Extra Part 1

27.8K 2.4K 110
                                        

Hari ini adalah hari pertama gue kembali ke rumah setelah berubah status dari hubungan halu ke hubungan yang halal.

Waktu hanya tersisa tiga hari ke depan buat gue untuk tinggal di sini. Kenapa? Karena sesuai dengan cerita Kak fariz, sejak mendengar dirinya akan dijodohkan dia langsung membeli sebuah rumah dan mengisi semua perlengkapan di dalamnya. Bahkan sejak rumah itu siap dihuni, dia langsung menempati rumah itu ditemani dengan asisten rumah tangga dan Aliyah. Jadi, secara otomatis gue juga harus ikut tinggal di rumah yang telah ditempati Kak Fariz beberapa bulan ini.

"Ma, lihat Kak Fariz, nggak?" tanya gue sambil celingak-celinguk.
Mama berpikir sejenak kemudian berkata. "Tadi, sih, pengen ke kamar kamu katanya. Mungkin sekarang udah di sana."

"APA? KOK, DIBIARIN, SIH, MA?" sahut gue dengan muka panik.

Dari awal gue sudah memutuskan untuk tidak akan membiarkan dia masuk ke kamar pribadi gue. Bahkan untuk istirahat pun gue sudah minta sama dia buat nempatin kamar tamu saja. Dan sekarang dia sudah di kamar gue? Mampus, semua rahasia gue tentang dia selain di secret box akan terbongkar. Fix, malu gue.

Fyi, di sisi kanan lemari pakaian gue terdapat potongan lirik lagu tentang secret admirer dan satu foto dia yang gue ambil dari kejauhan.

"Malu banget, ya? Karena semua quote secret admirer kamu bakalan dibaca sama pemeran utamanya," ledek Mama sembari tertawa pelan.

"Mama, ih, suka gitu," ucap gue seraya berlari menuju kamar.

***

Setibanya di kamar, benar saja tebakan gue. Kak Fariz sedang membaca note-note yang tertempel di dinding kamar gue.

"Kak!" tegur gue yang sekarang tengah berdiri tepat disampingnya sembari menahan semua rasa malu.

"Kau memang manusia tak kasat rasa, biar aku yang mengemban cinta," ucapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Celakanya hanya kaulah yang benar-benar aku tunggu."

"Belum pernah aku jatuh cinta sekeras ini seperti padamu."

"Mungkin aku tak bisa buatmu luluh, namun kau harus tahu bahwa diriku sungguh-sungguh."

Pada potongan lirik terakhir yang ia baca, hanya ekspresi tersenyum yang dikeluarkan oleh raut mukanya. Setelah membaca potongan lirik terakhir, Kak Fariz beralih menatap gue dengan tatapan meminta penjelasan. Sadar akan tatapannya, gue langsung menundukkan pandangan seraya memikirkan ucapan apa yang akan gue keluarkan.

Tidak ada kata lain yang ada di pikiran gue sekarang selain M-A-L-U.

"Kenapa?" tanyanya dengan nada yang pelan.

"'Kan aku udah bilang jangan pernah masuk ke sini. Kok, dilanggar?"

"Justru karena larangan itu kamu buat saya jadi penasaran," jelasnya dengan nada yang santai.

Pikiran gue blank seketika, sudah tidak tahu lagi harus ngomong apa di situasi kayak gini.

"Kamu udah kagum sama saya dari lama, dan saya tahu udah banyak banget tantangan dan cobaan yang kamu lewati. Apa, sih, alasan kamu bertahan selama bertahun-tahun di tengah ketidakpastian?" tanya Kak Fariz seraya duduk di pinggir tempat tidur masih dengan tatapan fokus ke arah gue.

Gue menarik napas panjang. "Sebenarnya, nggak ada alasan untuk aku buat tetap bertahan bertahun-tahun kayak gini. Intinya, kalau udah stuck, ya, emang udah nggak bisa buat pindah ke orang lain lagi."

Kak Fariz menggeleng seperti tak percaya. "Saya nggak nyangka kamu sampai segitunya menyimpan perasaan. Padahal banyak, loh, laki-laki di luar sana, tapi kamu malah stuck sama saya. Nggak capek apa?"

Rasa dan HarapanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang