Harapan yang terbungkam sunyi
Di selingi rasa yang tak mau hilang
Semoga saja semua tergapai
Sebagai balasan untuk seorang pejuang
***
"Gimana sekolahnya hari ini?" tanya kak Fariz dengan nada yang sangat ramah.
"Baik Kak" gue menjawab dengan ragu.
"Terus gimana pelajarannya?" lanjut kak Fariz
"Ya seperti biasa Kak, matematika masih jadi masalah utamanya" gue menjawab dengan masih dipenuhi oleh keraguan. Bagaimana tidak, seorang Fariz yang notabenenya sedingin es dan enggan banget ngomong sama cewek tiba-tiba menjadi sosok yang baik dan ramah.
Siapa peduli? Yang penting gue sama dia udah mulai akrab. Itu aja udah bahagia kok.
TOK
TOK
TOK
"SHEILA BANGUN INI UDAH PAGI!!!" teriak Mama dari luar kamar.
'Lah? kok gue kayak dengar suara mama? tapi masa iya?' batin gue ragu.
"SHEILAA BURUAN NANTI KAMU TELAT KE SEKOLAH LOH" teriakan Mama semakin kencang.
Saking kencangnya, gue langsung bangun dari tempat tidur dan tersadar bahwa semua percakapan gue sama Kak Fariz hanya sebuah mimpi belaka.
"Iya Ma, ini udah bangun kok" jawab gue yang masih setengah sadar.
Setelah bangun, gue langsung bergegas ke kamar mandi dan bersiap ke sekolah buat menjalankan rutinitas sebagaimana biasanya. Sesampainya di sekolah, gue langsung melangkahkan kaki menuju kelas.
Di dalam kelas ternyata sudah ada 2 orang ricuh yang sering bareng sama gue.
"Pagi La!" Zahra dan Oppie kompak.
"Pagi kawanku semua!!! Apakah cita-cita anda?!!" jawab gue.
"Parah! Masih pagi udah ribut duluan lu" balas Oppie
"Tau lo La" sambung Zahra.
"Santaiii, gue cuma mencoba membangun aura positif" jelas gue.
"Kita juga kok" jawab Oppie dengan sedikit ketawa receh.
"Apaan sih? gaje banget dehh " sambung gue sambil geleng-geleng kepala.
"Heummm....daripada pembahasan kita kali ini gak jelas, gimana kalo kita bahas kakel aja?" usul Zahra dengan penuh semangat.
"Boleh juga tuh, gimana La?" tanya Oppie.
"Gue mah ngikut" jawab gue.
"Assalamualaikum anak-anak" Bu Nisa selaku wali kelas kami masuk secara tiba-tiba.
"Wa'alaikumussalam Bu" jawab murid di kelas dengan serentak
"Yaelah belum juga mulai ngobrolnya" keluh Zahra dengan nada malas.
"Ntar dulu ngobrolnya" celetuk Bu Nisa yang ternyata mendengar keluhan Zahra.
"Maaf Bu" balas Zahra dengan nada yang sedikit malu karena ucapannya terdengar oleh Bu Nisa.
"Iya nggak apa-apa,, langsung saja ibu kesini cuma mau kasih informasi kemungkinan hari ini kalian tidak akan belajar dengan efektif dikarenakan guru-guru yang akan mengadakan rapat" ujar Bu Nisa.
"Yeeaayy" sorak murid di kelas dengan kompak.
"Dasar kalian, gak belajar malah senang" balas Bu Nisa dengan menggelengkan kepala
"Ya gitu Bu hehe" jawab Oppie cengengesan.
"Ya sudah mungkin itu saja yang bisa ibu sampaikan sekian, Assalamualaikum" ucap bu Nisa seraya pergi meninggalkan ruang kelas.
"Wa'alaikumussalam" jawab seluruh murid.
Setelah Bu Nisa keluar kelas, semua murid sibuk melakukan aktivitasnya masing masing tak terkecuali gue, Zahra dan Oppie.
"Ehh lanjut dong pembahasan kita yang tadi, Sheila duluan" ucap Oppie seraya membuka pembicaraan.
"Tau nggak? Semalam gue mimpiin kak Fariz, di mimpi itu gue bisa akrab sama dia" ucap gue.
"Seriusan? Enak banget lo, gue sampe sekarang belum pernah mimpiin kak Biyan, btw mimpi ketemu orang yang kita suka artinya apaan ya kira-kira?" tanya Zahra dengan penasaran.
"Entahlah, sebuah jawaban atau cobaan, balik lagi hanya tuhan yang tau semuanya" jawab gue.
"Iya sih, lo ada benar nya juga La, oh iya gimana dengan lo?" balas Zahra menatap Oppie.
"Kalo gue sih lagi berusaha buat dm ala-ala minta follback gitu, biar ada bahan juga buat ngomong" jawab Oppie sambil cengar cengir.
"Bagus juga ide lo" timpal gue.
"Mantap! Eh gue punya satu pertanyaan untuk kalian berdua" ucap Zahra serius.
"Apaan?" balas gue dan Oppie kompak.
"Gimana harapan kalian kedepannya untuk kakel idaman kalian masing-masing?" tanya Zahra.
"Kalau gue sih, semoga gue bisa jadi perempuan pertama yang bisa buat dia luluh. Secara lo berdua tau kan seberapa batu nya Kak Fariz, selebihnya gue cuman bisa berdoa yang terbaik buat dia" ujar Sheila sambil menatap ke arah jendela.
"Nah, kalo harapan gue nggak jauh beda sih sama Sheila, secara sifat Kak Naufal sama Kak Fariz beda tipis. Semoga aja gue sama dia benar-benar berjodoh" sambung Oppie.
"Kita kan udah pada jawab nih Ra, gimana dengan lo sendiri?" ucap gue balik nanya ke Zahra.
"Kalo gue sih berharap lebih sama kak Biyan. Pada intinya sejak pertama kali ketemu sama dia, nggak tahu kenapa gue udah yakin banget kalo dia itu jodoh gue. Lapor komandan! Nahkoda yang selama ini saya cari untuk memimpin bahtera cinta saya sudah ditemukan" jawab Zahra penuh kesan berlebihannya.
"Hadeuhh..Zahra Zahra...nggak ada berubahnya ya lo, eh tapi nggak apa-apa lah semoga aja harapan kita semua terkabul, SEMOGA!" kata Oppie dengan sedikit menekankan nada bicaranya.
"Aamiin" ucap kita bertiga dengan penuh harap.
***
Hei yo! jangan lupa vote dan comment gays.
oiya fyi,nnti akan ada beberapa tokoh tambahan yang bertugas untuk menambah keseruan dari cerita ini
see ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
Rasa dan Harapan
Teen Fiction[SUDAH TERBIT & PART MASIH LENGKAP] *** Apa hal yang bisa membuat kamu menjadi seorang pengagum rahasia? Apa alasan kamu bisa bertahan dalam kurun waktu yang lama? Atau apa yang bisa membuatmu menjadi sosok yang bisa dibilang tahan banting? Apa yang...
