[7] Menolak Lupa

31.3K 3.7K 273
                                        

"Entah kenapa, saya tidak pernah bosan jika membahas hal-hal yang menyangkut dengan kehidupan anda"


***

Insiden pulang bareng sama kakel idaman, buat gue, Zahra dan Oppie benar-benar sulit untuk melupakan momen itu.

"Ih gila! kalo dipikir kita bertiga keren banget ya bisa pulang bareng sama most wanted di sekolah. Apalagi Kak Fariz yang notabenenya ketua osis paling batu sedunia" bunyi Zahra diiringi gelengan kepala yang masih tak percaya.

"Siapa duluuu, geng penikmat kakel gitu loh" tambah oppie dengan bangga.

"Heumm...kira-kira kejadian kemarin bisa buat kita makin dekat sama mereka nggak ya?" ucap gue sambil berfikir.

"Sepertinya begitu" jawab zahra yang dari tadi sangat optimis.

"Bahas apaan sih? dari tadi gue perhatiin kalian bertiga ngobrolnya excited banget" tanya bendahara kelas bahasa yang ternyata udah dari tadi ngeliatin kita bertiga ngobrol. Namanya Firah.

"Kepo nih Bundahara" ledek Oppie.

"Kasih tau dong, seru nih kayaknya" ucap Firah yang terlihat sangat penasaran akan topik obrolan kita hari ini.

"Kemarin kita tuh dianterin pulang sama Kak Biyan. Satu lagi, gak cuma dia doang yang ada di mobil, Kak Fariz dan Kak Naufal juga" jelas Zahra.

Firah tertawa meremehkan. "Haduh, ini nih efek keseringan ngobrolin mereka di grup penikmat kakel. Kalian jadi orang yang kelewatan banget halu-nya"

"Tadi minta diceritain, giliran udah dikasih tau malah nggak percaya. Gimana sih lo Fir" tukas gue datar.

"Jadi serius nih kalian beneran pulang bareng mereka?" sambung Firah yang terlihat masih ragu.

"Iya! Kalo nggak percaya tanya aja sama Kak Biyan dan kawan-kawannya" jawab Oppie.

Firah mengangguk-anggukan kepalanya. "Fine, karena muka kalian meyakinkan, gue percaya"

"Oiiii! Lagi pada ngomong apaan?" Seperti biasa, Kanaya masuk ke dalam pembicaraan diiringi dengan nada nggak santainya.

"Nay, mereka bertiga habis pulang bareng Kak Biyan dkk" terang Firah yang langsung menceritakan semua yang baru saja kita bicarakan.

"Masa iya sih? kok Biyan nggak cerita ya sama gue?" lanjut Kanaya yang sontak membuat kita kebingungan.

"Hah? Maksud lo nggak pernah cerita, apaan? Lo punya hubungan apa emang sama Kak Biyan?" tanya Zahra yang tiba tiba berlagak seperti seorang wartawan. Ya, Zahra memang orang yang paling sensitif kalo dengar nama Kak Biyan disebut.

"Eh, nggak ada apa-apa kok" jawab Kanaya sambil garuk-garuk kepala.

Setelah beberapa menit selesai ngobrol bel masuk pun berbunyi. Pak Rezky selaku guru ekonomi kelas bahasa pun datang dan langsung memulai pelajaran.

"Anak anak buka buku ekonomi kalian halaman 48, kerjakan tugas Uji Kompetensi yang terdiri dari 10 nomor essay dikumpul hari ini juga. Oh iya, ketua kelas! Kalo semuanya udah pada selesai ngerjain tugas, tolong kumpulkan di meja bapak" jelas Pak Rezky panjang lebar.

"Siap pak! Kalau boleh tau bapak mau kemana?" tanya Ilham, ketua kelas kami.

"Akhir-akhir ini, para guru disibukkan dengan rapat untuk membahas agenda yang akan terjadi di Acara kelulusan kelas 12 nantinya" jawab Pak rezky.

Ilham mengangguk pelan. "Oh gitu pak"

"Iya, bapak ke ruang guru dulu ya. Jangan pada ribut ya, kerjakan tugasya dengan tenang" sambung Pak rezky seraya meninggalkan kelas.

"Gimana caranya Pak Rezky ke ruang guru? Itu kan aplikasi, masa iya dia masuk ke dalam aplikasi how it can?" tanya Elsa teman sekelas gue yang sering memecahkan keheningan kelas.

"RUANG GURU SEKOLAH MARKONAH! BUKAN RUANG GURU APLIKASI" teriak Zahra.

"Owalah, ngomong dong" sambung Elsa cengengesan.

Gue sama anak-anak yang lain hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Elsa.

***

Berhubung pelajaran ekonomi adalah pelajaran terakhir di hari ini, setelah bel pulang berbunyi, gue, Zahra dan Oppie langsung menuju ke ruang BK untuk mengikuti pertemuan kedua PIK-R SMA CAKRAWALA

Di tengah perjalanan kita bertiga berpapasan dengan ketua osis dingin alias kakel idaman gue.

Gue yang tersentak kaget langsung ngucapin

"فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ"

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Potongan surah itu meluncur bebas dari mulut gue saat ngeliat dia. Mendengar ucapan gue, Kak Fariz hanya memberikan senyuman yang gak bisa ditebak artinya diiringi dengan sedikit gelengan kepala.

"Astaga Sheila! Itu suara gede banget sih! Mana ada penghafal Qur'an yang gak tahu ayat itu ya tolong." tegur Oppie.

"Betapa bodohnya diri ini" sahut gue yang baru tersadar.

Zahra terkekeh. "Mana sempat, keburu telat"

Setelah kejadian memalukan itu, kita bertiga langsung masuk ke ruang BK untuk pertemuan PIK-R yang berlangsung selama satu jam.


Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore dan terlihat sekolah masih sangat ramai, karena besok bakalan ada acara HUT Kemerdekaan RI. Persiapan demi persiapan yang tengah dilakukan oleh warga sekolah terlihat jelas di lapangan upacara. Bisa dilihat, yang paling sibuk di antara semuanya adalah seluruh pengurus osis karena kegiatan apapun yang akan dilaksanakan di sekolah akan menjadi tanggung jawab mereka.

Setelah melihat beberapa persiapan buat upacara besok, kita bertiga pun pulang ke rumah masing-masing.


***




Hei yo! gimana dengan chapter ini?comment dibawah ye gays:))

*penasaran dengan kelanjutan ceritanya? sabarr vote aja dulu wkwk

\REMEMBER FOR VOMMENT GAYS/

Thank you💕

Rasa dan HarapanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang