chapter 23 : rumah yang penghuninya pergi.
"entah untuk sementara, atau selamanya."
"yang namanya pergi, pasti akan kembali. tapi dengan cara yang mungkin berbeda dari ekspentasi."
- L A N G I T B I R U -
Sudah satu minggu aku kembali ke kehidupanku. Ragaku ada, tapi hatiku seolah dibawa pergi. Walaupun belum bisa jalan seperti biasa, aku tetap memaksakan diri untuk kembali kepada aktivitasku. Tidak mau terlalu lama berdiam diri dan membiarkan tugasku menumpuk begitu saja.
"Angkasa temui ini di kamar Langit." Mas Bulan menyodorkan satu flashdisk ke hadapanku. "Ada suratnya juga, dibaca aja." lanjutnya lalu kembali berjalan hendak meninggalkan kamarku.
"Mas," panggilku yang menahan pergerakannya. Dia memutar balik tubuhnya, "ini... apa?"
Mas Bulan mengangkat kedua bahunya, "tidak tau, coba dengarkan sendiri. Mas atau Angkasa belum ada yang mendengar, sebab itu— di kertasnya ada tulisan khusus Saluna." katanya.
Aku mengangguk mengerti. Kami dididik oleh Ibu juga Ayah untuk saling menghargai dan sopan santun yang sangat tinggi. Itulah alasannya kenapa Mas Bulan tidak mau mendengarkan apa yang menjadi isi flashdisk ini.
Setelah Mas Bulan keluar dari kamarku dan izin untuk menemani temannya untuk mencari lensa kamera. Aku memandangi flashdisk berwarna abu yang masih berada di atas meja.
Aku takut, kalau isinya adalah kalimat perpisahan dari Langit. Aku benar-benar belum siap. Aku juga tidak tau apa yang harus aku lakukan kalau tidak ada dia. Tanpa disadari, aku sudah terbiasa menggantungkan hidup kepada Langit.
Berbicara tentang Langit... aku juga tidak tau kenapa sampai detik ini ia tidak mau membuka matanya barang beberapa detik. Satu minggu setelah diizinkan dokter keluar dari rumah sakit aku berjuang mati-matian melawan pikiran negatifku tentangnya.
Dia pasti bangun, Luna. Kataku meyakinkan diri sendiri. Setiap hari, jam, menit, detik ataupun di setiap hembusan napasku.
Pelan-pelan aku membuka suratnya, membaca dengan seksama.
hai, saluna?
iya, ini pasti kamu. tapi yang menemui benda ini pasti angkasa atau mama. benar?
Aku mengangguk tanpa kusadari. Dia pandai menebak, tapi hidupnya tidak bisa ditebak olehku.
surat dan flashdisk ini satu paket, luna. seperti saya dan kamu. saya letakkan di dalam kotak yang di bagian tutupnya ada namamu. mama ataupun angkasa pasti tidak mau membukanya.
saluna, sudah lama rasanya, tapi—
apa kabar?
kamu pasti baik-baik saja. saya percaya kalau semesta akan menjaga gadis pintar sepertimu.
luna, untuk saat ini tolong percaya sama saya. karena saya hanya mencintaimu, kalau tidak percaya coba saja dengarkan suara di dalam flashdisk nya. ada beberapa lagu, juga ada beberapa kalimat yang saya rangkai khusus untukmu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Biru, KDY.
FanfictionNCT DOYOUNG SEMESTA Langit, kalau aku mencintaimu itu artinya aku sudah paham konsekuensi tentang rasamu kepadaku. Aku juga sudah siap patah untuk yang pertama kalinya. written by: buminyakala. start: 8 September 2019. end: -
