadi pada Bayu dan Lala.

Jika bukan karena kata sahabat mengikat dirinya dan Lala, Laura tidak akan membuang tenaga untuk datang, dan menunggu selama dua jam lebih.

Laura mencoba mengetuk pintu kamar Lala lagi, masih berusaha untuk tetap hadir, demi sahabatnya.

Ceklek! Laura menghembuskan napas lega begitu pintu terbuka, memperlihatkan Lala dalam keadaan... Pucat?

"La, lo sakit?" tanyanya masuk dan memegang kedua bahu Lala agar tidak terjatuh.

Pandangan Laura mengedar pada ruang tengah kos Lala. Gelap. Gorden tertutup rapat, lampu tidak menyala, ventilasi atap tertutup, dan pendingin menyala menjadikan ruangan sangat dingin.

Laura membantu Lala duduk di sofa ruang tengah, kemudian mengambilkan selimut untuk temannya.

"Lo nggak bisa gini terus, La. Ini nggak sehat," ujarnya menyentuh kedua bahu Lala.

Lala mengangguk pelan, merapatkan selimut pada tubuhnya. "Gue tau, Ra. Gue cuma butuh menenangkan diri aja," ucap Lala pelan.

"Apa hasilnya?"

Lala mendongak, menatap Laura lebih dalam. "Menerima kenyataan dan kembali menjalani hidup gue lagi. Seperti dulu," jawabnya tegas.

"Terus kenapa lo nggak keluar dari tempat ini?" tanya Laura lagi bergerak membuka ventilasi atap, membiarkan cahaya masuk dan menerangi ruang tengah.

Lala menenggelamkan wajahnya di kedua lutut. "Gue menikmati saat terakhir bisa melihat Bayu tanpa dia tau," ucapnya.

Laura terdiam. Niatnya membuka gorden batal saat dari celah saja dia bisa melihat Bayu berdiri di dekat pagar balkon.

"Banyak yang gue simpen sendiri, Ra. Gue terlalu takut cerita ke kalian. Takut nggak kuat dengan kenyataan di hidup gue."

Lala kemudian bangkit, berjalan menuju dapur, mengambil minuman hangat. Laura memperhatikan.

"Gue sadar, kalau ini emang jalan terbaik bagi gue, Bayu, dan keluarga."

"Keluarga lo nggak bisa nerima Bayu? Ya Tuhan, La... Kalian belum cukup umur buat nikah. Buat apa mikirin restu keluarga?" Laura tidak habis pikir dengan pola pikir Lala. Baiklah, sebagai sahabat, dia paham jika Lala tidak suka bermain-main dalam suatu hubungan, itu prinsip. Dan Laura tidak bisa ikut campur. Tapi-

"Lebih dari itu, Ra," Lala kembali. Membawa teh hangat dan cola untuknya. "Gue emang nggak bisa sama Bayu."

"Kenapa?"

"Karna dia kakak kandung gue."

Laura terdiam. Lagi. Dia melihat sahabatnya, mencari celah kebohongan. Berharap ini hanya permainan yang dilakukan Lala. Tapi dia tidak menemukan itu. Wajah Lala, dan mata Lala memancarkan hal yang memang dirasakan sahabatnya. Lala dalam keadaan hancur. Tapi sedang berusaha bangkit.

"Lo serius?"

Lala menatap jendela, seolah bisa menembus dan melihat Bayu. "Satu-satunya harapan gue, semoga ini nggak nyata."

Bayu Dan Lala (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang