Jangan lupa vote and comment gengs!
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading!
Waktu istirahat telah berakhir, gue pun langsung menyuruh Suster Suci untuk memanggil pasien yang mau check-up hari ini.
"Hari ini pasien kita tersisa satu orang saja, Dok," lapor Suster Suci sambil melihat daftar pasien yang ia pegang.
"Oke, langsung di panggil saja pasien terakhirnya!"
Setelah suster melakukan pemanggilan, pasien yang telah menunggu dari tadi pun masuk.
Pasien terakhir yang akan gue periksa setelah istirahat hari ini adalah seorang wanita paruh baya yang menggunakan setelan baju syar'i berwarna abu-abu, kelihatannya dia orang yang paham agama.
Kurang lebih tiga puluh menit gue melakukan pemeriksaan pada pasien itu, gue pun langsung ke meja kerja disusul dengan dia.
"Sheila, ingat sama ibu tidak?" tanya Ibu itu sembari duduk di hadapan gue.
Gue menggeleng pelan. "Maaf, saya lupa. Ibu siapa, ya?"
"Saya pasien yang setiap tiga bulan sekali ke sini. Masa lupa, sih?"
"Oh, iya, saya ingat. Nama Ibu Aisyah, 'kan?" ucap gue setelah berpikir lumayan lama.
Wanita itu mengangguk pelan. "Kalau kamu masih ingat, waktu itu saya pernah menyuruh kamu manggil saya dengan sebutan—"
"Ibu, biar akrab," sela gue dengan nada yang sedikit ragu.
"Hamdalah, masih diingat. Kamu itu, ya, masa sempat lupain ibu, sih," tuturnya dengan wajah cemberut.
"Maaf, soalnya pasien saya juga banyak banget, Bu. Jadi perlu diingat satu-satu gitu," ucap gue tersenyum tipis.
"Berarti kita harus sering-sering ketemu, dong, biar kamu ingat terus sama ibu."
Mendengar perkataan wanita ini, kok, gue agak sedikit aneh, ya. Tiap ketemu gue muka Ibu ini kelihatan bahagia banget.
"Kok, diam? Kedengaran aneh, ya? Sejujurnya dari awal saya check-up sama kamu, saya itu senang dan merasa nyaman kalau ada di dekat kamu. Selain humble, kamu juga berkepribadian baik. Saya pengen banget, deh, menjadikan kamu sebagai menantu perempuan satu-satunya di keluarga saya," jelas Ibu Aisyah panjang lebar.
DEG!
Bagaimana bisa Ibu ini ingin gue jadi menantunya? Sementara di dalam hati gue, Kak Fariz masih bertakhta.
"Ibu bisa saja bercandanya," balas gue dengan tertawa kecil.
Muka wanita paruh baya itu menjadi masam. "Ibu serius tahu,"
"Saya aminin saja, ya, Bu," lanjut gue yang seketika langsung flashback saat Kak Fariz mengaminkan ucapan Ibu Kantin yang mendoakan gue berjodoh sama dia.
Ibu itu langsung tersenyum lebar mendengar ucapan gue barusan. "Eh, suami ibu 'kan lagi umroh, nanti kalau dia pulang rencananya kita mau mengadakan syukuran gitu. Pokoknya ibu mau kamu datang di acara itu, biar bisa kenal sama anak ibu juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rasa dan Harapan
Teen Fiction[SUDAH TERBIT & PART MASIH LENGKAP] *** Apa hal yang bisa membuat kamu menjadi seorang pengagum rahasia? Apa alasan kamu bisa bertahan dalam kurun waktu yang lama? Atau apa yang bisa membuatmu menjadi sosok yang bisa dibilang tahan banting? Apa yang...
