1. namanya Langit Biru

5.8K 785 77
                                        

"Iya, namanya Langit Biru tapi ia menyukai abu-abu."


"Biar seperti hidup saya tanpa Saluna, kelabu."

- L A N G I T B I R U -
Tentang Langit dan Kalimatnya.

Namanya Langit Biru, tapi warna kesukaannya abu-abu. Katanya, "biar sama seperti hidup saya tanpa kamu, kelabu."

Manusia yang selalu tenang dalam situasi apapun. Tidak menyukai hujan tapi sangat suka senja. Paling benci susu namun sangat cinta dengan kopi. Pria manis yang selalu apa adanya, namun terlihat tampan di saat yang bersamaan.

Lucu, kami bersama untuk beberapa bulan terakhir dengan kepribadian yang sangat berbanding terbalik.

Kenalkan aku Saluna, mereka biasa memanggilku Luna. Kata ibu, namaku berasa dari bahasa Spanyol yang artinya matahari terbit. Tentangku, aku menyukai Langit tapi aku tidak menyukai segalanya yang disukai oleh Langit. Mulai dari senja sampai dengan kopi.

Kenapa?
Seperti namaku, aku lebih suka melihat matahari terbit dari pada matahari tenggelam.

Sekarang aku dan kekasihku; Langit, sedang sama-sama perjalanan pulang ke rumah setelah seharian mencari buku tentang ilmu kedokteran-- tentu saja untuk Langit karena ia akan menjadi dokter 2 tahun lagi.

"Luna, kalau saya melamarmu bagaimana?"

Aku mengalihkan pandanganku dari air hujan yang terus-terusan membasahi bagian luar mobil milik Langit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku mengalihkan pandanganku dari air hujan yang terus-terusan membasahi bagian luar mobil milik Langit. "Bagaimana apanya?"

"Kamu terima atau tidak?"
Aku terkekeh, "kamu datang saja ke rumah, temui Ayah juga Ibu setelah itu kamu akan tau jawaban-nya."

Langit diam, begitu pula dengan aku; yang kini kembali memperhatikan air hujan yang masih berlomba-lomba untuk turun ke bumi. Setelah lima menit pria di sampingku masih saja diam tidak mengeluarkan suara yang membuat aku merasa bersalah. Apa jawabanku tadi seolah menolaknya?

Aku rasa tidak. Ya kalau ia menginginkanku, harus minta izin dulu sama yang punya; Ayah dan Ibuku. Langit bukan maling yang mengambil milik orang tanpa meminta izin. Kecuali hatiku, sudah ia ambil dan tidak akan pernah dikembalikan.

"Bagaimana kalau besok?"
Aku tersenyum, "terlalu cepat Langit."

Sekarang ia yang tertawa kecil, "bukan melamarnya, tapi bagaimana kalau besok kita pergi ke pantai untuk melihat senja?"

Sekarang ia yang tertawa kecil, "bukan melamarnya, tapi bagaimana kalau besok kita pergi ke pantai untuk melihat senja?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lang, kamu tau kalau aku tidak suka senja. Kenapa senang sekali mengajak aku untuk melihat senja?"
"Biar kamu suka."
"Aku lebih suka matahari terbit."
"Saya juga suka Saluna."

Aku tersenyum kecil. Langit selalu saja memiliki cara agar aku menuruti apa yang menjadi kemauan-nya. "Yaudah, besok kita melihat senja di Tebing Keraton."

Tangan kiri nya mengusap lembut rambutku, lalu ia membawaku kedalam pelukan-nya. Aku suka di posisi ini; memeluk Langit ketika ia itu sedang menyetir.

"Kamu tinggal di Bandung sudah berapa lama, Lang?"

Langit diam, seperti nya sedang menghitung sudah berapa lama ia tinggal di Kota kembang ini. "Sudah tujuh belas tahun."
"Sebelumnya kamu dimana?"
"Jakarta."
"Kenapa tidak menetap disana?"
"Nanti saya tidak bisa menemukan kamu, Saluna."

- L A N G I T B I R U -

"Kamu tidak langsung pulang?"
"Tidak."
Aku mengerinyit, "kenapa?"
"Saya mau tunggu kamu sampai benar-benar masuk ke dalam rumah."

Kami sama-sama berdiri di depan mobil Langit untuk berbincang sebentar. Lima menit yang lalu aku dan Langit baru saja sampai di halaman rumahku. Sudah biasa jika Langit harus ikut keluar dari mobil ketika mengantarku pulang-- ia bahkan rela mengantarku sampai kamar ketika aku ketiduran di mobil.

"Aku gak akan melenceng kerumah kak Jeffiar kali, Lang!" Aku tertawa saat Langit memutar bolamatanya.

Pria itu melirik ke arah rumah putih besar di samping rumahku; rumah milik keluarga Jeffiar. "Kamu tidak akan melenceng ke rumahnya. Tapi lihat."

Langit mengarahkan dagunya ke pintu pagar rumah putih itu, aku sontak mengikuti arah pandangnya-- ada Jeffiar di sana. Di depan pintu pagar hitam tingginya dengan celana selutut dan kaos oblong warna hitam sedang fokus memainkan ponsel.

Aku terkekeh, "kak Jeffiar jam segini biasa menunggu nasi goreng bang Dul. Itu sebabnya ia ada di luar, Lang."

"Menunggu nasi goreng bang Dul atau menunggu kamu pulang?"
"Nasi goreng, Lang."

Langit mengusap rambutku pelan, lalu mencium tangan-nya sendiri. "Masih pakai shampoo baby?"
"Masih."
"Bagus."
"Kenapa?"
"Kalau shampoo nya ganti nanti saya tidak bisa mencium wangi rambutmu yang seperti ini lagi."

Aku terkekeh. Tapi setelahnya kami sama-sama terdiam; berkelahi dengan pikiran masing-masing. Sejujurnya aku menunggu Langit berpamitan dan segera pulang karena tubuhku rasanya harus diistirahatkan.

"Lang."
"Hm?"
"Kamu inget gak waktu pertama kali kita berbicara satu sama lain?"
"Ingat. Satu hari sebelum Bulan pergi ke Belgia."

Aku mengangguk, "iya. Waktu itu kamu bilang kita seangkatan padahal tidak."

Bukan-nya menjawab, pria berjaket itu malah merangkul tubuhku yang membuat aku mau tidak mau harus sedikit merapatkan diri ke tubuhnya.

"Saya bercanda waktu itu."
"Padahal aku serius."
"Tapi kalau tentang saya mau seriusin kamu itu saya beneran kok."
"Iya, aku percaya untuk saat ini."

Langit mengangkat tangan kirinya dari pundak-ku lalu ia menatapku serius. "Kamu juga harus percaya untuk kedepannya."
"Kenapa harus?"
"Karena saya serius."
"Seserius apa?"

Lima detik Langit memilih diam, "seserius bumi mencintai Langit nya."
"Memang bagaimana cara bumi mencintai Langit nya?"
"Walaupun berjarak, diam-diam bumi menyimpan rasa kepada Langit."
"Tau dari mana?"
"Sudah ada buktinya, Luna."
"Mana?"
"Ketika Langit menuruni hujan, bumi tidak pernah marah atau membalas dendam kepada Langit. Itu karena bumi tulus, tidak berharap apapun tentang rasa yang dimiliki Langit untuk nya."

— L A N G I T B I R U —

Langit Biru, KDY.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang