Happy Reading ~
.
.
.
"Ali lagi ngapain ya? Mikirin aku?
atau lagi pacaran sama laptopnya?Ih bikin cemburu aja."
Prilly tersenyum sembari memainkan
ponselnya.
Tentang Ali yang tadi menelfonnya
benar benar tidak bisa ia lupakan.
Brakk
"Aduh sakit!"
"Lo sih! Udah gue bilang juga pintunya gak dikunci."
Prilly mengerjapkan matanya beberapa kali melihat kedatangan dua manusia tak diundang.
"Prilly!"pekik Dinda seraya berhambur
memeluk Prilly.
"Gue ikut pelukan," pekik Vira tak kalah
nyaring dengan Dinda.
Setelah ketiganya melepas pelukan,
Prilly menatap dua sahabat anehnya
yang tak kalah aneh dengannya.
"Kok kalian bisa masuk?"
"Duh nyebelin deh! Masa ni ya Prill,
gue sama Dinda mau masuk aja harus
ngasih ktp,.padahalkan kita cuma mau ketemu lo." ujar Vira kesal.
"Siapa yang minta?"
"Bodyguard suami lo."
Prilly mengangguk lantas matanya melirik Dinda yang sudah berjalan pada kulkas kecil dikamar Ali dan Prilly.
"Udah gitu kita nyasar Prill,
untung ada pelayan lo." Ujar Dinda
dengan mulut penuh makanan.
"Pelayan disini banyak banget.
Itu suami lo sebulan bisa habis berapa uang buat gaji?" tanya Vira dan Prilly menggeleng tak tau.
"Btw ni Prill! Tadi gue sama Dinda nyasar dikamar yang banyak tas mahalnya! Sumpah gue ngiler."
"Itu punya gue," balas Prilly
membuat mata Vira membulat.
"Dibeliin suami lo?"
"Iya."
"Aaa! Mau dong jadi simpanan dia
biar bisa dibeliin tas mahal," rengek Vira.
"Gue juga mau jadi istrinya," pekik Dinda juga.
Prilly menggeleng cepat mendengarnya. Merebut Ali dari Prilly
sama saja bermain bekel di ujung monas!
CARI MATI.
"GAK BOLEH! KALIAN PULANG SANA
NANTI MALAH NGERENGEK KE ALI MINTA DIKAWININ LAGI," sewot Prilly
dengan sedikit berteriak.
"Pelit lo Prill."
"Bodo."
*
*
*
Setelah kepergian dua sahabatnya
Prilly bisa bernafas lega walaupun ia harus merelakan dua tas brandednya.
Tapi yasudahlah! Dari pada harus
kehilangan Ali
"Ali pulang?" gumam Prilly
saat samar samar ia medengar suara dingin Ali.
Dengan langkah pincang Prilly keluar dari kamarnya berusaha mencari suami dinginnya itu.
Sesampainya diruang tamu Prilly terdiam saat melihat Ali tengah menatap leher seorang wanita
yang sedang menjajal beberapa kalung berlian.
"Ali!" panggil Prilly membuat mata tajam Ali menoleh.
"Apa?" tanya Ali datar.
"Dia siapa?"
Ali diam tak menjawab lantas kembali
menatap wanita itu intens.
Air mata sialan menetes begitu saja pada pipi Prilly. Sungguh rasanya kesal saat melihat Ali begitu teliti menatap wanita itu bahkan selama ini Ali hanya menatap Prilly datar.
"Ali!" pekik Prilly.
"Suruh supir antar dia!" perintah Ali pada bodyguardnya.
Wanita itu pergi membawa perhiasan
perhiasan yang tadi ia coba, menyisakan Ali yang mendengar Prilly terisak.
Ali melangkah mendekati Prilly
menatap gadis itu datar.
"Jadi itu client cantiknya? Sanking cantiknya kamu beliin perhiasan?"ujar Prilly disela isaknya.
"Aku mau nikah sama kamu
karna aku pikir es batu itu gak akan
selingkuh tapi nyatanya apa? Sama aja."
Prilly menangis histeris didepan Ali
bahkan beberapa pelayan mengintip
mereka.
Persetan dengan rasa malu
saat ini Prilly begitu membenci Ali.
"Kamu pilih aku atau dia?"ujar Prilly
namun Ali hanya diam menatapnya datar.
"Ali! Pilih aku atau dia?"
"Ih jawab! Kalo kamu diem berarti pilih
selingkuhan kamu itu."
Ali masih diam membuat tangis Prilly
semakin pecah.
"Kita cerai!" ujar Prilly
membuat ekspresi datar Ali berubah terkejut.
"Prill."
"Kita cerai Li."
Ali menarik dagu Prilly hendak mengecup bibir gadis itu namun dengan cepat Prilly menepisnya.
"Prill!"
"Kalo emang gak cinta gak usah dipaksain. Aku tau semua ini kamu lakuin demi papa kamu," ujar Prilly memekik.
"Aku pikir kamu udah mulai suka
tapi nggak! Kamu cuma kepaksa."
Ali menarik dagu Prilly secara paksa
mengecup bibir gadis itu sekilas.
Lantas tanpa berucap apapun Ali pergi
begitu saja membuat Prilly semakin histeris.
"Ali!"
"Ih Ali!"
Prilly terduduk dengan tangis yang pecah ia tak menyangka Ali sejahat ini.
Prilly pikir Ali adalah matahari yang hangat dibalik sifat dinginnya.
Tapi ternyata Ali jahat dibalik topeng
datarnya.
"Ini apa lagi? Ketinggalan punya
selingkuhannya," ujar Prilly saat melihat satu kalung berada di atas meja.
Drtt Drtt
Ponsel Prilly bergetar tanda ada panggilan masuk.
Ia melihat ponselnya dan dahinya
mengkerut saat melihat Ali menelponnya.
"Apa? Mau nanya urus cerainya kapan?
Terserah! Nih ada kalung ketinggalan," cerocos Prilly sebelum Ali sempat berucap.
"Sengaja."
"Maksudnya?"
"Itu punya kamu bocah!
Makanya jangan baperan! Cantik tapi
cengeng."
Prilly terdiam lantas tersenyum malu.
Ah Prilly merasa bodoh sekarang.
"Es batu ngeselin."
"Bidadari cantik."
"Aku sayang kamu," ujar Ali
seraya mematikan sambungan telpon.
Baru saja Ali membuatnya menangis histeris tapi dalam waktu 3 menit Ali sudah membuatnya bahagia.
"Kamu jelek," ujar Prilly meluapkan emosi bahagianya. Ketika melihat Ali sudah ada di depannya.
Ali mengangguk dengan tatapan datarnya. Kemudian pria itu meraba wajahnya sendiri.
"Aku ngerasa aku manusia paling tampan kok," jelas Ali dengan percaya diri.
Prilly menautkan alisnya mendengar ucapan itu.
Ali si datar dan dingin dengan mulut pedas tadi berkata dengan percaya dirinya bahwa;
Dia tampan? Ya tuhan ini ajaib .
"Percaya diri sekali kisanak ini," cibir Prilly namun dia tersenyum.
Ali diam kemudian mengecup sekilas pipi kiri gadis itu.
"Itu tindakan sebagai permintaan maaf," ujar Ali membuat Prilly diam dengan pipi memerah .
Dasar Ali jahat! Lihat pipi Prilly kembali memerah.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cool Husband ( End )
FanfictionWarning 18+ Dulu hidup Aliandra Xander William hanyalah sekedar hitam putih, Di perintah dan menjalankan. Jalan hidupnnya datar mengikuti alur arahan Heris sang ayah Sampai gadis itu datang memaksa Ali menjadi sepertinya yang tak bisa diam dengan...
