Hari kedua di RS, gue udah mulai bosan menatap ruangan yang dekorasinya terlalu monoton ini. Pengen balik kerumah sumpah.
"Ra, keluar yuk. Bosan banget disini" ajak gue ke Zahra yang ditugasin untuk menemani gue hari ini.
Zahra berdecak."Mager ah"
"Tega banget lo ih! ayolah Zahra kakak iparku yang paling cantik" rayu gue dengan muka memelas.
"OGAH" lanjut Zahra sambil menatap layar ponselnya.
Karena Zahra menolak, pada akhirnya gue pun melanjutkan rebahan dengan sejuta kebosanan.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu sontak membuat Gue dan Zahra saling beradu tatap.
"MASUKKK" teriak Zahra dengan sekencang-kencangnya.
Gue menutup telinga dengan kedua tangan."Ribut woi"
Beberapa detik kemudian, masuklah seorang perempuan yang tadi mengetuk pintu sambil membawa parsel buah-buahan.
Karin.
Suasana menjadi senyap seketika, Karin melangkahkan kakinya untuk mendekati tempat tidur gue.
Belum sempat ia tiba di dekat gue, Zahra dengan sigap menahan tangan Karin.
"Mau ngapain lo hah?" tanya Zahra sambil memasang muka sangarnya.
Karin tersenyum tipis."Lo tenang aja, gue kesini cuman mau minta maaf atas kejadian kemarin"
Zahra tertawa mengejek."Apa? kuping gue ga salah nih? seorang Karin mau minta maaf? rencana apa lagi yang ada di pikiran lo?
Harus gue akuin si Zahra kalo nyinyir mulutnya parah banget.
"Gue ga ada rencana apapun, gue kesini murni untuk minta maaf, gue tau perlakuan yang kemarin itu udah salah banget" ujar Karin dengan muka meyakinkan.
Setelah berpikir lama dan mengingat semua perlakuan Karin dari SMA sampai kemarin, dia emang udah jahat banget sih.
Hari ini dia datang buat minta maaf, kayaknya dia udah menyesali semua perbuatannya deh.
"Udah gue maafin" sahut gue seraya tersenyum lebar.
Karin menghela napas ringan."Makasih ya, lo benar-benar cewek yang baik"
"Woi Sheila, lo itu udah sinting apa gimana sih? masa iya lo malah baikin orang yang udah jahat banget ama lo" tegur Zahra dengan tatapan tajam.
"Terus gue harus gimana? harus balas dendam gitu? haduh, dimana-mana kejahatan itu selalu dibalas dengan kebaikan. Kalo lo dijahatin ama orang terus lo juga balik jahatin dia, berarti secara ngga langsung lo itu sama aja dong ama dia, dasar ogeb" jelas gue.
Zahra memangut-mangutkan kepalanya."Iya juga sih, untung gue ama lo orang baik"
Karin menunduk."Gue nyesel banget La"
"Udahlah, santai aja"
"Yaudah, sekarang lo mau gimana Rin? masih mau disini?" ucap Zahra.
Karin menggeleng. "Sebenarnya pengen sih lama-lama disini, tapi mau gimana lagi, kerjaan gue banyak banget"
Gue dan Zahra mengangguk paham.
"Ehmm..ini buah-buahannya mau di simpan dimana?" tanya Karin dengan muka kebingungan.
"Ra, ambil tuh" pinta gue ke Zahra.
Zahra mengambil parsel buah tersebut dengan tatapan curiga."Buah-buahannya ga beracun kan?"
Karin tersenyum getir."Kali ini ga ada kok, gue kan udah tobat"
Gue menggeleng-gelengkan kepala."Su'udzon aja lo Ra"
"Bukan su'udzon Sheila, gue hanya menerka-nerka" pungkas Zahra sambil menaruh buah-buahan di atas nakas.
"Maaf ya Rin, gue hanya antisipasi doang" lanjut Zahra.
Karin mengangguk."Iya gapapa, yaudah kalo gitu gue pamit duluan, cepat sembuh La" kemudian melambaikan tangan sambil berjalan ke luar ruangan.
"Iya makasih" balas gue.
Setelah Karin beranjak pergi, Zahra menarik kursi yang berada tepat di samping tempat tidur.
"Karin kesambet apa ya semalam?" tanya Zahra dengan muka yang tengah berpikir keras.
Gue memukul pelan bahu Zahra."Ckckck, masih aja mikirin dia. Kalo udah tobat bagus dong, apa yang mesti lo pusingin lagi coba"
"Yaa..siapatau dia punya rencana jahat lagi kan dibalik topeng kebaikannya"
"Zahra-Zahra, daritadi su'udzon mulu kerjanya. Jauh-jauh deh ama gue, ntar dosanya keciprat lagi"
Zahra tersentak."Astaghfirullah"
"Ra, tutup pintu kamar gih" ucap gue saat melihat pintu kamar gue di rumah sakit terbuka lebar.
"Gausah, suami gue mau kesini katanya" ujar Zahra sambil memotong buah-buahan.
"Ewh! jijik banget ih" cibir gue sembari mengangkat sudut bibir atas.
Zahra terkekeh pelan."Yeee iri tanda tak mampu"
"Kalo suatu saat gue beneran bersatu ama Kak Fariz, beuhhh gue bakal jadi perempuan paling bahagia se-Indonesia" lanjut gue yang mulai memasuki alam khayal.
Zahra meletakkan pisau di atas piring buah kemudian mengangkat kefua tangannya seperti sedang berdoa. "Membawa amin paling serius seluruh dunia~~"
"Bayangkan betapa~~cantik dan lucunya~~" sahut gue.
"Gemuruh petir ini~disanding rintik-rintik yang gemas~~"
"Eh ngapa jadi sambung lagu kek gini sih"
Zahra menggaruk kepalanya. "Iya yak?"
"Assalamualaikum" salam seseorang yang tengah berada di dalam ruangan.
"Eh abangku zheyeng!" tegur gue saat mendapati Kak Royyan yang baru aja datang.
Kak Royyan menghampiri gue."Gimana keadaannya?"
"Alhamdulillah besok bisa pulang"
"Oh gitu" Kak Royyan memangut-mangutkan kepalanya.
"Kak, gimana kerjaannya?" tanya Zahra.
"Baik kok"
"Jangan ngomong berdua doang ih, gue berasa jadi nyamuk disini huhuhuhu" sahut gue dengan muka cemberut.
"Buruan cari pasangan halal" ledek Kak Royyan dengan sedikit tertawa.
"Aduhh...sekarang pun mau-mau aja kali dihalalin, asalkan sama Kak Fariz" lanjut gue cengengesan.
Kak Royyan memberi tatapan seriusnya."Kamu kenapa bisa se-setia itu sih ama dia? padahal kalo mau dipikir banyak kali cowok diluar sana yang lebih dari Fariz"
"Ga tau juga alasannya kenapa"
"Susah emang kalo udah stuck" sahut Zahra.
Iya Zahra bener banget, daridulu perasaan gue udah stuck banget ama dia, mungkin itu alasan kenapa sampe sekarang gue ga bisa pindah hati ke orang lain.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Gaje bat ga sih?
bener bener lagi dalam pikirin blank
so? maapin ae wkwkwk
KAMU SEDANG MEMBACA
Rasa dan Harapan
أدب المراهقين[SUDAH TERBIT & PART MASIH LENGKAP] *** Apa hal yang bisa membuat kamu menjadi seorang pengagum rahasia? Apa alasan kamu bisa bertahan dalam kurun waktu yang lama? Atau apa yang bisa membuatmu menjadi sosok yang bisa dibilang tahan banting? Apa yang...
