Dion terduduk didepan gundukan tanah yang masih baru, yahh Fifi sudah dimakamkan ke peristirahatan terakhirnya. Yang lain sudah kembali kekediaman masing-masing.
"Hey Fi, kamu curang ah masa mainnya gini. Kan harusnya kita nikah, trus punya anak, trus punya cucu, trus tua sama-sama baru pisah. Kesalahan aku fatal banget ya sampe bikin kamu milih tidur kek gini. Gimana klo aku kangen nanti, gak ada lagi dong yang bilang aku kebo, kodok, om Yon-Yon, ah gak asik. Tau gak kenapa aku selalu larang kamu ini itu, itu karena aku gak mau kehilangan kamu tau. Kamu kok diem aja sih, gak kasian nih liat aku kek orang gila gini. Oiya tentang Bella dia udah aku masukin kepenjara, ternyata kecelakaan kamu itu juga ulah Bella, aku bodoh ya Fi lebih percaya sama apa yang Bella bilang, bahkan aku dorong kamu. Aku bikin kamu nangis, pasti mata kamu waktu itu sembab banget ya. Nah iya yang tentang yang kamu bilang kalo kamu gak pantes buatku itu salah Fi, kamu sangat-sangat pantas buat aku. Eh bentar, aku lupa. Hari ini ulang tahun kamu ya. Happy birthday sayang, happy sweet seventen. Aku sayang kamu ehe, maafin aku ya. Terimakasih buat kenangannya ya, kmu gak bakal aku lupain sampai kapanpun. Aku bakal sering dateng kesini dan doain kamu. Yaudah aku pulang dulu i love you Fifi." Ucap Dion sambil menghela nafas lelah menahan sesak yang amat sakit.
Apa boleh buat, ini sudah terjadi. Saat takdir bertindak kita sebagai manusia biasa tak bisa apa-apa lagi. Sekalipun menangis darah tak akan bisa memutar balik waktu.
***
Motor sport Dion mulai menjauhi tempat pemakaman itu, sedangkan disisi lain masih ditempat yang sama ada seseorang yang terus memperhatikan Dion dan yang lain.
"Maaf, aku tak punya pilihan lain. See you all." Gumam orang itu lalu pergi dari sana dengan kursi rodanya.
Sesampainya di rumah, Dion membiarkan motor sportnya tetap didepan garasi dan masuk tanpa mengucap sepatah katapun.
Sungguh jika bisa Dion benar-benar akan memutar waktu dan membuat semuanya tidak seperti ini.
Saat Dion sedang berganti baju, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
Ting tong
Dia pun bergegas turun kebawah membukakan pintu, entah siapa yang bertamu.
"Eh lu Tha, ada apa?." Tanya Dion pada Atha, ya Atha lah yang bertamu itu.
"Nih tadi gw nemu ntu surat di kamarnya Fifi buat lu, dah ya gw pamit." Ucap Atha memberikan sebuah surat pada Dion lalu pulang.
Setelah Atha pulang Dion kembali kekamarnya dan membuka surat itu lalu membacanya.
Halo Dion, pasti klo kamu baca surat ini aku dah pergi ya. Maaf ya buat semuanya kalo pun aku ada salah sama kamu, aku tuh saayyaanggg banget sama kamu dan pengen sama kamu terus sampe tua nanti tapi mau gimana lagi, aku dah ngerasain firasat buruk sebelum pergi kerumah kamu waktu itu, makanya aku nulis ini. Oiya sampein sama Bella aku udah maafin dia kok, aku tau kok Bella ngelakuin semuanya cuman gegara obsesi yang terlalu besar buat milikin kamu. Sekalipun ngelakuin segala cara biar kamu jadi milik dia. Kamu jangan benci Bella ya. Oiya terimakasih ya buat kebahagiaannya, buat kenangannya, canda tawanya, aku seneng pernah menjadi bagian berharga dihidup kamu. Terimakasih udah mau nerima aku apa adanya padahal masih banyak cewek yang lebih sempurna dari aku. Eh udah ya bang Niko udah nungguin dari tadi. Klo setelah ini aku gak ada kamu gausah sedih oke? Ntar aku marah. Dadah Dion love you.
Alfiana :)
"Love you too Fi." Lirih Dion lalu menyimpan surat terakhir itu di laci kamarnya.
***
Senin pun tiba, Dion sudah berada di sekolah dengan tatapan tajam namun sedikit sayu dan dengan wajah dingin seperti biasa.
Kepergian Fifi seakan meninggalkan penyesalan mendalam bagi Dion, biasanya setiap pagi Dion akan pergi kerumah Fifi untuk menjemputnya, tapi sekarang? Ah sudahlah itu semua hanya masa lalu.
Kriiinggg
Bel masuk berbunyi, bukannya menuju kelas Dion malah berjalan keatap sekolah.
"Woy." Teriak Reyhan
Dion hanya menengok sebentar ke arah Reyhan lalu memejamkan matanya kembali.
Reyhan hanya menghela nafas lelah lalu duduk disamping Dion dan berkata
"Masih galau aja pak bos, mending lu nyoba buat ngikhlasin kepergian Fifi, gw tau pasti sangat sangat sulit buat lu gw paham dengan kondisi lu, tapi lu juga mikir dong, lu gak kasian sama Fifi? Lu mau bikin dia sedih disana? Ga kan. Lu harus belajar tanpa Fifi jangan malah kek gini, lu terkesan nyiksa diri lu. Gw yakin Fifi ga bakal suka lu gini. So lu harus bangkit, doain Fifi dari sini dan nyoba ngejalanin hidup lu dengan normal seperti biasa. Gw ke kelas dulu tadi gw cuman izin ketoilet." Ucap Reyhan lalu berdiri dan berjalan menuju kelas.
Sepeninggal Reyhan, Dion merenungkan apa yang diucapkan Reyhan barusan ada benarnya. Tak seharusnya dia seperti ini, Fifi justru akan sedih, maka dia akan berusaha belajar mengikhlaskan Fifi.
"Nanggung ah mending bolos." Ucapnya lalu tertidur.
Begitu pula dengan Niko, dia juga merasa terpukul dengan kepergian adik semata wayangnya. Mengapa harus adiknya mengapa harus seperti ini, ingin rasanya Niko memutar balik waktu dan menemani adiknya menyeberang maka ini tak akan terjadi.
Lantas sekarang apa dia harus menyalahkan Bella dengan obsesinya? Tapi bukannya disini takdir lebih mendominasi.
Mari berpindah ke Agatha, sejak pemakaman Fifi eh ralat sejak jenazah Fifi dibawa keperistirahatan terakhirnya dia terus menangis, bahkan beberapa kali pingsan.
Begitu juga kedua orang tua Fifi, misal saja Keyla sepulang dari pemakaman dia hanya melamun, diam, lalu menangis sambil memeluk foto Fifi.
Tak ada yang tidak terpukul dengan kepergian Fifi yang mendadak, semuanya merasakan kehilangan. Sosok yang selalu ceria itu kini telah pergi meninggalkan begitu banyak kenangan pada orang terdekatnya, oh salah kita melupakan Bella. Bella bahkan sangat senang mendengar kabar meninggalnya Fifi, itu artinya rencananya berhasil. Apa Bella sudah tidak waras? Kita sebut saja begitu.
Obsesi yang sangat menghancurkan bukan, Bella sampai rela melakukan tindak kriminal hanya untuk memenuhi obsesi tingginya. Apa obsesinya terpenuhi? Apa dia mendapatkan Dion? Tidak sama sekali. Hanya rasa kebencian yang diterimanya, ah bahkan Bella tidak masalah dengan hal dibenci semua orang, yang dia tahu dia sudah berhasil menyingkirkan Fifi selamanya.
Cinta karena hati lebih indah dari cinta karena obsesi. Obsesi hanya menjerumuskanmu bukan membuatmu bahagia.
***
Halo halo aku balik. Ada yang nungguin ga☹ mudahan ada ya. Aku tau ceritaku ga sebagus yang lain, maaf dung ya.
Dan buat yang udah voment makasehhh banget atas dukungan kalian.
See you😁
KAMU SEDANG MEMBACA
Weird Couple [END]
Novela JuvenilAwalnya semua masih berjalan begitu baik. Semua masih sesuai apa yang diekspektasikan oleh Fifi maupun Dion. Harapan mereka tentang hubungan yang akan bertahan selamanya pun semakin besar. Impian mereka untuk selalu bersama pun masih terus diangank...
![Weird Couple [END]](https://img.wattpad.com/cover/171172948-64-k533005.jpg)